Menelisik Akar Penyimpangan Seksual

6 months ago
310

Mengawali tahun 2020 Indonesia menjadi perbincangan di dunia. Namun sayangnya bukan soal prestasi yang menjadi topik perbincangannya, melainkan kasus kejahatan seksual terbesar abad ini. Adalah Reynhard Sinaga, pria kelahiran Jambi tahun 1983 yang melakukan kejahatan seksual di Manchaster, Inggris, sejak 2015 hingga tahun 2017. Tidak kurang dari 195 laki-laki yang menjadi korban kejahatan seksualnya selama kurun waktu dua tahun tersebut. Tidak hanya penyimpangan orientasi seksual (homoseks), tetapi ia juga memperkosa dan merekam aksinya tersebut.

Fenomena Reynhard Sinaga ini, tentu mengusik hati siapapun yang membaca headline beritanya. Kekhawatiran tentang masa depan generasi muda, tentu perlu menjadi perhatian serius. Kejahatan yang terjadi ibarat fenomena gunung es, yang muncul ke permukaan mungkin hanya beberapa, di sisi lain boleh jadi masih banyak Reynhard Sinaga lainnya. Melihat kembali beberapa data tentang penyimpangan seksual di Indonesia, nampaknya semua orang akan terkejut dibuatnya.

Dilansir Republika (23/01/16), estimasi Kementerian Kesehatan pada 2012, terdapat 1.095.970 homoseksual atau gay baik yang tampak maupun tidak. Lebih dari lima persennya (66.180) mengidap HIV. Angka yang bukan sedikit dan tidak menutup kemungkinan, hari ini paham LGBT semakin meluas jika terus dibiarkan tanpa ada tindakan hukum yang tegas. Belajar dari kasus Reynhard Sinaga, agaknya setiap orang mesti lebih peduli terhadap pertumbuhan dan perkembangan generasi muda. Tak sekedar nilai kognitif saja, tetapi aspek adab dan moral yang perlu menjadi perhatian dalam pendidikan.

Strata pendidikan seorang Reynhard Sinaga tak bisa dianggap biasa saja. Lulus dari salah satu universitas ternama, Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2006, setahun berselang ia melanjutkan kuliah masternya di Manchaster, Inggris. Bukan hanya satu, tetapi ia meraih dua gelar sekaligus yaitu urban planning atau bidang perencanaan kota dan sosiologi dari Manchaster University. Setahun setelah menyelesaikan masternya, pada Agustus 2012 ia mengambil studi doktoralnya di Leeds University. Sebuah karir pendidikan yang cemerlang, namun tak berbanding lurus dengan apa yang diperbuatnya. Hal ini juga mungkin yang menjadi pertanyaan dalam benak setiap orang, bagaimana mungkin seseorang yang berpendidikan, justru terjerumus pada penyimpangan dan kejahatan seksual.

Penyimpangan seksual terjadi disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya yang cukup dominan adalah faktor sosial dan pendidikan. Dalam perspektif sosial, penyimpangan seksual terjadi karena beberapa hal, di antaranya faktor lingkungan dan pengalaman traumatis atau pelecehan seksual di masa lalu. Keduanya memiliki peranan yang besar dan dapat menjadikan seseorang memiliki disorientasi seksual atau penyimpangan seksual.

Lingkungan tempat ia bernaung, beraktifitas, dan berinteraksi sehari-hari akan berpengaruh besar pada pembentukan kepribadiannya. Menurut Yayuk dan Sugeng (2017) lingkungan hidup di sekitar individu memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perubahan pola hidup yang dijalani individu dalam bermasyarakat (Yayuk Kalsum dan Sugeng Harianto. Penyimpangan Seksual Remaja Di Lingkungan Prostitusi Di Desa Maospati, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan. Jurnal Universitas Negeri Surabaya; Paradigma. Volume 05 Nomer 01 Tahun 2017). Perilaku menyimpang dapat bersumber dari pergaulan yang berbeda, yakni ketika seseorang mempelajari suatu perilaku menyimpang dan interaksinya dengan seseorang yang berbeda latar belakang asal, kelompok, atau budaya.

Pada Kasus Reynhard, seperti dilansir Republika, Kamis (9/1), yang melansir dari Channel News Asia, perubahan sikap pada Reynhard mulai terjadi saat ia pindah ke Inggris, demikian pengakuan salah seorang teman perempuan Reynhard saat masih kuliah di Indonesia. Kepindahan ke Inggris dan jauh dari keluarganya membuat dia bebas dalam hal seksualitas. Seperti kita ketahui, di Inggris sendiri termasuk Manchester, LGBT tumbuh subur dan dianggap sebagai kebebasan memilih orientasi seksual dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM). Reynhard sendiri tinggal di dekat Gay Village, di Kota Manchester.

Faktor lingkungan ini tidak hanya tempat nyata saling berjumpa, tetapi juga dunia maya yang hari ini sudah berada dalam genggaman. Karakter seorang anak dipengaruhi oleh lingkungan sebanyak 80%, pengaruh lingkungan ini tidak hanya datang dari interaksi langsung tetapi juga interaksi di dunia maya melalui gawai (gadget). Dibandingkan dengan siaran televisi, konten dunia maya tentu jauh lebih luas. Setiap orang bebas memilih apa yang ingin dilihat atau ditontonnya. Termasuk dengan konten-konten yang bisa jadi menjurus pada hal-hal yang mendorong hadirnya karakter penyimpangan seksual. Elly Risman dalam kpai.go.id (7/3/16) mengingatkan peran orangtua untuk membimbing anak dalam menggunakan gawai. Sebab kebiasaan anak-anak yang lebih akrab dengan gawai tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Tontonan hari ini, secara tidak sadar selalu dihadirkan sosok gay dalam muatan film ataupun tontonan. Sebut saja film Star Wars: The Rise of Skywalker yang terdapat adegan lesbian atau film Beauty and the Beast yang mengandung sejumlah adegan menampilkan interaksi dua pria yang tidak sesuai, dan film-film lainnya yang disisipi konten LGBT. Dilansir cnnindonesia.com (18/03/17) pengamat sosial budaya Universitas Indonesia, Devie Rachmawati mengatakan tayangan di media, khususnya film, memiliki potensi besar untuk memengaruhi tindakan, perilaku, dan gaya hidup penontonnya. Film mampu membuat orang-orang menganggap apa yang ditayangkan adalah sebuah kebenaran. 

Konten-konten LGBT yang disisipkan dalam film anak-anak pun bukan tanpa tujuan. Pembenaran LGBT ini akan melekat pada benak seorang anak dan kemungkinan besar akan terbawa hingga dewasa. Tontonan tanpa tuntunan, memiliki kemungkinan besar bagi anak-anak mendapatkan pesan yang keliru dari sebuah tayangan. Sehingga berbicara faktor lingkungan ini, tentu sesuatu yang sangat kompleks dalam membentuk karakter seseorang. Apalagi di era hari ini, teknologi yang semakin canggih membuat dimensi ini jauh lebih luas dibandingkan sekedar tempat, tetapi dunia yang terangkum dalam gawai di genggaman. Kekeliruan pergaulan di dunia nyata dan kesalahan dalam memilah serta memilih konten-konten lingkungan maya, dapat menjadi faktor kuat yang mendorong pemahaman yang keliru tentang LGBT atau lebih dari itu memiliki disorientasi seksual. 

Selain faktor lingkungan, faktor traumatis atau pengalaman pelecehan seksual juga memberi dampak cukup besar pada disorientasi seksual. Menurut Darmayanti (2018), kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab kepada orang lain yang berjenis kelamin sama adalah salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya homoseksual. Seseorang yang pernah menjadi korban pelecehan seksual di masa kecilnya, cenderung akan melakukan hal serupa ketika dewasa saat ia tak mendapatkan penanganan yang tepat ketika menjadi korban.

Seseorang yang menjadi korban pelecehan seksual oleh orang dewasa yang berjenis kelamin sama di masa kanak-kanak, kelak saat usia dewasa ketika fantasi seksualnya telah aktif, kejadian itu akan terus membayangi. Roslina Verauli seorang psikolog, seperti dilansir Republika (6/2/16), mengatakan korban akan mengira aktifitas seksual tersebut yang membangkitkan gairah pada korban-korban pelecehan seksual. Tidak hanya perilaku LGBT, tetapi disorientasi seksual lainnya seperti pedofilia dapat disebabkan oleh pelecehan seksual di masa kanak-kanaknya.

Tidak hanya soal pelecehan seksual, disorientasi seksual menjadi LGBT juga seringkali terjadi karena sikap kasar seorang ayah, ibu, atau kakaknya. Bagi seorang lesbian misalnya, perlakuan kasar yang didapat dari ayahnya atau kakak laki-lakinya, dapat menimbulkan efek traumatis. Kekerasan yang dialami dari segi fisik, mental, dan seksual membuat seorang wanita itu bersikap benci terhadap semua pria. Begitu pun pada seseorang yang memiliki disorientasi seksual menjadi Gay. Hal ini dapat ditimbulkan dari perlakuan kasar seorang perempuan di masa kanak-kanak, atau pengalaman pahit dengan lawan jenis seperti disakiti atau diselingkuhi, sehingga seseorang tersebut lebih mendapatkan kenyamanan ketika berada dengan sesama jenisnya.

Penyimpangan seksual tidak hanya terjadi karena faktor-faktor sosial, tetapi juga faktor pendidikan yang keliru. Pendidikan pertama dan utama adalah pendidikan keluarga. Pendidikan keluarga ini tergambar dari pola asuh yang diberikan, sebab pola asuh memiliki peranan besar membentuk kepribadian anak sejak dini. Pola asuh ini dimulai dengan mengenalkan identitas seorang anak, tidak hanya sebatas tentang laki-laki dan perempuan tetapi juga makna di balik keduanya. Selain itu, pola asuh orangtua terhadap penampilan fisik seperti pakaian, perawatan tubuh, dan lain sebagainya juga akan sangat memengaruhi pembentukan karakter seseorang sejak dini.

Menurut Darmayanti (2018), cara orang tua memperlakukan penampilan fisik seorang anak dapat memengaruhi terbentuknya homoseksual. Orang tua yang menginginkan anak perempuan, memperlakukan anaknya sejak kecil dengan pola pengasuhan perempuan, dari segi pakaian, pekerjaan, ataupun permainan. Anak sudah terbiasa dengan identitas diri perempuan sehingga berperilaku seperti perempuan dan menyukai laki-laki (Darmayanti F., Sumitri. Faktor Penyebab Perilaku Laki-Laki Suka Berhubungan Seks Dengan Laki- Laki (LSL) Di Kota Bukittinggi.  Jurnal Endurance 3(2) Juni 2018 (213-225)). Begitupun sebaliknya, orangtua menginginkan anak laki-laki, sehingga anak perempuannya diberi perlakuan layaknya seorang anak laki-laki akan berpotensi membentuk disorientasi seksual.

Pola asuh yang keliru juga dapat terjadi ketika hilang salah satu peran dari kedua orangtua, seperti hilangnya sosok ayah atau sosok ibu. Perilaku homoseksual misalnya, biasanya terjadi karena ikatan yang kuat dengan ibu sementara peran ayah tidak efektif dalam pengasuhan. Sebab itu, dalam pola asuh baik seorang ayah ataupun ibu memiliki peran yang sama-sama penting dalam membangun karakter seorang anak. Pendidikan keluarga adalah pondasi awal yang menentukan kepribadian seorang anak. Pendidikan seks sejak dini menjadi sesuatu hal yang penting, yakni mengajarkan seorang anak tentang gendernya dan bagaimana bersikap serta berprilaku sebagaimana gendernya.

 Di dalam Islam sendiri, pendidikan seks ini meliputi pendidikan gender dan berbagai karakternya. Kemudian tempat tidur yang dipisahkan dan mainan yang sesuai dengan gendernya. Kekeliruan pendidikan yang nampak dalam pola asuh yang keliru, besar kemungkinan akan menjadi penyebab seorang anak menjadi seorang LGBT atau disorientasi seksual. Selain itu, tentu pendidikan agama menjadi pondasi yang paling fundamental bagi seseorang. Kedekatan dengan Allah sehingga hadir muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah), penguatan interaksi dengan al-Qur’an dan hadits, dan pokok-pokok agama lainnya.

Kasus penyimpangan dan kejahatan seksual seorang Reynhard Sinaga, perlu menjadi momentum bagi setiap keluarga untuk kembali menguatkan pondasinya. Menjadi langkah awal untuk lebih peduli pada lingkungan sosial, setiap kejadian yang dialami putera-puteri, dan pola asuh serta pendidikan yang hendak diberikan. Kepedulian terhadap sesama dan juga keluarga, perlu untuk terus ditingkatkan. Peran orangtua, keluarga, teman, dan juga lingkungan menjadi langkah penting sebagai upaya preventif melindungi generasi dari penyimpangan seksual. Saling berbicara dan bertukar cerita, mengesampingkan sejenak gawai, menjadi salah satu solusi membangun kedekatan di antara anggota keluarga dan juga teman. Agar pesan-pesan kebaikan yang hendak diberikan, dapat tersampaikan dengan baik dan diterima dengan cara yang baik.

Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *