Tatswib pada Adzan Shubuh

7 months ago
526

 

  1. وَزَادَ أَحْمَدُ فِي آخِرِهِ قِصَّةَ قَوْلِ بِلاَلٍ فِي آذَانِ الْفَجْرِ: اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Ahmad menambahkan pada akhir hadits tentang kisah ucapan Bilal dalam adzan Shubuh: ‘as-shalatu khairum-minan-naum’ (shalat itu lebih baik daripada tidur).

  1. وَلِابْنِ خُزَيْمَةَ: عَنْ أَنَسٍ قَالَ: مِنَ السُّنَّةِ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ فِي الْفَجْرِ: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ قَالَ: اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dari Anas r.a ia berkata: “Termasuk sunnah apabila muadzdzin pada waktu fajar setelah membaca ‘hayya ‘alal-falah’ (mari menuju kebahagiaan), ia mengucapkan ‘as-shalatu khairum-minan-naum’ (shalat itu lebih baik daripada tidur).”

 

Tautsiq Hadits

Riwayat tambahan Ahmad yang dimaksud di atas adalah hadits ‘Abdullah ibn Zaid ibn ‘Abdi Rabbih yang tertulis dalam Musnad Ahmad bab hadits ‘Abdillah ibn Zaid ibn ‘Abdi Rabbih no. 16477-16478. Redaksi lengkapnya adalah sebagai berikut:

…ثُمَّ أَمَرَ بِالتَّأْذِينِ، فَكَانَ بِلَالٌ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ يُؤَذِّنُ بِذَلِكَ، وَيَدْعُو رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: فَجَاءَهُ فَدَعَاهُ ذَاتَ غَدَاةٍ إِلَى الْفَجْرِ، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَائِمٌ، قَالَ: فَصَرَخَ بِلَالٌ بِأَعْلَى صَوْتِهِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ: فَأُدْخِلَتْ هَذِهِ الْكَلِمَةُ فِي التَّأْذِينِ إِلَى صَلَاةِ الْفَجْرِ

…Kemudian beliau memerintahkan adzan. Bilal maula Abu Bakar adalah yang bertugas adzan tersebut. Ia menyeru Rasulullah saw untuk shalat. Sa’id ibn al-Musayyib berkata: “Pada suatu pagi Bilal datang untuk adzan fajar. Ada yang memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah saw masih tidur. Bilal pun kemudian menyeru dengan suaranya yang paling keras: ‘as-shalatu khairum-minan-naum’ (shalat itu lebih baik daripada tidur).” Sa’id ibn al-Musayyib berkata: “Maka kalimat tersebut dimasukkan dalam adzan untuk shalat fajar.”

Tambahan ini, menurut Syaikh Syu’ab al-Arnauth dalam ta’liq Musnad Ahmad statusnya munkar, karena dla’if dan bertentangan dengan riwayat-riwayat lain yang shahih yang tidak menyebutkan tambahan ini. Sebagaimana sudah dijelaskan, hadits ‘Abdullah ibn Zaid ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Khuzaimah, dan al-Baihaqi. Tetapi yang ada tambahan di atas hanya riwayat Ahmad yang ini saja. Penyebab dla’ifnya adalah tadlis dari Ibn Ishaq yang tidak menerima langsung dari az-Zuhri (qâla…), yang selanjutnya menerima dari Sa’id ibn al-Musayyib, dari ‘Abdullah ibn Zaid. Sementara dalam riwayat Ibn Ishaq satunya lagi (Musnad Ahmad no. 16478), disebutkan jelas bahwa ia menerima langsung (haddatsana) dari Muhammad ibn Ibrahim at-Taimi, dari Muhammad ibn ‘Abdillah, dari ‘Abdullah ibn Zaid, tanpa menyebutkan tambahan di atas. Demikian juga untuk riwayat lain dalam kitab hadits Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Khuzaimah, dan al-Baihaqi, tanpa menyebutkan tambahan di atas.

Meski demikian, Syaikh Syu’aib al-Arnauth membenarkan tambahan ‘as-shalatu khairum-minan-naum’ dalam adzan Shubuh itu berdasarkan hadits lain dari Abu Mahdzurah yang langsung disabdakan oleh Nabi saw sendiri. Hadits yang dimaksud adalah:

وَإِذَا أَذَّنْتَ بِالْأَوَّلِ مِنَ الصُّبْحِ فَقُلْ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Apabila kamu (Abu Mahdzurah—muadzdzin Makkah) adzan pada adzan pertama dari shubuh, maka ucapkanlah: ‘as-shalatu khairum-minan-naum, as-shalatu khairum-minan-naum’ (Musnad Ahmad bab hadits Abu Mahdzurah al-Muadzdzin no. 15376, 15379).

Dikuatkan oleh penuturan Abu Mahdzurah ra:

عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ قَالَ: كُنْتُ أُؤَذِّنُ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ، فَإِذَا قُلْتُ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قُلْتُ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ الْأَذَانُ الْأَوَّلُ

Dari Abu Mahdzurah, ia berkata: Aku adzan pada zaman Nabi saw untuk shalat shubuh. Apabila aku membaca: ‘hayya ‘alal-falah’ aku membaca sesudahnya ‘as-shalatu khairum-minan-naum, as-shalatu khairum-minan-naum’, yakni adzan pertama (Musnad Ahmad bab hadits Abu Mahdzurah al-Muadzdzin no. 15378).

Penilaian yang sama sudah dikemukakan sebelumnya oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam at-Talkhishul-Habir bab al-adzan no. 296. Menurut al-Hafizh semua sanad yang menjelaskan tambahan kisah di atas tidak luput dari sanad yang munqathi’ dan dla’if. Hanya memang keberadaan tatswib ‘as-shalatu khairum-minan-naum’ dikuatkan oleh hadits Ibn ‘Umar ra, dimana ia menyatakan:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كَانَ الْآذَانُ الْأَوَّلُ بَعْدَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ مَرَّتَيْنِ

Dari Ibn ‘Umar, ia berkata: “Adzan yang awal itu sesudah hayya ‘alas-shalah, hayya ‘alal-falah membaca as-shalatu khairum-minan-naum dua kali” (Riwayat as-Sarraj, at-Thabrani, dan al-Baihaqi. Al-Hafizh menilai hadits ini hasan).

Demikian juga oleh hadits Anas ra sebagaimana ditulis di atas (Bulughul-Maram no. 192). Hadits tersebut dinilai shahih oleh Ibnus-Sakan dan diriwayatkan dalam Shahih Ibn Khuzaimah bab at-tatswib fi adzanis-shubh no. 386; Sunan ad-Daraquthni bab dzikril-iqamah no. 944; dan as-Sunanul-Kubra al-Baihaqi bab at-tatswib fi adzanis-shubh no. 1984.

Akan tetapi penilaian yang berbeda dikemukakan oleh Syaikh al-Albani. Menurutnya tambahan riwayat tentang as-shalatu khairum-minan-naum dalam hadits ‘Abdullah ibn Zaid di atas sanadnya jayyid. Meski Ibn Ishaq tidak tegas menerima dari az-Zuhri, tetapi hadits az-Zuhri dari Sa’id ibn al-Musayyib ini adalah hadits yang masyhur, diriwayatkan juga oleh Yunus ibn Yazid, Ma’mar ibn Rasyid, dan Syu’aib ibn Abi Hamzah.

Kesimpulannya, keberadaan tatswib ‘as-shalatu khairum-minan-naum’ dalam adzan shubuh jelas disyari’atkan.

 

Syarah Hadits

Arti asal tatswib adalah menduakalikan seruan. Dalam tema adzan shubuh yang dimaksud adalah menyerukan: as-shalatu khairum-minan-naum, sesudah sebelumnya hayya ‘alas-shalah, hayya ‘alal-falah. Dalam hadits, makna tatswib juga ditujukan untuk iqamah karena sebelumnya adzan (Shahih al-Bukhari bab fadllit-ta`dzin no. 608). Dalam ungkapan orang-orang Arab, istilah tatswib juga ditujukan untuk shalat sunat sesudah shalat wajib, karena ada unsur ‘dua kali’-nya (Lisanul-‘Arab).

Kedudukan tatswib ‘as-shalatu khairum-minan-naum’ dalam adzan shubuh sudah menjadi ijma’ (kesepakatan bulat ulama) dari sejak era salaf sampai khalaf. Dipraktikkan secara turun temurun dari generasi ke generasinya. Tidak ada pertentangan dalam keabsahannya di antara para ulama hadits dan fuqaha empat madzhab di sepanjang zamannya. Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqhul-Islami wa Adillatuhu menyatakan:

اتفق الفقهاء على الصيغة الأصلية للأذان المعروف الوارد بكيفية متواترة من غير زيادة ولا نقصان وهو مثنى مثنى، كما اتفقوا على التثويب، أي الزيادة في أذان الفجر بعد الفلاح وهي (الصلاة خير من النوم) مرتين، عملاً بما ثبت في السنة عن بلال، ولقوله صلّى الله عليه وسلم لأبي محذورة ـ فيما رواه أحمد وأبو داود ـ فإذا كان أذان الفجر، فقل: الصلاة خير من النوم مرتين

Fuqaha sepakat dalam redaksi asal untuk adzan yang dikenal sesuai yang dipraktikkan secara mutawatir (turun temurun) tanpa ada tambahan dan pengurangan, yaitu dua kali. Demikian juga para fuqaha sepakat akan adanya tatswib yaitu tambahan dalam adzan fajar sesudah al-falah yaitu ‘as-shalatu khairum-minan-naum’ dua kali-dua kali. Mengamalkan apa yang telah tetap dalam sunnah dari Bilal, dan berdasarkan sabda Nabi saw kepada Abu Mahdzurah dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud: “Maka apabila adzan fajar, ucapkanlah: ‘as-shalatu khairum-minan-naum’ dua kali.” (al-Fiqhul-Islami wa Adillatuhu bab kaifiyyatul-adzan wa shighatuhu, jilid 1, hlm. 701)

 

Akan tetapi—sepengetahuan penulis—perbedaan dalam hal tatswib ini mulai ada dari sejak Imam as-Shan’ani menuliskannya dalam Subulus-Salam, lalu dibenarkan oleh Syaikh al-Albani. Menurut dua ulama tersebut, yang benar untuk tatswib ‘as-shalatu khairum-minan-naum’ itu bukan pada adzan shubuh, melainkan pada adzan shubuh/fajar pertama, sebelum shubuh, yakni pada waktu sahur. Di Indonesia, fiqih tatswib seperti ini dikemukakan oleh Ustadz E. Abdurrahman, dari Persatuan Islam, yang ternyata menyalahi fiqih gurunya, A. Hassan, sebagaimana telah ditulis dalam Pengajaran Shalat dan Tarjamah Bulughul Maram. Dalam karya-karyanya tersebut, A. Hassan menyatakan bahwa tatswib ‘as-shalatu khairum-minan-naum’ dibaca pada adzan shubuh, bukan pada adzan fajar pertama sebelum shubuh.

Dalil yang dikemukakan oleh ulama yang menyatakan tatswib ‘as-shalatu khairum-minan-naum’ pada adzan fajar pertama adalah hadits-hadits dari Abu Mahdzurah dan Ibn ‘Umar ra di atas yang tegas menyebutkan “adzan pertama”. Ini otomatis men-taqyid (membatasi) hadits-hadits yang muthlaq yang hanya menyebutkan “adzan shubuh/fajar” tanpa ada keterangan “pertama”-nya, dalam makna adzan shubuh yang dimaksud adalah adzan shubuh yang pertama.

Lajnah Da`imah lil-Buhutsil-‘Ilmiyyah wal-Ifta, yang diketuai oleh Syaikh ‘Abdul-‘Aziz ibn ‘Abdillah ibn Baz, membantah ijtihad Imam as-Shan’ani dan Syaikh al-Albani di atas. Menurut MUI-nya Saudi Arabia ini bahwa mengamalkan hadits-hadits di atas yang paling tepat adalah dengan thariqatul-jam’i; menggabungkan hadits-hadits di atas. Pemahamannya, pada tahap awal adzan shubuh itu hanya satu kali, yakni adzannya Bilal, maka tatswib yang dibacakan oleh Bilal pada adzan shubuh pastinya adalah pada adzan shubuh yang sekarang. Lalu kemudian adzan shubuh menjadi dua kali—sebagaimana akan dijelaskan dalam hadits yang akan datang. Pada adzan awal dari dua adzan fajar tersebut pun kemudian dibaca tatswib.

Atau bisa juga dipahami bahwa “adzan awal” yang dimaksud hadits-hadits di atas adalah adzan shubuh itu sendiri untuk membedakannya dari iqamah yang berkedudukan sebagai “adzan kedua”. Sebuah hadits Nabi saw sendiri menyabdakan:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ

Di antara dua adzan ada shalat (Shahih al-Bukhari bab kam bainal-adzan wal-iqamah no. 624).

Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud “dua adzan” di atas adalah adzan dan iqamah. Maka adzan pertama adalah adzan itu sendiri dan adzan kedua adalah iqamah. Hal ini dikuatkan dengan hadits ‘Aisyah ra yang menjelaskan demikian:

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مَا بَيْنَ أَنْ يَفْرَغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلِّمُ فِي كُلِّ ثِنْتَيْنِ، وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ، وَيَسْجُدُ فِي سَبْحَتِهِ بِقَدْرِ مَا يَقْرَأُ أَحَدُكُمْ خَمْسِينَ آيَةً قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ، فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْأَذَانِ الْأَوَّلِ قَامَ، فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ، ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ، فَيَخْرُجَ مَعَهُ

Dari ‘Aisyah, ia berkata: “Rasulullah saw shalat di antara selesai shalat ‘Isya sampai fajar 11 raka’at dengan salam di setiap dua raka’at dan witir satu raka’at. Beliau sujud seukuran seseorang membaca 50 ayat sebelum beliau mengangkat kepalanya. Lalu apabila muadzdzin selesai dari adzan pertama, beliau berdiri lalu shalat dua raka’at yang ringan (rawatib qabla shubuh—pen). Sesudah itu beliau berbaring ke sebelah kanan sampai datang muadzdzin dan beliau keluar bersamanya.” (Musnad Ahmad musnad as-Shiddiqah ‘Aisyah no. 25105).

Dalam hadits di atas jelas disebutkan bahwa “adzan pertama” itu adalah adzan shubuh.

Hal yang paling menguatkannya adalah amal semua ulama dan umat Islam yang mencapai derajat mutawatir. Ini merupakan sumber ilmu yang valid bahwa tatswib itu dibaca pada adzan shubuh. Meski tentunya tidak bisa divonis sesat juga ulama yang bersikukuh meyakini bahwa tatswib hanya pada adzan awal, bukan pada adzan shubuh, sebab mereka berijtihad. Dan ijtihad tidak bisa divonis sesat, meski boleh dinilai keliru. Wal-‘Llahu a’lam.

Penulis : Nashruddin Syarief(Mudir ‘am Pesantren Persatuan Islam 27 Situaksan Bandung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *