Hakikat Perpindahan Tahun

7 months ago
468

“Waktu adalah harta yang paling mahal yang pernah anda jaga, namun saya melihat, waktu paling mudah untuk anda sia-siakan” (Ibnul-Jauzi)

Malam tadi kita menyaksikan orang-orang tumpah ruah memadati jalan raya untuk merayakan tahun baru. Segala atribut simbol tahun baru mereka pakai untuk menambah kemeriahan hari raya tahunan itu. Segala do’a harapan kebaikanpun mereka ucapkan demi kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan datang. Namun, sayangnya karena kemeriahan dan kemegahan itulah, dikhawatirkan kemeriahan sia-sia itu membuat kita lupa akan hakikat perpindahan waku yang sebenarnya.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallhu‘anhu pernah berkata, ”Aku tidak pernah menyesali satu halpun, seperti penyesalanku atas hari yang telah berlalu, ketika umurku telah berkurang, ajalku semakin mendekat sedangkan aku tidak sempat menambah amal baikku”. Sungguh bermakna apa yang disampaikan oleh sahabat Rasulullah Saw. Ini untuk memaknai perpindahan tahun baru kali ini.

Perpindahan tahun bagi seorang muslim adalah isyarat semakin berkurang jatah umurnya. Hal inilah yang mendorong bagi diri seorang muslim untuk selalu memikirkan apa saja yang telah ia perbuat di masa lalu dan apa saja yang akan ia perbuat di masa yang akan datang. Namun, tidak sedikit orang ketika memikirkan hal itu, ia akan selalu mencaci maki dirinya atas masa lalu yang ia lewati serta memuji dan mendewakan masa  depan dengan berangan-angan untuk meraih segala kebaikan dan kesejahteraan dimasa yang akan datang. Sehingga ia lupa bahwa realita kehidupan yang sebenarnya adalah waktu dimana ia hidup sekarang.

“Apa yang telah berlalu telah mati. Adapun apa yang kita cita-citakan masih ghaib. Maka satu-satunya kesempatan bagimu adalah waktu dimana kamu berada sekarang” 

Allah swt. secara tidak langsung telah memberikan arahan tentang hal itu semua dalam surat Al-Hasyr ayat 18-19, Ia Berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendakalah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan jakanlah kamu seperti orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (Al-Hasyr: 18-19). Setidaknya ada tiga hal yang mesti kita perhatikan dalam ayat ini. Pertama, Taqwa sebagai bekal yang paling baik di masa yang akan datang. Kedua, Muhasabah diri sebagai pelajaran dari kehidupan masa lalu agar kita dapat melangkah lebih baik dimasa yang akan datang. Ketiga, Dzikir dengan selalu mengingat kepada Allah, maka dzikir menjadi benteng keimanan kita agar selalu beramal shalih untuk kehidupan akhirat kelak.

Maka dari itulah, perpindahan tahun sebaiknya bukan menjadi menjadi momentum hura-hura dan kemeriahan semata, namun yang sebaiknya perpindahan tahun itu menjadi bahan agar kita selalu bermuhasabah diri agar kelak tidak terjerumus ke dalam jurang keburukan dosa dan maksiat.  Benarlah apa yang diakatakan oleh Ibnul-Qoyyim al-Jauziyah Rahimahullah, ”Pemikiran yang paling cemerlang dan mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah di akhirat bermacam-macam. Diantaranya, berpikir bagaimana mengisi dan menggunakan waktu seefisien mungkin dan mencurahkan segala perhatian untuk mengatur waktu. Orang yang paham adalah orang yang tahu akan nilai waktu, apabila ia menyia-nyiakannya berati ia telah menyia-nyiakan kemaslahatan hidupnya, sebab kemaslahatan dan keberhasilan diperoleh karena penggunaan waktu yang efisien, dan waktu yang telah berlalu mustahil untuk diulang kembali” 

Terlebih kepada para pelajar yang masih banyak kesempatan untuk meraih segala apa yang ia harapkan, sangat mudah baginya untuk meraih hal tersebut di masa muda. Karena ketika usia telah lanjut, hilanglah semua potensi yang dimiliki untuk meraih semua itu. seseorang pernah berkata tentang hakikat masa tua “Tiap kali bertambah usiamu akan bertambah besar tanggung jawabmu, bertambah luas hubungan sosialmu, semakin sempit waktumu, dan kian berkurang potensimu. Waktu di masa tua lebih sempit, tubuh semakin lemah, kesehatan menurun, semangat mengendor, sementara kewajiban dan kesibukan semakin banyak. Maka bergegaslah di masa muda, karena masa itu merupakan kesempatan emas bagimu. Janganlah bergantung dengan sesuatu yang masih ghaib yang belum kau ketahui hakikatnya. Sebab setiap waktu penuh dengan kesibukan, pekerjaan dan hal yang tak terduga”. 

Ahmad Syauqi pernah berkata dalam syairnya,”Denyut jantung manusia selalu berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya kehidupan ini hanyalah beberapa saat saja. Maka angkatlah nama baikmu untuk bekal apabila kamu mati, karena nama baik bagi manusia adalah umur baru”. Maka dari itu, sudah waktunya pergantian tahun itu menjadikan kita semua lebih shalih. Karena mungkin esok atau lusa kita akan terlambat untuk menjadi manusia shalih. Wallahu a’lam bi Shawab

Penulis : Husna Hisaba Kholid (staf pengajar Pesantren Persatuan Islam 27 Situaksan Bandung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *