Ibu-ibu Akhir Zaman - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Ibu-ibu Akhir Zaman

3 months ago
9645

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ … وَفُشُوَّ التِّجَارَةِ، حَتَّى تُعِينَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا عَلَى التِّجَارَةِ

Sungguh di hadapan kiamat akan …tersebar perdagangan sehingga kaum perempuan membantu suaminya berdagang (Musnad Ahmad musnad ‘Abdillah ibn Mas’ud no. 3870).

Salah satu potret perempuan akhir zaman yang disabdakan Nabi saw adalah kaum perempuan yang terbawa arus sibuk berdagang membantu suaminya karena maraknya perdagangan. Disebut “terbawa arus” karena Nabi saw menyebutkan dalam hadits di atas sebagai akibat saja, penyebab utamanya adalah perdagangannya itu sendiri yang sudah fusyuw; menyebar, semarak, maju sangat cepat, sangat menyibukkan, sehingga kaum lelaki saja tidak cukup untuk mengurus bisnis yang semakin sibuk saja setiap harinya. Kaum perempuan jadi terseret arus dan terpaksa terlibat untuk membantu suaminya. Atau maraknya dunia bisnis membuat kaum perempuan tergiur untuk ikut terjun juga berdagang dan bekerja untuk semakin memenuhi kebutuhan mereka pada materi.

Jamise Syar'i

Dalam konteks pergeseran nilai menjelang kiamat, hal ini menunjukkan kesibukan duniawi yang sangat tinggi sehingga menjebak siapapun untuk terpenjara di dalam kesibukan duniawinya. Bahkan kaum perempuan yang secara tabi’at tidak diciptakan untuk itu pun jadi terpaksa terbawa arus dan banyak yang tidak bisa mengelaknya.

Jika dikaitkan dengan hadits penghuni neraka yang paling banyak adalah perempuan yang kufur pada kebaikan suaminya, jelas ada korelasinya. Keterlibatan kaum perempuan dalam dunia dagang, bisnis, dan kerja menjadikan mereka mudah saja untuk merendahkan suaminya. Fakta perceraian hari ini yang selalu lebih banyak diakibatkan gugat cerai istri dan rata-rata dari kaum istri yang sudah mapan secara ekonomi menjadi bukti adanya korelasi di antara dua hadits tersebut.

Jika dikaitkan dengan hadits hamba sahaya yang melahirkan majikannya, sibuknya kaum perempuan dalam dunia kerja telah menyebabkan mereka menghilangkan peran ibu sebagai pendidik dan hanya tinggal peran pelayannya saja yang sebatas memenuhi kebutuhan materi dan finansial anak-anaknya. Dampaknya anak-anak tidak menganggap ibu mereka sebagai ibu, melainkan sebagai karyawan yang memenuhi kebutuhan materi dan finansial semata.

Ini semua tidak berarti perempuan bekerja hukumnya haram mutlak. Jika maslahatnya nyata dan mafsadatnya bisa dihilangkan, maka bekerja bagi kaum perempuan hukumnya mubah. Para shahabat perempuan juga ada yang bekerja dan berdagang, tetapi mereka tidak tergerus akhlaqnya dan meninggalkan tugas-tugas pokoknya sebagai ibu. Hanya memang kenyataan hari ini sangat mengkhawatirkan. Pembelajaran daring yang sudah dijalankan selama setahun lebih tidak meningkatkan kualitas pendidikan di rumah dengan ibu sebagai gurunya. Yang ada malah ibu-ibu lebih banyak yang stress karena mereka sudah kehilangan ruh pendidiknya. Kesibukan terhadap dunia telah lama menghilangkan peran mereka sebagai pendidik bagi anak-anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *