Timbangan Amal Seorang Hamba di Akhirat

7 months ago
331

وعن أمِّ المؤمِنينَ أمِّ عبدِ اللهِ عائشةَ رضي الله عنها قالت: قالَ رسول الله: يغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ فإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وآخِرِهِمْ. قَالَتْ: قلتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ يُخْسَفُ بأوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ وَفِيهمْ أسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ؟ قَالَ: يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيّاتِهمْ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. هذَا لَفْظُ الْبُخَارِيِّ

Dari ibu kaum mukminin Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah—semoga Allah meridlainya—ia berkata: Rasulullah—semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepadanya—bersabda: “Ada satu pasukan hendak menyerang Ka’bah. Tetapi ketika mereka sampai di suatu daerah luas yang datar mereka ditenggelamkan ke dalam bumi mulai dari yang paling awalnya sampai akhirnya.” ‘Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa ditenggelamkan yang paling awal sampai akhir sementara di tengah-tengah mereka ada rakyat biasa dan orang-orang yang bukan bagian dari mereka?” Beliau menjawab: “Ditenggelamkan yang paling awal sampai akhir tetapi kemudian mereka akan dibangkitkan berdasarkan niat mereka.” Disepakati keshahihannya. Ini redaksi riwayat al-Bukhari. (Shahih al-Bukhari kitab al-buyu’ bab ma dzukira fil-aswaq no. 2118; Shahih Muslim kitab al-fitan wa asyrathis-sa’ah bab al-khasf bil-jaisyil-ladzi ya`ummul-bait no. 7424)

Keterkaitan hadits ini dengan bab niat dalam kitab Riyadhussalihin adalah bahwa niat merupakan penentu balasan seseorang kelak di hari akhir meskipun di dunia mendapatkan siksa. Sebab ketika Allah swt menurunkan sisksanya kepada satu kaum maka siksa tersebut akan rata mengenai semua orang yang ada, baik itu orang-orang yang jahat ataupun orang-orang yang shalih. Meski demikian kelak di akhirat mereka akan diperlakukan berbeda sesuai dengan niat yang terkandung dalam hati mereka. Bagi mereka yang memang memiliki niat untuk selalu beramal kejelekan maka akan dibalas dengan siksa di akhirat. Sementara mereka yang memiliki niat untuk selalu beramal kebaikan maka akan dibalas dengan surga di akhirat. Hadits lain yang sama menjelaskannya adalah:

إِذَا أَنْزَلَ اللهُ بِقَوْمٍ عَذَابًا أَصَابَ الْعَذَابُ مَنْ كَانَ فِيْهِمْ ثُمَّ بُعِثُوْا عَلَى أَعْمَالِهِمْ

Apabila Allah menurunkan adzab kepada sebuah kaum, adzab itu akan menimpa siapa saja yang ada di tengah-tengah mereka. Kemudian mereka dibangkitkan berdasarkan amal-amal mereka (Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab idza anzalal-llah bi qaumin ‘adzaban no. 6575; Shahih Muslim kitab al-jannah wa shifat na’imiha wa ahliha bab al-amr bi husniz-zhan billah ta’ala ‘indal-mauti no. 5172.)

Siksa yang dimaksud dalam hadits ‘Aisyah di atas itu sendiri tertuju pada pasukan yang hendak menghancurkan Ka’bah guna mengejar seorang Quraisy yang berlindung di Ka’bah. (lihat, Shahih Muslim kitab al-fitan wa asyrathis-sa’ah bab al-khasf bil-jaisyil-ladzi ya`ummul-bait no. 7426).  Hadits ‘Aisyah tersebut diriwayatkan juga oleh Hafshah dan Ummu Salamah. Untuk hadits Ummu Salamah, ia menyampaikan hadits dalam riwayat Muslim di masa-masa awal perselisihan ‘Abdullah ibnuz-Zubair yang menjadi pemimpin di Makkah dengan Yazid ibn Mu’awiyah yang dibai’at khalifah sesudah Mu’awiyah. Saat itu Yazid mengirim pasukan menuju Makkah untuk menyerang ‘Abdullah ibnuz-Zubair. Akan tetapi Ummu Salamah menyatakan bahwa yang dimaksud pasukan dalam hadits di atas bukan pasukan Yazid. (Fathul-Bari bab ma dzukira fil-aswaq). Al-Hafizh Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan-Nihayah menjelaskan bahwa pasukan yang dimaksud adalah pasukan yang mengejar seorang khalifah yang dibai’at di Ka’bah. Khalifah yang dimaksud adalah khalifah al-Mahdi, yakni khalifah adil di akhir zaman yang kelak akan bersama-sama dengan Nabi ‘Isa as menumpas al-Masih Dajjal dan tentara Yahudi yang mendukungnya. Ketika berada di satu daerah luas yang datar—dalam riwayat Muslim ada disebutkan baida` dekat Madinah, yakni sekitar Dzulhulaifah. (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab al-khasf bil-jaisyil-ladzi ya`ummul-bait.)—pasukan itu dibinasakan semuanya beserta semua masyarakat yang ada di sekitarnya yang tidak hendak menyerang Ka’bah.

Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan bahwa amal itu akan dibalas sesuai niatnya dan setiap orang harus waspada dari berteman dan semajelis dengan orang-orang zhalim apalagi sampai memperbanyak jumlah mereka karena dikhawatirkan terkena siksa di dunia sama dengan mereka. (Fathul-Bari bab ma dzukira fil-aswaq.)

Fiqhul Hayah fil Hadis

  1. Kedudukan Mulia Ka’bah bagi Umat Islam

Dalam hadis ini dijelaskan bahwa Allah Ta’ala menenggelamkan orang-orang yang hendak mengganggu dan menyerang ka’bah. Hal ini menunjukan luhurnya kedudukan ka’bah bagi umat islam di seluruh dunia. Kemuliaan ini telah Allah wujudkan sejak dahulu ketika Allah jadikan ka’bah sebagai tempat ibadah pertama yang Allah tetapkan di dunia.

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (96) فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِين (97 

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Q.S Ali Imran : 96-97)

 

Allah Ta’ala telah menanam benih suci sejak zaman Ibrahim ‘Alaihissalam yang kelak akan tumbuh benih itu menjadi tempat pusat agama Islam sampai hari kiamat. Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada Ibrahim ‘Alaihissalam  untuk membangun ka’bah dan menjadikannya sebagai pusat dunia bagi umat Islam. Kemudian, Allah menjadikan Baitul Haram itu dianugerahi rezeki berupa buah-buahan yang berlimpah, dan menjadikannya sebagai tempat yang berkah bagi  umat Islam. Berkah itu bisa bermakna (Ziyadah) bertambah dan (al-Baqa) tetap. Keberkahan dalam Ziyadah ditunjukan dengan berlipat gandanya pahala ketika seorang hamba beribadaah di dalam ka’bah. Sedangkan berkah bermakna al-baqa ditunjukan bahwa ka’bah tidak berhenti terus sampai sekarang dan yang akan dating dipenuhi oleh orang-orang yang bersujud kepada Allah ta’ala. (al-Haj ahkamuhu, asraruhu, wa manafi’uhu dalam al-Kunuz min Riyadhissalihin : 97).

  1. Orang yang beriman tidak akan Merasa Tenang dengan Kezhaliman

Nabi saw. menjelaskan dalam hadis ini bahwa orang-orang yang tidak berniat buruk pun akan mendapat keburukan di dunia ketika hidup bersama-sama orang-orang yang zhalim. Sabda Nabi Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam. ini menunjukan bahwa sudah selayaknya orang yang beriman itu tidak merasa tenang dengan kezhaliman apapun yang berada di lingkungannya. Sudah seharusnya ia kemudian berusaha untuk mencegah kezhaliman itu baik dengan tangannya, lisannya, ataupun seminimal mungkin ia mengingkari kezhaliman itu dengan hatinya. Allah swt. berfirman,

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ 

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (Q.S Hud : 113)

  1. Timbangan Amal tergantung Niat Seorang yang beramal

Jika kita ingin menimbang kebaikan amal kita maka timbanglah dengan melihat kebersihan niat kita ketika beramal. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi siapapun yang menempuh jalan akhirat ia benar-benar memperhatikan perkara niat ini. Karena sungguh tidak ada hal yang paling berat bagi seorang hamba dalam beribadah kepada Allah kecuali meluruskan niat dalam beribadah hanya kepada Allah Ta’ala. Wallahu A’lam bis Shawwab.

Penulis : Husna Hisaba Khalid (staf pengajar Pesantren Persatuan Islam 27 Situaksan Bandung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *