Bijak Berumah Tangga - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Bijak Berumah Tangga

3 months ago
9650

Berita yang cukup menggemparkan publik tentang seorang anak dari penceramah terkenal Indonesia yang memposting sebuah tulisan mengungkapkan isi hati di akun medsos miliknya perihal polemik keluarga. Lebih tepatnya, problem yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Alasan ia melakukan hal tersebut karena merasa putus asa. Sudah berbagai cara dilakukannya, namun tetap belum menemukan solusi. Hingga akhirnya ia memilih untuk mencurahkan isi hati di media sosial. Pada akhirnya, entah solusi yang ditemukan atau malah memperkeruh keadaan (?). Tulisan ini bukan untuk mengomentari pelaku atas perbuatannya. Melainkan, penulis ingin mengajak para pembaca untuk mengambil hikmah di balik sebuah kejadian.

Jamise Syar'i

Semua komponen yang terdapat dalam sebuah keluarga, perlu memperhatikan kewajiban dan haknya masing-masing. Ayah sadar betul dengan kewajiban dan haknya, begitu pula dengan ibu dan anak yang sudah baligh. Maka, kiranya begitulah bentuk ikhtiar dalam merawat kerukunan keluarga. Ketika setiap komponen keluarga menjalankan kewajibannya, maka otomatis akan mendapatkan haknya.

Sebelum mendapatkan hak, maka tunaikan terlebih dahulu kewajiban. Sebagai seorang anak, hukumnya wajib untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, menaatinya selama dalam ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dilarang membentak keduanya, berkata dengan perkataan yang baik, tidak menyombongkan diri di hadapan keduanya, pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, serta senantiasa mendoakan keduanya. (QS. Al-Isra` ayat 23-24; QS. Luqman ayat 15).

Selain dari itu, ada hal yang juga tidak boleh luput dari perhatian seorang anak. Dalam menyikapi suatu permasalahan yang terjadi di antara kedua orang tua. Semisal, tidak mengumbar aib keduanya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ». رواه ابن ماجه

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Ibn Majah, Bab As-Sitru ‘Alal-Mu`min wa daf’ul-Hudud, No. 2544)

Permisalan yang Allah sebutkan dalam Alquran mengenai gambaran antara suami istri itu seperti layaknya pakaian.

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

“Istri adalah pakaian bagi suami, dan suami adalah pakaian bagi istri.” (Q.S. al-Baqarah: 187)

Ketika konsep suami istri sudah dibangun atas dasar saling menutupi kekurangan satu sama lain. Maka, sebagai anak seyogyanya berperan dalam hal yang sama. Tidak lantas menjadi penentang dalam konsep “saling menutupi aib” tersebut. Terlebih adanya hadis Ibn Majah di atas, menunjukkan kewajiban setiap muslim untuk menutupi aib saudara semuslimnya.

Dan tempat yang tepat untuk meluapkan isi hati itu bukan di media sosial. Melainkan di kala dahi bersatu dengan tanah dan ketujuh tulang menjadi penopangnya (baca: Sujud). Berbisik lirih, penuh khusyu, mohon ampun, dan mohonkan petunjuk. Di kala solusi belum juga hadir, iringi setiap langkah dengan sabar dan shalat (QS. Al Baqarah: 153). Maksimalkan ikhtiar, sekalipun dirasa sudah berbagai cara dilalui. Yakini, pasti akan ada jalan keluarnya.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikannya jalan keluar.” (Q.S. at-Thalaq: 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *