Peran Ayah sebagai Pendidik - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Peran Ayah sebagai Pendidik

1 month ago
54

Ayah memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga. Bukan hanya sebagai pemimpin keluarga dan pencari nafkah. Lebih dari itu, bahwa peran penting seorang ayah adalah dapat menghantarkan keluarganya ke surga.

Seorang ibu diidentikkan sebagai madrasah atau sekolah pertama bagi anak-anaknya, namun bukan berarti peran ini hanya menjadi tanggung jawabnya. Layaknya sebuah sekolah, peran ayah sebagai seorang pendidik sangatlah besar. Ayah ibarat perancang kurikulum, sedangkan ibu adalah guru pelaksananya.

Jamise Syar'i

Tanggung jawab ayah sebagai seorang pemimpin akan dipertanyakan oleh Allah, oleh karenanya dalam menjalankan tanggung jawab ini seorang ayah harus pandai memposisikan diri sebagai pendidik demi mencetak generasi penerus risalah dakwah. Rasulullah saw bersabda:

عن ابن عمرعن النبىصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَانه قَالَأَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رعيته وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ ألا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Dari Ibn umar r.a dari Nabi saw sesungguhnya beliau bersabda: “Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpion atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istrri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggung jawabnya.  Seorang pembantu rumah tangga adalah pemimpin bagi harta majikannya dan akan ditanya perihal harta yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) atas apa yang dipimpinnya”. (HR.Muslim)

Al-Qur’an sendiri menyebutkan beberapa kisah tentang ayah dengan anaknya. Bahkan terdapat 14 dialog antara ayah dan anaknya. Kisah-kisah teladan ayah dengan anaknya yang tertulis dalam al-Qur’an; kisah Nabi Ibrahim, kisah Nabi Nuh, kisah Nabi Ya’qub dan kisah seorang shaleh ahli hikmah yaitu Luqmanul Hakim. Di sini jelas menggambarkan bahwa ayah adalah pondasi utama pendidikan keluarga. Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim yang mencetak generasi keluarga penuh ketawakalan dan kesabaran. Sebagaimana kita ketahui kisah Siti Hajar dan anaknya Ismail yang ditinggalkan di tengah padang pasir, ini semua dilalui dengan penuh kekuatan sebagai buah dari seorang pendidik yang hebat yaitu sosok ayah. Bahkan untuk seorang anak perempuanpun, peran ayah sebagai pendidik digambarkan Al-Qur’an dalam kisah Nabi Zakaria yang berhasil mendidik dan membesarkan Maryam menjadi seorang wanita shalihah dan penuh ketawakalan kepada Allah.

Sampai ajal menjemput, keterlibatan ayah dalam mendidik anak sangatlah berpengaruh terutama dalam mengajarkan nilai-nilai ketuhidan, ibadah, dan akhlak karimah. Allah swt berfirman:

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ


Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Q.S Al-baqarah : 133).

Bila kita melihat realita zaman yang semakin berkembang, peran ayah sebagai pendidik sudah dilupakan. Begitu banyak ayah pasif, bisu, yang hanya sibuk mencari nafkah, lupa dan lalai akan tanggung jawab mendidik anaknya yang merupakan aset dunia akhirat yang akan menyelamatkannya di hari akhir nanti.

Oleh karenanya, sesibuk apapun peran ayah sebagai pencari nafkah, luangkanlah waktu untuk mendidik anakmu, kembalilah kepada tuntunan Allah agar kita tidak terlalaikan dengan pencapaian nafsu duniawi.

Pentingnya kehadiran ayah sebagai pendidik berperan dalam bentuk accessibility, ini tergambar dalam kisah Nabi Ya’kub yang hadir memberi solusi ketika anaknya yaitu Nabi Yusuf dilanda kegelisahan menceritakan mimpi yang dialaminya. Allah swt berfirman:

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سَٰجِدِينَ

قَالَ يَٰبُنَىَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلَىٰٓ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا۟ لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لِلْإِنسَٰنِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku”. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. (Q.S Yusuf : 4-5)

Lihatlah betapa luar biasanya peran ayah, seorang anak menceritakan mimpinya kepada ayahnya bukan kepada ibunya. Ini menunjukan betapa pentingnya peran ayah bagi anaknya.

Peran ayah sebagai pendidik juga bukan hanya sebagai panutan dan pemberi solusi. Akan tetapi ayahpun hadir sebagai seorang yang memberi nasehat untuk anaknya, nasehat yang bukan hanya dengan keras melarang sesuatu, atau seorang pemberi nasehat yang arogan yang harus dituruti oleh anaknya. Ayah adalah pendidik dan pemberi nasehat, baik dengan cara tutur kata bijak, dengan sepenuh hati maupun dengan pemahaman dan ilmu. Sebagaimana Luqman yang menasehati anaknya dengan penuh hikmah dan rasa syukur.  Hal ini sesuai dengan firman Allah:

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَٰنَ ٱلْحِكْمَةَ أَنِ ٱشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Q.S Luqman : 12-13)           

Wa-Llahu ‘alam bish-shawab.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *