Majalah Islam Digital Tafaqquh
  • Beranda
  • Kontak
  • Profil
  • Download Majalah
  • Privacy Policy
Wednesday, April 15, 2026
  • Login
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu
No Result
View All Result
Majalah Islam Digital Tafaqquh
No Result
View All Result
Home Artikel Terbaru

Di Manakah Allah ?

tafaqquh by tafaqquh
September 1, 2020
in Artikel Terbaru, Edisi 8 Bulan September 2020, Tauhid, Tauhid Akhlaq
0
Di Manakah Allah ?
0
SHARES
56
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Topik mengenai tempat keberadaan Dzat Allah merupakan topik hangat yang menjadi perdebatan di kalangan para ulama sejak dahulu sampai saat ini. Pada dasarnya, di dalam al-Qur`an banyak disebutkan secara tekstual bahwa Dzat Allah berada di langit; ber-istiwā` di atas ‘ArsyNya. Para salafus-shalih dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in pun secara langsung memahami makna ayat tersebut dan mengimani keberadaan Dzat Allah di langit. Barulah sekitar tahun 126 H muncul kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyyah yang menyatakan bahwa Dzat Allah berada di seluruh tempat atau berada di mana-mana. al-Hafizh Ibn Katsir—rahimahul-`Llāh—menyatakan:

كَانَ الْجَعْدُ بْنُ دِرْهَمٍ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ وَهُوَ مُؤَدِّبُ مَرْوَانَ الحمار ولهذا يقال له مروان الجعديّ فنسب إِلَيْهِ وَهُوَ شَيْخُ الْجَهْمِ بْنِ صَفْوَانَ الَّذِي تُنْسَبُ إِلَيْهِ الطَّائِفَةُ الْجَهْمِيَّةُ الَّذِينَ يَقُولُونَ إِنَّ اللَّهَ فِي كُلِّ مَكَانٍ بِذَاتِهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا.

“al-Ja’d ibn Dirham termasuk penduduk Syam. Ia adalah mu`addib dari Marwan al-Himar sehingga dikenal dengan Marwan al-Ja’diy; dinisbatkan kepadanya. Ia juga merupakan guru dari al-Jahm ibn Shafwan yang dinisbatkan kepadanya kelompok Jahmiyyah yang berkata bahwa sesungguhnya Allah berada di segala tempat dengan Dzatnya. Mahatinggi dan Mahaagung Allah dari apa yang mereka katakan” (al-Bidāyah wan-Nihāyah: X/19).

Untuk mendukung pemikirannya, mereka beragumen menggunakan ayat-ayat al-Qur`an yang jika hanya dimaknai menggunakan logika semata, memang secara tekstual seakan-akan menyatakan bahwa Allah berada di mana-mana, mengikuti makhluk di manapun mereka berada. Beberapa di antaranya adalah firman Allah:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“…Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada…” (QS. al-Hadīd [57]: 4) dan juga firmanNya:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“…Dan Kami (Allah) lebih dekat dari mereka daripada urat nadinya.” (QS. Qāf [50]: 16)

Bahayanya, akibat dari keyakinan tersebut membuat pemikiran manusia menjadi lebih liar lagi. Terbukti ada yang meyakini konsep ḥulūl (menetapnya ruh Allah di dalam diri manusia), sehingga Ibnul-‘Arabiy -salah seorang tokoh Sufi- mengajak pengikutnya untuk berdoa kepada diri mereka sendiri karena ia yakin bahwa Allah berada di dalam diri setiap manusia. Ada pula yang meyakini konsep ittiḥād (menyatunya ruh manusia dengan ruh Allah), sehingga al-Hallāj -salah seorang tokoh Sufi juga- secara terang-terangan menyatakan bahwa ia dan Allah adalah satu. (Bilal Philips, The Fundamentals of Tawheed hlm. 137)

Ilmu Kalam

Pemahaman seperti ini, sedikit banyaknya dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Yunani karena pada kala itu buku-buku Yunani mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sehingga para ulama muslim mulai ada yang mempelajari pemikiran-pemikiran para filsuf Yunani dalam masalah teologi (ketuhanan) yang notabene merujuk pada akal semata dalam memahami dzat ketuhanan.

Bertolak dari hal ini, akhirnya lahirlah ilmu kalam yang membahas dan memperdebatkan mengenai sifat-sifat ketuhanan Allah sehingga mulai bermunculan kelompok menyimpang macam Mu’tazilah, Jahmiyyah, Qadariyyah, Jabbariyyah, Murji`ah, dsb. al-Hafizh Ibn Hajar –rahimahul-`Llāh– berkomentar mengenai kondisi tersebut:

وَقَدْ تَوَسَّعَ مَنْ تَأَخَّرَ عَنِ الْقُرُونِ الثَّلَاثَةِ الْفَاضِلَةِ فِي غَالِبِ الْأُمُورِ الَّتِي أَنْكَرَهَا أَئِمَّةُ التَّابِعِينَ وَأَتْبَاعُهُمْ وَلَمْ يَقْتَنِعُوا بِذَلِكَ حَتَّى مَزَجُوا مَسَائِلَ الدِّيَانَةِ بِكَلَامِ الْيُونَانِ وَجَعَلُوا كَلَامَ الْفَلَاسِفَةِ أَصْلًا يَرُدُّونَ إِلَيْهِ مَا خَالَفَهُ مِنَ الْآثَارِ بِالتَّأْوِيلِ وَلَوْ كَانَ مُسْتَكْرَهًا ثُمَّ لَمْ يَكْتَفُوا بِذَلِكَ حَتَّى زَعَمُوا أَنَّ الَّذِي رَتَّبُوهُ هُوَ أَشْرَفُ الْعُلُومِ وَأَوْلَاهَا بِالتَّحْصِيلِ

“Orang-orang yang muncul setelah tiga masa yang utama terlalu berlebihan dalam kebanyakan perkara yang diingkari oleh tokoh-tokoh generasi Tabi’in dan generasi Tabi’ut Tabi’in. Orang-orang itu tidak merasa cukup dengan apa yang sudah dipegangi generasi sebelumnya sehingga mencampuradukkan perkara-perkara agama dengan teori-teori Yunani dan menjadikan pernyataan-pernyataan kaum filsuf sebagai sumber pijakan untuk meluruskan atsar yang berseberangan dengan filsafat melalui cara pentakwilan, meskipun itu tercela. Mereka tidak berhenti sampai di sini, bahkan mengklaim ilmu yang telah mereka susun adalah ilmu yang paling mulia dan sebaiknya dimengerti…” (Fathul-Bārī: XIII/253)

Imam adz-Dzahabi rahimahul-`Llāh -salah seorang ulama yang santer menentang ilmu kalam- di dalam muqaddimah kitabnya, Mukhtasharul-‘Uluwwil-‘Aliyyil-Ghaffār (hlm. 80) -kitab yang khusus ditulis guna membantah pemikiran Allah berada di segala tempat- menyatakan bahwa memperdebatkan ayat-ayat al-qur`an yang sudah jelas maknanya, terutama ayat mengenai keberadaan Allah (baca: ilmu kalam) merupakan kekufuran. Ia membawakan sabda Nabi Muhammad —shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—:

الْمِرَاءُ فِى الْقُرْآنِ كُفْرٌ

“Mendebat al-Qur`an merupakan kekufuran” (Sunan Abī Dāwūd kitāb as-sunnah bāb an-nahyi ‘anil-jidāl fil-qur`ān no. 4605)

Dalil-dalil Allah di Langit

Entah bagaimana asal-usulnya, pemikiran yang berasal dari kelompok menyimpang ini akhirnya diamini oleh banyak orang, bahkan oleh sebagian ulama yang mengaku ahlus-sunnah sampai saat ini. Oleh karena itu, perlu rasanya ditegaskan kembali akan kelirunya pendapat yang menyatakan Allah ada di mana-mana, karena pada dasarnya sudah jelas sekali di dalam al-Qur`an, hadits, atsar, dan ijma’ ulama dinyatakan bahwa Allah berada di langit, beristiwā` di ‘arsyNya. Bahkan Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya Mukhtasharul-‘Uluwwil-‘Aliyyil-Ghaffār -sebagaimana yang telah penulis sebutkan di atas- menyantumkan lebih dari 200 dalil yang mendukung keberadaan Allah di langit, bukan di mana-mana.

Menurut Syaikh Hamud ibn ‘Abdullah at-Tuwaijiriy –hafizhahul-`Llāh-, di dalam al-Qur`an Allah menyebutkan istiwā`Nya di ‘Arsy di dalam tujuh tempat, yaitu QS. al-A’rāf (7): 54, Yūnus (10): 3, ar-Ra’d (13): 2, Tāhā (20): 5, al-Furqān (25): 59, as-Sajdah (32): 4, dan al-Hadīd (57): 4. Ketujuh ayat tersebut sama-sama mengandung lafazh:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“…Kemudian Ia (Allah) ber-istiwā` di atas ‘arsyNya…”

Seluruh ayat ini yang menyatakan Allah berada di ‘arsy yang tentu menjadikanNya berada di atas seluruh makhlukNya jelas-jelas menafikan keberadaan Dzat Allah bersama para makhlukNya di bumi (Itsbātu ‘Uluwwil-`Llāhi wa Mubāyanati Khalqihi hlm. 13).

Firman Allah yang menyatakan secara jelas bahwa Ia berada di langit banyak sekali, beberapa di antaranya adalah:

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kalian sudah merasa aman bahwa yang di langit (Allah) tidak akan membuat kalian ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang?”. (QS. al-Mulk [67]: 17)

Berkaitan dengan tafsir QS. al-Hadīd (57): 4 yang dijadikan dalil pendukung pemikiran Allah ada di mana-mana, maka al-Hafizh Ibn Katsir menjelaskan:

أَيْ: رَقِيبٌ عَلَيْكُمْ شَهِيدٌ عَلَى أَعْمَالِكُمْ حَيْثُ أَنْتُمْ

“Maksudnya adalah ia mengawasi kalian, menyaksikan perbuatan kalian di manapun kalian berada…” (Tafsir Ibn Katsir: VIII/9).

Jadi, bukan berarti Dzat Allah yang selalu mengikuti keberadaan manusia, tapi ilmuNya yang Maha Luas sehingga mampu meliputi segala gerak-gerik makhlukNya.

Lalu mengenai tafsir QS. Qāf (50): 17, al-Hafizh menjelaskan:

مَلَائِكَتُهُ تَعَالَى أقربُ إِلَى الْإِنْسَانِ مِنْ حَبْلِ وَرِيدِهِ إِلَيْهِ. وَمَنْ تَأَوَّلَهُ عَلَى الْعِلْمِ فَإِنَّمَا فَرَّ لِئَلَّا يَلْزَمَ حُلُولٌ أَوِ اتِّحَادٌ وَهُمَا مَنْفَيَّانِ بِالْإِجْمَاعِ تَعَالَى اللَّهُ وَتَقَدَّسَ

“(Maksudnya) para malaikat Allah ta’ala yang lebih dekat dari manusia daripada (dekatnya) urat nadinya terhadapnya. Siapa yang mentakwil (maknanya) menjadi pengetahuan (Allah), hanya berusaha agar tidak terjadi hulūl atau ittihād yang keduanya diingkari secara ijma’. Maha Tinggi Allah dan Maha Suci (atas kedua anggapan bathil tersebut, pen-).” (Tafsīr Ibn Katsīr: VII/398)

Selain ayat-ayat al-qur`an, dalil-dalil dari hadits dan ijma’ ulama ahlus-sunnah pun amat banyak sekali yang mendukung pendapat para salaf bahwa Allah berada di langit sebagaimana yang dihimpun oleh al-Imam adz-Dzahabi –rahimahul-`Llāh– . Namun, karena keterbatasan ruang tidak dapat penulis sajikan seluruhnya. Terlebih, dalil-dalil al-qur`an pun sudah cukup rasanya untuk memuaskan hati dalam mengimani keberadaan Allah di langit, bukan di segala tempat.

Wal-`Llāhu a’lam.

Tags: allahtauhid
Previous Post

Menanamkan Iman dalam Pendidikan Keluarga

Next Post

Kemuliaan Para Sahabat

tafaqquh

tafaqquh

Next Post
Kemuliaan Para Sahabat

Kemuliaan Para Sahabat

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mengawali Basmalah di Setiap Aktivitas

Mengawali Basmalah di Setiap Aktivitas

March 11, 2021
Kontroversi Hadits Menyusui Anak Angkat Yang Sudah Dewasa

Kontroversi Hadits Menyusui Anak Angkat Yang Sudah Dewasa

January 24, 2021
Pemungut Pajak Adalah Ahli Neraka

Pemungut Pajak Adalah Ahli Neraka

July 5, 2021
Harta Anak Harta Orangtua

Harta Anak Harta Orangtua

April 2, 2021
Hukum Menyimpan Uang di Dompet Digital

Hukum Menyimpan Uang di Dompet Digital

7
Salam Semua Agama, Selamat Natal, BID’AH

Konsep Bid’ah Menurut NU

4
Peran Perempuan Dalam Keluarga

Peran Perempuan Dalam Keluarga

0
Degradasi Ulama

Degradasi Ulama

0
Indahnya Inner Beauty Muslimah Sejati 

Indahnya Inner Beauty Muslimah Sejati 

August 25, 2025
Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

August 21, 2025

Amalan Wajib VS Amalan Sunnah

January 12, 2024
Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

January 7, 2024

Recent News

Indahnya Inner Beauty Muslimah Sejati 

Indahnya Inner Beauty Muslimah Sejati 

August 25, 2025
Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

August 21, 2025

Amalan Wajib VS Amalan Sunnah

January 12, 2024
Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

January 7, 2024
  • Beranda
  • Kontak
  • Profil
  • Download Majalah
  • Privacy Policy
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In