Ramadlan Jawaban Kegalauan - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Ramadlan Jawaban Kegalauan

2 months ago
825

Ketika usia Rasulullah Saw telah mendekati 40 tahun, beliau lebih senang mengasingkan diri. Hal itu beliau lakukan setelah melalui perenungan yang lama dan telah terjadi jurang pemisah antara pemikiran beliau dan kaumnya. Kegelisahan akan keadaan semakin memuncak  atas kegelisahan nabi atas kejahilan masyarakat mekkah yang menyembah patung, saling mendzalim, rusak tatanan sosialnya, hancur moralnya. Tapi kegelisahan beliau  belum menemukan jawaban, ini yang mendorong beliau untuk mencari jawabannya menjalankan peninggalan millah Ibrahim yang tersisa. Dengan membawa bekal roti dari gandum dan air, beliau pergi ke Gua Hira’ di Jabal Nur, yang jaraknya 2 mil dari kota Mekkah, suatu gua yang tidak terlalu besar, yang panjangnya 4 hasta, lebarnya 1,75 hasta dengan ukuran Zira’ al-hadid (hasta ukuran besi). Disana beliau menyendiri dan beribadah, bermalam-malam beliau lakukan sambil berderma dengan bekalnya bagi orang yang dijumpainya, dipilihnya bulan istimewa untuk melakukan semua itu, yaitu Ramadlan.

Jamise Syar'i

Keluarga beliau terkadang menyertai ke sana. Selama bulan Ramadlan beliau berada di gua ini, dan tidak lupa memberikan makanan kepada setiap orang yang miskin yang juga dating ke sana. Beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah, memikirkan keagungan alam di sekitarnya dan kekuatan tidak terhingga di balik alam. Beliau tidak pernah merasa puas melihat keyakinan umatnya yang penuh dengan kemusyrikan dan segala persepsi mereka yang tidak lepas dari segala takhayul. Sementara itu, di hadapan beliau juga tidak ada jalan yang jelas yang mempunyai batasan-batasan tertentu yang bisa menghantarkan kepada keridhoan dan kepuasan hati beliau.

Pilihan beliau untuk mengasingkan diri termasuk satu sisi dari ketentuan Allah SWT atas diri beliau, sebagai langkah persiapan untuk menerima urusan besar yang sedang  ditunggunya. Ruh manusia mana pun yang realitas kehidupannya akan disusupi suatu pengaruh dan dibawa ke arah lain, maka ruh itu harus dibuat kosong dan mengasingkan diri untuk beberapa saat, dipisahkan dari berbagai kesibukan duniawi dan gejolak kehidupan serta kebisingan manusia yang membuatnya sibuk  pada urusan kehidupan.

Tatkala usia beliau genap 40 tahun yang merupakan awal usia kematangan tanda-tanda nubuwwah sudah mulai nampak dan mengemuka. Di antaranya, adanya sebuah batu di Mekkah yang mengucapkan salam kepada beliau, terjadinya ru’ya shodiqoh (mimpi yang benar) seperti datangnya fajar yang menyingsing. Hal ini berlangsung selama eman bulan dan masa kenabian berlangsung selama 23 tahun. Ketika memasuki tahun ketiga dari pengasingan dirinya dari Gua Hira’, tepatnya di bulan Ramadlan, Allah menghendaki rahmat-Nya dilimpahkan kepada penduduk bumi dengan memberikan kemuliaan pada beliau, berupa pengangkatan sebagai Nabi dan menurunkan Jibril  kepadanya dengan membawa beberapa ayat al-Qur’an.

Terdapat perbedaan pendapat yang cukup signifikan di antara ahli sejarah dalam menetapkan awal bulan Allah SWT memuliakan beliau dengan kenabian dan menurunkan wahyu. Ada yang menyatakan bulan Rabiul awwal, ada juga yang menyatakan bulan Ramadlan. Pendapat yang kuat adalah pendapat yang kedua, yaitu bulan Ramdhan, yang dikuatkan pula oleh firman Allah SWT:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…”  (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Ramadlan dipilih oleh Allah sebagai syahrul Quran (bulan Al-Quran). Diturunkannya Al-Quran pada bulan Ramadlan menjadi bukti nyata atas kemuliaan dan keutamaan bulan Ramadlan. Ramadlan menjadi momentum memperbaiki diri, mencari solusi dan Ramadlan menjadi jawaban atas kegalauan, seperti halnya Nabi Saw yang menyendiri, mencari solusi atas kegelisahannya melihat tingkah laku masyarakatt pada saat itu dan Allah memberikan jawabannya saat Ramadlan. Maka Nabi Muhammad Saw dalam banyak hadits mengisyaratkan agar Ramdlan jangan  dibiarkan berlalu begitu saja, ada peningkatan amal sholeh yang lebih dari pada bulan-bulan yang lainnya.

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

bahwa Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma berkata, “Nabi ﷺ adalah orang yang paling lembut (dermawan) dalam segala kebaikan. Dan kelembutan beliau yang paling baik adalah saat bulan Ramadan ketika Jibril ‘alaihissalam datang menemui beliau. Dan Jibril ‘alaihissalam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadan (untuk membacakan Al-Qur’an) hingga Al-Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi ﷺ. Apabila Jibril ‘alaihissalam datang menemui beliau, maka beliau adalah orang yang paling lembut dalam segala kebaikan melebihi lembutnya angin yang berhembus”. HR. Bukhori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *