Tayammum untuk Orang Yang Terluka - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Tayammum untuk Orang Yang Terluka

9 months ago
212
  1. عَنْ عَلِيٍّ  قَالَ: اِنْكَسَرَتْ إِحْدَى زَنْدَيَّ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ  فَأَمَرَنِي أَنْ أَمْسَحَ عَلَى اَلْجَبَائِرِ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ بِسَنَدٍ وَاهٍ جِدًّا

Dari ‘Ali—semoga Allah meridlainya—ia berkata: “Salah satu pergelangan tangan saya patah. Aku bertanya kepada Rasulullah saw. Beliau memerintahku untuk mengusap pada balutan luka.” Ibn Majah meriwayatkannya dengan sanad yang lemah sekali.

  1. عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فِي الرَّجُلِ الَّذِي شُجَّ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ: إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِبَ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً, ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ فِيهِ ضَعْفٌ وَفِيهِ اِخْتِلَافٌ عَلَى رُوَاتِهِ

Dari Jabir—semoga Allah meridlai mereka berdua—tentang seseorang yang terluka lalu mandi dan meninggal dunia (Nabi—shalawat dan salam untuknya—bersabda): “Sesungguhnya cukup baginya bertayammum dan membalut pada lukanya dengan sobekan kain, kemudian ia mengusap atasnya dan mencuci semua tubuhnya.” Abu Dawud meriwayatkannya dengan sanad yang ada dla’ifnya, dan padanya juga ada perselisihan seputar rawi-rawinya.

 

Jamise Syar'i

Takhrij Hadits

Hadits no. 146 diriwayatkan oleh Ibn Majah dan ad-Daraquthni dari sanad ‘Abdurrazzaq. Ibn Majah menuliskannya dalam Sunan Ibn Majah kitab at-thaharah bab al-mash ‘alal-jaba`ir no. 657. Imam ad-Daraquthni menuliskannya dalam Sunan ad-Daraqtuhni kitab al-haidl bab jawazil-mashi ‘alal-jaba`ir no. 890. Sementara Imam ‘Abdurrazzaq sendiri menuliskannya dalam Mushannaf ‘Abdirrazzaq bab al-mash ‘alal-‘asha`ib wal-juruh no. 623.

Sebagaimana terbaca dari penilaian al-Hafizh Ibn Hajar pada Bulughul-Maram di atas, hadits ini statusnya lemah sekali. Dalam at-Talkhishul-Habir hadits no. 199 ia menjelaskan bahwa sanadnya melalui ‘Amr ibn Khalid al-Wasithi seorang yang kadzdzab/pemalsu hadits. Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ (2 : 324) menyatakan bahwa para huffazh/ahli hadits sepakat bahwa ‘Amr al-Wasithi dla’if. Imam al-Baihaqi menyatakan bahwa tidak ada satu pun hadits yang shahih terkait mengusap balutan luka ini, selain hadits ‘Atha’—yakni hadits Jabir berikut [no. 147]—tetapi itu pun tidak kuat (Shahih al-Bukhari bab al-mash ‘alal-‘asha`ib wal-jaba`ir no. 1082).

Sementara hadits no. 147 ditulis oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud kitab at-thaharah bab fil-majruh yatayammamu no. 336. Hadits ini diriwayatkan juga oleh ad-Daraquthni dalam Sunan ad-Daraquthni kitab at-thaharah bab jawazit-tayammum li shahibil-jarrah ma’a isti’malil-ma` wa ta’shibil-jurh no. 729, dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra jima’ abwabit-tayammum bab al-jurh idza kana fi ba’dli jasadihi duna ba’dlin no. 1075, dengan matan selengkapnya sebagai berikut:

عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ خُرَيْقٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ: خَرَجْنَا فِي سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلًا مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِي رَأْسِهِ، ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ: هَلْ تَجِدُونَ لِي رُخْصَةً فِي التَّيَمُّمِ؟ فَقَالُوا: مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ، فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ  أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ: قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ أَوْ يَعْصِبَ-شَكَّ مُوسَى-عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً، ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ.

Dari az-Zubair ibn Khuraiq, dari ‘Atha`, dari Jabir, ia berkata: Kami pernah keluar dalam satu safar. Lalu ada seorang lelaki yang tertimpa bongkahan batu sampai melukai kepalanya. Lelaki itu lalu ihtilam dan bertanya kepada sahahabat-sahahabatnya apakah ia boleh mengambil rukhshah dengan bertayammum? Tetapi mereka menjawab: “Kami tidak memandang kamu boleh mengambil rukhshah sementara kamu masih mampu mendapatkan/menggunakan air.” Ia pun mandi, lalu ternyata kemudian meninggal dunia. Ketika kami pulang menemui Nabi saw, diberitahukan hal tersebut kepadanya. Beliau langsung bersabda: “Mereka telah membunuhnya, Allah membunuh mereka. Kenapa mereka tidak bertanya dahulu ketika tidak tahu. Hanyasanya obat ketidaktahuan itu adalah bertanya. Hanyasanya cukup baginya tayammum dan membalut/menutupi lukanya dengan sobekan kain, kemudian ia mengusap di atasnya dan mencuci seluruh badannya.”

Sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh di atas dalam kitab Bulughul-Maram, sanad hadits ini lemah dan diperselisihkan mengenai rawinya. Perselisihan tersebut dalam hal apakah hadits ini hadits Jabir atau Ibn ‘Abbas. Imam ad-Daraquthni menjelaskan, hadits Jabir diterima dari ‘Atha`, dari az-Zubair ibn Khuraiq, ia seseorang yang laisa bil-qawiyy; tidak kuat. Sementara hadits Ibn ‘Abbas, dari ‘Atha` juga, tetapi dari al-Auza’i. Dalam hal al-Auza’i ini ada yang menyebutkan menerima langsung dari ‘Atha` dari Ibn ‘Abbas; ada juga yang lewat Isma’il ibn Muslim, dari ‘Atha`, dari Ibn ‘Abbas, sebagaimana dijelaskan Abu Zur’ah dan Abu Hatim; ada juga yang dari ‘Atha`, tapi tidak menyebutkan dari Ibn ‘Abbas secara mursal. Menurut ad-Daraquthni sendiri yang benar adalah yang mursal.

Jelasnya, hadits ‘Ali no. 146 dla’if karena ada rawi kadzdzab yakni ‘Amr ibn Khalid al-Wasithi. Sementara hadits Jabir no. 147 dla’if karena ada rawi laisa bil-qawiyy yakni az-Zubair ibn Khuraiq. Yang shahih hanya riwayat mursal dari ‘Atha` ibn Abi Rabah.

 

Syarah Hadits

Dua hadits di atas adalah dua hadits pokok yang sering dijadikan dasar dalil dalam hal cara bersuci bagi orang yang terluka. Baik Imam al-Ghazali dalam kitab al-Wajiz ataupun Imam as-Syirazi dalam kitab al-Muhadzdzab, kedua-duanya menyebutkannya sebagai rujukan dalil dalam kedua kitab mereka yang dijadikan rujukan pokok fiqih madzhab Syafi’i. Demikian halnya Ibn Qudamah al-Maqdisi dalam kitabnya al-Mughni dan as-Syarhul-Kabir yang dijadikan rujukan pokok madzhab Hanbali menjadikannya sebagai dasar dalil untuk persoalan cara bersuci orang yang terluka. Menurut kedua hadits di atas, ada dua alternatif pilihan yang bisa diambil oleh orang yang terluka: Pertama, tetap berwudlu atau mandi menggunakan air, tetapi untuk bagian lukanya cukup dibalut oleh kain dan cukup diusap di balutannya saja. Anggota tubuh sisanya yang tidak terluka tetap dicuci sebagaimana seharusnya dalam wudlu atau mandi. Kedua, di samping wudlu/mandi dengan cara di atas, dilakukan juga tayammum sebelumnya. Jadi tayammum dilaksanakan bersamaan dengan wudlu/mandi seperti dijelaskan di atas.

Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa kedua hadits di atas, kedua-duanya dla’if dan tidak bisa dijadikan dasar dalil. Akan tetapi untuk cara pertama sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Ali, ada riwayat mauquf shahih dari Ibn ‘Umar yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi bahwa ia mempraktikkan cara seperti itu. Sementara untuk hadits Jabir, dalam konteks orang yang terluka sebagai orang sakit sehingga cukup baginya tayammum, maka ini dikuatkan oleh hadits ‘Amr ibn al-‘Ash dan Ibn ‘Abbas sebagaimana sudah dibahas dalam syarah hadits sebelumnya. Artinya pilihan untuk tayammum tanpa wudlu/mandi bisa dibenarkan berdasarkan hadits-hadits shahih yang sudah dibahas sebelumnya.

Riwayat mauquf shahih dari Ibn ‘Umar yang dimaksud adalah:

عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: إِذَا لَمْ تَكُنْ عَلَى الْجُرْحِ عَصَائِبُ غَسَلَ مَا حَوْلَهُ، وَلَمْ يَغْسِلْهُ

Dari Nafi’, dari Ibn ‘Umar, ia berkata: “Jika tidak ada balutan atas luka, maka seseorang cukup mencuci bagian sekitarnya dan tidak perlu mencuci lukanya.”

وعنه: مَنْ كَانَ لَهُ جُرْحٌ مَعْصُوبٌ عَلَيْهِ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى الْعَصَائِبِ وَيَغْسِلُ مَا حَوْلَ الْعَصَائِبِ

Darinya juga: “Siapa yang terluka, lalu dibalut lukanya, ia tetap berwudlu dengan cukup mengusap ke atas balutannya, dan tetap mencuci bagian sekitar balutan.”

وعنه: أَنَّهُ تَوَضَّأَ وَكَفُّهُ مَعْصُوبَةٌ فَمَسَحَ عَلَى الْعَصَائِبِ وَغَسَلَ سِوَى ذَلِكَ

Darinya juga, bahwasanya ia pernah berwudlu dengan telapak tangan yang dibalut karena luka. Maka Ibn ‘Umar mengusap bagian atas balutannya, dan mencuci anggota badan lainnya (as-Sunanul-Kubra al-Baihaqi no. 1078-1081).

Kesimpulannya: Bagi orang yang terluka bisa memilih salah satu dari dua cara: Pertama, tetap wudlu/mandi jika masih memungkinkan, hanya untuk bagian lukanya cukup dibalut dengan kain dan cukup diusap balutannya saja. Kedua, jika wudlu/mandi tidak memungkinkan, cukup dengan tayammum, tanpa harus dilanjutkan dengan wudlu/mandi. Wal-‘Llahu a’lam.

 

  1. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: مِنَ السُّنَّةِ أَنْ لاَ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ بِالتَّيَمُّمِ إِلاَّ صَلاَةً وَاحِدَةً ثُمَّ يَتَيَمَّمُ لِلصَّلاَةِ الْأُخْرَى. رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ جِدًّا

Dari Ibnu ‘Abbas—semoga Allah meridlai mereka berdua—ia berkata: “Termasuk sunnah seseorang tidak shalat dengan tayammum kecuali satu shalat, dan ia bertayammum lagi untuk shalat yang lainnya. Ad-Daraquthni meriwayatkannya dengan sanad yang dla’if sekali.

 

Imam ad-Daraquthni meriwayatkan hadits di atas dalam Sunan ad-Daraquthni kitab at-thaharah bab at-tayammum wa annahu yuf’alu fi kulli shalat no. 710-712. Dalam sanadnya terdapat rawi bernama al-Hasan ibn ‘Umarah. Imam ad-Daraquthni menilainya dla’if. Akan tetapi al-Hafizh Ibn Hajar dalam Taqribut-Tahdzib menyimpulkan bahwa al-Hasan ini matruk (tertuduh dusta), artinya lebih parah dari dla’if, sehingga al-Hafizh dalam Bulughul-Maram menyebutnya dla’if jiddan.

Meski demikian, menurut Imam al-Baihaqi, ada beberapa riwayat lain yang menjadi syahid (penguat), yakni riwayat mauquf shahih dari Ibn ‘Umar, ‘Ali, dan ‘Amr ibn al-‘Ash.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: يَتَيَمَّمُ لِكُلِّ صَلَاةٍ وَإِنْ لَمْ يُحْدِثْ

Dari Ibn ‘Umar, ia berkata: “Seseorang tayammum untuk setiap shalat, meskipun ia tidak hadats lagi.”

عَنْ عَلِيٍّ  قَالَ: يَتَيَمَّمُ لِكُلِّ صَلَاةٍ

Dari ‘Ali ra, ia berkata: “Tayammum untuk setiap shalat.”

عَنْ قَتَادَةَ أَنَّ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ كَانَ يُحْدِثُ لِكُلِّ صَلَاةٍ تَيَمُّمًا. وَكَانَ قَتَادَةُ يَأْخُذُ بِهِ

Dari Qatadah: “‘Amr ibn al-‘Ash memperbarui tayammum untuk setiap shalat.” Dan Qatadah memegang pendapat ini (as-Sunanul-Kubra al-Baihaqi bab at-tayammum li kulli faridlah no. 1054-1056. Imam ad-Daraquthni juga meriwayatkan sama dalam Sunan ad-Daraquthni bab at-tayammum wa annahu yuf’alu fi kulli shalat no. 706-709).

Mengingat kewajiban bersuci itu pada dasarnya hanya ketika hadats dan mengingat juga kedudukan tayammum pengganti wudlu/mandi, maka kewajiban tayammum pun berlaku sebagaimana halnya kewajiban wudlu/mandi. Selama belum hadats, maka tidak wajib tayammum kembali untuk shalat berikutnya. Akan tetapi mengingat riwayat-riwayat mauquf dari para shahabat di atas shahih dan menguatkan satu sama lainnya, maka berarti tayammum untuk setiap shalat sifatnya hanya sebatas anjuran atau sunat. Artinya, sunat hukumnya bertayammum untuk setiap kali shalat. Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *