Wabah Valentine’s Day di Kalangan Remaja

6 months ago
801

Islam tidak mengharamkan yang namanya “cinta”. Allah swt pun menyifati diri-Nya dengan ar-Rahman ar-Rahim yang berarti Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tetapi euforia di kalangan remaja menyalah-artikan aturan dan kebaikan Allah swt dalam menjaga indahnya cinta. Mereka berani mengekspresikan cinta kepada pasangan dengan cara menghabiskan waktu bersama, bertukar hadiah, mengirimkan kartu ungkapan sayang, bahkan sampai menganggap lumrah perzinaan. Seremonial puncak dari semua itu dilaksanakan pada 14 Februari yang mereka sebut dengan Valentine’s Day.

Memasuki bulan Februari, anak-anak remaja disuguhi tontonan yang secara tidak sadar menjadi tuntunan, dari kalangan artis dan selebritis. Melalui media massa cetak dan elektronik, termasuk media sosial, diperlihatkan, diberitakan, dan dibesar-besarkan tradisi menyambut Valentine’s Day yang puncaknya diperingati setiap tanggal 14 Februari. Dampaknya kalangan muda-mudi terbawa euforia tradisi yang notabene berasal dari Barat tersebut, karena takut dicap ketinggalan zaman.

Sebagaimana dilansir oleh wikipedia, hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day) atau disebut juga hari kasih sayang yang diperingati setiap tanggal 14 Februari, adalah sebuah hari dimana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di dunia Barat.

Asal muasal budaya ini berakar pada tradisi Yunani dan Romawi Kuno. Kaum Yunani Kuno meyakini bahwa antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Sementara dalam tradisi Romawi Kuno, 15 Februari diyakini sebagai hari raya Lupercalia; sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

Pada masa Gereja Kristen, Valentine’s Day ini dikaitkan dengan mitos gugurnya seorang martir bernama Valentinus. Konon ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka. Ia akhirnya dihukum mati pada tanggal 14 Februari. Hari kematiannya kemudian diperingati sebagai Valentine’s Day.

Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran kartu-kartu bertuliskan pesan cinta dalam bentuk “valentines”. Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (asosiasi kartu ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan. Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik “Happy Valentine’s”, yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka ataupun teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya.

Pernyataan cinta tersebut dalam tahap berikutnya menjadi semakin lebih “maju” lagi menjadi melakukan “percintaan”, yang dalam khazanah Islam disebut perzinaan. Gagapnya kaum remaja dengan budaya Barat menjadikan mereka tidak tabu lagi mengikuti budaya Valintine’s Day meski itu jelas-jelas yang haram sekalipun.

Budaya ini tentu merupakan wabah penyakit yang sangat berbahaya karena akan menghancurkan moral generasi muda. Mereka secara otomatis akan menjadi generasi yang lembek dan membebek pada hawa nafsu. Semangat untuk berjuang demi Allah swt dan memperjuangkan syi’ar Islam tidak akan muncul dari generasi remaja yang sudah terbius wabah Valentine’s Day ini. Yang ada justru mereka menjadi generasi yang menghamba pada budaya Barat. Segala yang datang dari Barat dianggap sebagai sebuah tradisi yang baik. Sebaliknya ajaran Islam yang selalu mengkritisi ajaran Barat dianggap sebagai kolot dan kuno. Jika wabah penyakit seperti ini tidak segera disembuhkan, maka kehancuran satu generasi hanya tinggal menghitung detik saja.

Generasi remaja yang sadar akan tanggung jawabnya kepada Allah dan Rasul-Nya harus bergerak ekstra melakukan penyadaran kepada mereka yang sudah tersesatkan. Maksimalkan media sosial untuk mengampanyekan nistanya Valentine’s Day dan segenap praktik yang menjurus perzinaan. Harus ada kerja keras untuk mengajak kaum remaja belajar Islam di masjid melalui kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan dunia remaja. Dengan itu semua semoga kehancuran satu generasi bisa dicegah semaksimal mungkin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *