

-
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ, ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا. رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Sa’id al-Khudri—semoga Allah meridlainya—ia berkata: Rasulullah—shalawat dan salam untuknya—bersabda: “Apabila salah seorang di antaramu mendatangi istrinya (jima’) kemudian ingin mengulangi lagi, maka hendaklah ia berwudlu di antaranya satu kali wudlu.” Muslim meriwayatkannya.
-
زَادَ الْحَاكِمُ: فَإِنَّهُ أَنْشَطُ لِلْعَوْدِ
Dalam riwayat al-Hakim ada tambahan: “Karena itu lebih menyegarkan untuk mengulangi kembali.”
Takhrij Hadits
Hadits ini menurut al-Baihaqi, dinyatakan dla’if oleh Imam as-Syafi’i. Tetapi menurutnya, kemungkinan besar itu tidak ditujukan pada hadits Abu Sa’id al-Khudri yang ini, melainkan hadits ‘Umar dan Ibn ‘Umar yang memang kedua-duanya dla’if. Sementara hadits Abu Sa’id al-Khudri yang ini jelas shahihnya (as-Sunan al-Kubra lil-Baihaqi 7 : 192 bab al-junub yatawadldla` kullama arada ityan wahidah au aradal-‘aud).
Syarah Ijmali
Perintah wudlu untuk mengulangi jima’ dalam hadits ini ada ‘illatnya, yakni “lebih menyegarkan”. Ini menunjukkan bahwa perintahnya tidak sampai wajib, hanya mustahab (dianjurkan).
Perintah wudlu yang dimaksud hadits di atas, dijelaskan oleh ‘Ashim al-Ahwal seperti wudlu untuk shalat. Te
عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ قَالَ: إِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ يَعْنِي الَّذِي يُجَامِعُ ثُمَّ يَعُودُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ
Dari ‘Ashim al-Ahwal, ia berkata: “Apabila seseorang di antaramu hendak mengulang (jima’), maka hendaklah ia wudlu seperti wudlu untuk shalat, yaitu orang yang jima’ kemudian mengulangi jima’nya sebelum mandi.” (Shahih Ibn Khuzaimah kitab bab dzikrud-dalil ‘ala annal-wudlu lil-mu’awadah lil-jima’ kal-wudlu lis-shalat no. 220).
Dalam penjelasan ‘Ashim di atas juga diketahui bahwa mengulangi jima’ di sini berlaku selama belum mandi. Atau disebutkan oleh Imam al-Baihaqi, bagi mereka yang junub dan belum mandi. Artinya, baik itu dalam waktu yang sama untuk istri yang sama, atau waktu yang berlainan dengan istri yang lainnya.
Di samping anjuran wudlu untuk mengulangi jima’ ini, ada juga anjuran mandi. Bahkan mandi disebutkan Nabi saw sebagai cara yang lebih bersih dan suci.
عَنْ أَبِى رَافِعٍ أَنَّ النَّبِىَّ طَافَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى نِسَائِهِ يَغْتَسِلُ عِنْدَ هَذِهِ وَعِنْدَ هَذِهِ. قَالَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ تَجْعَلُهُ غُسْلاً وَاحِدًا قَالَ هَذَا أَزْكَى وَأَطْيَبُ وَأَطْهَرُ
Dari Abu Rafi’, bahwasanya Nabi saw berkeliling pada istri-istrinya dalam satu hari. Beliau mandi di istri yang ini dan mandi lagi di istri yang itu. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah tidak cukup mandi disatukalikan saja?” Beliau menjawab: “Yang seperti ini lebih bersih, lebih segar, dan lebih suci.” (Sunan Abi Dawud kitab at-thaharah bab al-wudlu liman arada an ya’uda no. 219; Sunan Ibn Majah kitab at-thaharah bab fi man yaghtasilu ‘inda kulli wahidah ghuslan no. 590. Al-Albani: Hadits hasan).
Hadits Abu Rafi’ ini tidak bertentangan dengan hadits Anas berikut, sebab dua-duanya tidak dla’if.
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ طَافَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى نِسَائِهِ فِى غُسْلٍ وَاحِدٍ
Dari Anas: “Sesungguhnya Rasulullah saw berkeliling dalam satu hari ke istri-istrinya dengan satu mandi.” (Sunan Abi Dawud kitab at-thaharah bab al-wudlu liman arada an ya’uda no. 218).
Abu Dawud memang menilai hadits Anas ini lebih kuat daripada hadits Abu Rafi’ di atas. Tetapi Imam an-Nawawi menilai, dua hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi saw pernah melakukan kedua-duanya.
Akan tetapi mengingat hadits Anas dan Abu Rafi’ di atas hanya bersifat informasi fi’li (perbuatan) Nabi saw, sementara hadits Abu Sa’id di atas bentuknya qauli (sabda Nabi saw langsung), maka dari segi kekuatan anjuran, lebih dianjurkan wudlu dalam hal untuk mengulangi jima’ ini. Meski tentunya mandi lebih baik. Tetapi yang pokok dari anjuran Nabi saw dalam hal ini adalah wudlu.
-
وَلِلْأَرْبَعَةِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ يَنَامُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَمَسَّ مَاءً. وَهُوَ مَعْلُولٌ
Dalam riwayat Empat Imam (Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa`i, dan Ibn Majah) dari ‘Aisyah—semoga Allah meridlainya—ia berkata: “Rasulullah—shalawat dan salam untuknya—tidur dalam keadaan junub tanpa menyentuh air terlebih dahulu.” Tetapi itu riwayat ma’lul (ada cacatnya).
Takhrij Hadits
Hadits ma’lul menurut Ibn Hajar adalah hadits yang tampaknya shahih tetapi sebenarnya ada cacat. Maka hadits yang dinilai dla’if dari sejak awal tidak masuk kategori ma’lul. Yang ma’lul itu yang asalnya dinilai shahih/tsiqat tetapi ternyata munqathi’, majhul, atau dla’if (an-Nukat ‘ala Ibnis-Shalah 2 : 710).
Letak ‘illat dalam hadits di atas itu sendiri ada pada sanad Abu Ishaq, dari al-Aswad, dari ‘Aisyah. Selain Abu Ishaq, yang meriwayatkan hadits semacam ini dari al-Aswad-‘Aisyah adalah Ibrahim dan ‘Abdurrahman ibn al-Aswad. Di samping itu juga ada ‘Urwah dan Abu Salamah dari ‘Aisyah. Akan tetapi ketiga sanad terakhir yang sama-sama menerima dari ‘Aisyah ini, bahkan dari al-Aswad juga, tidak ada satu pun yang menyatakan bahwa Nabi saw tidur dalam keadaan junub dan dalam keadaan tidak menyentuh air, melainkan Nabi saw selalu menyempatkan wudlu sebelum tidur, bahkan sebelum makan dan minum. Dengan demikian bisa dipastikan bahwa Abu Ishaq telah wahm (keliru) dalam hal periwayatannya dari al-Aswad dari ‘Aisyah. Sanad-sanad yang disebutkan terakhir dan berbeda dari Abu Ishaq tersebut adalah sebagai berikut:
Sanad Ibrahim dari al-Aswad dari ‘Aisyah:
عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنِ الأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ إِذَا كَانَ جُنُبًا فَأَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَنَامَ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ
Dari Ibrahim dari al-Aswad dari ‘Aisyah, ia berkata: “Rasulullah saw apabila beliau junub lalu hendak makan atau minum, beliau berwudlu terlebih dahulu seperti wudlu untuk shalat.” (Shahih Muslim kitab al-haidl bab jawazi naumil-junub wa istihbabil-wudlu lahu no. 726)
Sanad ‘Abdurrahman ibn al-Aswad dari ayahnya/al-Aswad dari ‘Aisyah:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْأَسْوَدِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ يُجْنِبُ مِنَ اللَّيْلِ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ حَتَّى يُصْبِحَ وَلَا يَمَسُّ مَاءً
Dari ‘Abdurrahman ibn al-Aswad, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, ia berkata: “Rasulullah saw junub pada malam hari, kemudian beliau berwudlu seperti wudlu untuk shalat. Sampai shubuh beliau tidak menyentuh air [mandi] (Musnad Ahmad bab musnad as-Shiddiqah ‘Aisyah binti as-Shiddiq no. 25879)
Sanad Abu Salamah dari ‘Aisyah:
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ أَكَانَ النَّبِيُّ يَرْقُدُ وَهُوَ جُنُبٌ قَالَتْ نَعَمْ وَيَتَوَضَّأُ
Dari Abu Salamah, aku bertanya kepada ‘Aisyah: “Apakah Nabi saw tidur dalam keadaan junub?” ‘Aisyah menjawab: “Ya dan beliau berwudlu dahulu.” (Shahih al-Bukhari kitab al-ghusli bab kainunatil-junub fil-bait idza tawadldla` gabla an yaghtasila no. 286)
عَنْ أَبِى سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ
Dari Abu Salamah ibn ‘Abdirrahman dari ‘Aisyah: “Sesungguhnya Rasulullah saw apabila akan tidur ketika ia junub, beliau berwudlu dahulu seperti wudlu untuk shalat sebelum tidur.” (Shahih Muslim kitab al-haidl bab jawazi naumil-junub wa istihbabil-wudlu lahu no. 725)
Sanad ‘Urwah dari ‘Aisyah:
عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ فَرْجَهُ وَتَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ
Dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata: “Nabi saw apabila akan tidur ketika sedang junub, selalu mencuci farjinya terlebih dahulu dan berwudlu seperti wudlu untuk shalat.” (Shahih al-Bukhari kitab al-ghusli bab al-junub yatawadldla`u tsumma yanamu no. 288)
Meski demikian tetap ada yang menilai shahih sanad Abu Ishaq dari al-Aswad dari ‘Aisyah di atas (yang menyatakan Nabi saw tidur ketika junub tanpa menyentuh air). Para ulama tersebut adalah al-Baihaqi, al-Hakim dan ad-Daraquthni (at-Talkhishul-Habir). Syaikh al-Albani juga sama menilai shahih sanad di atas (Shahih Sunan Abi Dawud dan at-Tirmidzi, as-Silsilah as-Shahihah no. 1804).
Jika demikian adanya, maka dua hadits ini harus dikompromikan (thariqatul-jam’i). Sebab tidak mungkin dari satu sumber yang sama (‘Aisyah) ada dua pernyataan yang bertentangan. Hadits yang menyatakan bahwa Nabi saw tidak menyentuh air, menurut Ibn Hajar, mesti dipahami dalam pengertian Nabi saw tidak mandi, bukan dalam pengertian Nabi saw tidak wudlu. Sebab hadits-hadits yang menyebutkan Nabi saw selalu menyempatkan wudlu setelah junub sebelum melakukan aktivitas lainnya, statusnya lebih shahih. Dan ini dikuatkan dengan hadits riwayat Ahmad sebagaimana telah dikutip di atas, yang menjelaskan “tidak menyentuh air” dalam makna tidak mandi karena faktanya Nabi saw selalu menyempatkan berwudlu (at-Talkhishul-Habir).
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْأَسْوَدِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ يُجْنِبُ مِنَ اللَّيْلِ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ حَتَّى يُصْبِحَ وَلَا يَمَسُّ مَاءً
Dari ‘Abdurrahman ibn al-Aswad, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, ia berkata: “Rasulullah saw junub pada malam hari, kemudian beliau berwudlu seperti wudlu untuk shalat. Sampai shubuh beliau tidak menyentuh air [mandi] (Musnad Ahmad bab musnad as-Shiddiqah ‘Aisyah binti as-Shiddiq no. 25879)
Dari riwayat-riwayat di atas diketahui bahwa sunnah wudlu bagi yang junub dan akan tidur, makan, atau aktivitas lainnya sebelum mandi, adalah wudlu seperti wudlu untuk shalat, juga mencuci dzakarnya.
Wal-‘Llahu a’lam bis-shawab.













