Berkompromi dengan Polisi

6 months ago
129

Di masyarakat kita, ada semisal tradisi kompromi antara masyarakat dengan aparat, terkhusus dalam kasus pembuatan SIM dan tilang. Masalah administrasi yang sering dianggap ribet dan sulit, menjadi sebuah ”mitos” yang mengakar pada masyarakat. Akhirnya, cara pintas selalu menjadi alternatif pertama untuk menghindari mitos tersebut, sebelum mencoba dan berusaha menyelesaikannya secara legal-formal.

Dikutip dalam website polri.go.id, bahwa SIM adalah bukti registrasi dan identifikasi yang diberikan oleh Polri kepada seseorang yang telah memenuhi persyaratan administrasi, sehat jasmani dan rohani, memahami peraturan lalu lintas dan trampil mengemudikan kendaraan bermotor. SIM diwajibkan bagi setiap pengemudi kendaraan bermotor berdasarkan Pasal 18 (1) UU No. 14 Th 1992 tentang Lalu-lintas dan Angkutan Jalan.

Secara normatif, mekanisme pembuatan SIM terdiri beberapa tahap. Pertama, tahap administrasi. Pemohon wajib melampirkan KTP asli, surat keterangan dokter, dan melakukan pendaftaran. Tahap kedua, pemohon mengikuti uji teori, uji simulator, dan uji praktek. Ketiga, pemohon membayar administrasi pembuatan SIM jika dinyatakan lulus pada tahap kedua. Selama tahap kedua tidak dinyatakan lulus, pemohon sedikitpun tidak akan mengeluarkan biaya, kecuali biaya pemeriksaan kesehatan pada tahap pertama untuk mendapatkan surat keterangan sehat dari dokter.

Biaya yang dikeluarkan untuk membuat SIM jika dinyatakan lulus, bervariatif. Mulai dari yang termurah; SIM D RP. 50.000,- sampai termahal; SIM Internasional Rp. 250.000. Biaya ini tentu saja terbilang murah dibanding dengan biaya “kompromi” yang mencapai kisaran angka satu juta.

Dari rangkaian mekanisme pembuatan SIM di atas, hampir tidak ada yang memberatkan kepada pihak pemohon; baik itu berkaitan registrasi maupun administrasi. Bahkan, dalam waktu proses pembuatannya pun disesuaikan dengan waktu luang si pemohon. Artinya, jika pemohon datang ke Polrestabes di hari Rabu, lalu kemudian dinyatakan tidak lulus, maka pemohon akan kembali lagi di pekan depannya dengan hari yang sama.

Dari beberapa percakapan dengan masyarakat, bahwa jalur kompromi yang sering ditempuh oleh sebagian masyarakat, karena dilatari dengan alasan ribet, sulit, dipersulit, dan bahkan dipastikan tidak akan lulus jika menempuh jalur normal menjadi dalih untuk menempuh jalur yang benar.

Sialnya, dalih masyarakat terhadap sulit dan mustahilnya membuat SIM dengan jalur legal-formal, diperkuat dengan kilah oknum polisi yang memberikan informasi salah terhadap mekanisme pembuatan SIM. Bahkan, mulai dari tukang parkir sampai tukang asongan di sekitar tempat pembuatan SIM, sama-sama menyukseskan agenda “kompromi” antara si pemohon dan si oknum.

Tak dapat dipungkuri, bahwa pembuatan SIM dengan jalur normal terdapat tantangan tersendiri dalam prosesnya. Ngantri lalu gagal lagi, menjadi fenomena yang sering kita temukan bagi mereka berjuang untuk mendapatkan SIM dengan jalur legal. Ada yang gagal dari uji teori, ada yang gagal dari uji simulator, dan ada juga yang gagal uji praktek. Itu semua perlu waktu, tenaga, bahkan biaya yang dikeluarkan. Jika setiap kali tes harus mengeluarkan uang parkir sebesar Rp.2.000,-, bayangkan jika sepuluh kali gagal, maka sebesar Rp. 20.000 uang yang akan ia keluarkan dan itu pun belum termasuk uang makan.

Kesulitan yang dirasakan para pemohon SIM, juga dirasakan di negara lain. Melalui laman tirto.id, disebutkan bahwa Inggris merupakan negara tersulit dalam proses pembuatan SIM. Sekitar 45% tingkat kelulusan uji praktek pembuatan SIM di Inggris pada tahun 2018 lalu. Angka ini menurun dari tahun 2010 yang rata-rata presentase kelulusannya mencapai 46%.

Dibalik kesulitan tersebut, menurut Marcell Kurniawan saat diwawancarai oleh reporter tirto.id, terdapat sejumlah manfaat yang akan didapatkan oleh pemohon SIM. Training Director dari The Real Driving Center itu menyebutkan bahwa ujian pembuatan SIM akan mengasah kemampuan calon pengemudi dalam memahami konsep abstrak yang akan diaplikasikan dalam representasi sesungguhnya. Di samping itu tes tersebut juga mengasah kemampuan proyektif. Seperti ketika parkir dengan membayangkan secara bird eye view agar lebih mudah dalam bermanuver. 

Bagi seorang muslim, kebermanfaatan dalam proses pembuatan SIM secara legal tidak hanya berkaitan dengan kognitif atau pengetahuan saja. Tapi erat berkaitan juga dengan mengasah kecerdasan spiritual. Setidaknya, bagi seorang muslim telah menjalankan perintah Allah untuk berbuat jujur dan bersikap sabar.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur. (Q.S: At-Taubah: 119)

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Q.S: Al-Ahzab: 35)

Karena apapun dalihnya, hati nurani kita tidak bisa menolak bahwa berkompromi dengan oknum polisi merupakan perbuatan “suap-menyuap”. Nembak, nyogok, damai, kompromi, dan apapun istilahnya merupakan bentuk risywah yang pelakunya terancam mendapat laknat Allah.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

Dari Abdullah bin Amr ia berkata, “Rasulullah –shallaLlahu ‘alaihi wa sallam- melaknat orang yang memberi dan penerima suap.” (Sunan Abu Dawud no. 3582)

Maka dari itu, jika tidak mampu berbuat jujur dan bersikap sabar, paling tidak takut terhadap laknat Allah dan Rasulullah –shallaLlahu ‘alaihi wa sallam- dapat menjadi alasan kita untuk tidak melakukan perbuatan risywah dengan dalih bagaimanapun juga. Wal-‘Llaahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *