Mencegah Penyakit Penyimpangan Seksual Sejak Dini

6 months ago
488

Akhir-akhir ini kita dihebohkan oleh kasus Reynhard Sinaga, pria asal Jambi yang divonis bersalah pada pengadilan Manchester Inggris atas kasus pemerkosaan terhadap 136 laki-laki. (Tribun-Bali.com, Jakarta). Mendengar dan melihat berita ini, tentu para hati orang tua sangat miris, takut, seolah-olah mereka berteriak: “Ayo rangkul putra-putri kita!”. Ketika kasus ini mencuat, dunia seakan berbicara, kemana orang-orang yang mengatakan kaum LGBT dan penyimpangan seksual lainnya harus dirangkul dan mengatakan bahwa mereka mempunyai HAM, pilihan hidup atas dasar yang merata, padahal semua ini tidak lebih bejat dan rendah dari seekor binatang. Kasus ini merupakan tamparan keras dan juga pengingat bagi para orang tua agar senantiasa menjaga dan mendidik anak-anak kita dengan tuntunan agama Islam agar mereka terhindar dari penyakit penyimpangan seksual sejak dini.

Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur segala aspek kehidupan dengan  tuntunan yang sangat baik. Seluruh kehidupan manusia, tidak bisa terlepas dari fitrah keislaman yang telah Allah berikan, termasuk dengan pemenuhan insting/gharizah seksual yang telah Allah berikan kepada manusia. Allah telah memberikan tuntunan kita dalam pemenuhan dorongan seks ini dengan ikatan pernikahan.

Di Indonesia, persoalan penyimpangan seksual masih dianggap hal yang negatif. Namun akhir-akhir ini, persoalan ini menjadi keresahan masyarakat terutama orang tua. Karena semakin banyak kasus LGBT yang terjadi di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Semua ini berakar pada satu masalah, ketika hidup seks bebas, kebarat-baratan, jauh dari tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah menjadi kiblat para remaja bahkan anak-anak.

Al-Quran sendiri telah menyebutkan kisah-kisah umat Nabi yang melakukan homoseksual dan lesbian, diantaranya firman Allah :

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (80) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (81)

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). Ingatlah tatkala dia berkata kepada mereka : “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepas nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (Q.S Al-A’raf : 80-81).

Di ayat ini dijelaskan teguran Nabi Luth untuk kaumnya (penduduk Sodom) atas perbuatan keji mereka, kebiasaan buruk mereka dalam behubungan seks dengan sesama jenis. Padahal, Allah sendiri telah menggambarkan dan mengajarkan fithrah asli laki-laki adalah berpasangan dengan perempuan. Allah swt berfiman :

`نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu dari mana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S Al-Baqarah : 223).

Tujuan pendidikan seks dalam Islam adalah untuk menjaga keselamatan dan kehormatan serta kesucian anak-anak di tengah masyarakat. Terjaga akhlak dan agama sampai jenjang pernikahan.

Adapun cara mencegah penyakit penyimpangan seksual sejak dini diantaranya :

  1. Ajari anak-anak kita dengan ilmu agama Islam, sehingga mereka memahami akan akhlak yang baik, bertanggung jawab atas semua perbuatan mereka. Paham akan sebuah dosa yang akan diberi siksa oleh Allah, dan sebuah kebaikan yang akan diberi pahala oleh Allah. Sehingga, apapun yang mereka lakukan, senantiasa yakin bahwa segala perbuatan akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah swt.
  2. Mengenalkan batas-batas aurat dan mengajarkan kepada anak anggota tubuh mana saja yang tidak boleh terlihat dan dipegang oleh orang lain. Hal ini diperlukan agar anak semakin peka dan timbul rasa sensitif untuk senantiasa menjaga anggota tubuhnya ketika ada orang jahat yang mendekatinya. Orang tua pun harus mengajarkan dan menumbuhkan rasa malu kepada anak apabila auratnya terlihat oleh orang lain. Dan mengajarkan pakaian sesuai tuntunan syariat Islam, serta sebaik-baik pakaian adalah taqwa.
  3. Memisahakan tempat tidur anak di usia 10 tahun. Pemisahan tempat tidur ini dilakukan dari sejak kecil, terutama bila usia anak mencapai 10 tahun, karena di masa ini anak sudah bisa membedakan perilaku baik dan buruk. Dan di usia inipun, anak sudah mencapai usia aqil baligh dan mempunyai dorongan seksual. Oleh karenanya pemisahan tempat tidur ini dilakukan untuk membangkitkan kedasadaran anak-anak tentang perbedaan jenis kelamin, dan juga menjaga akhlak, serta memberi pengetahuan batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan.
  4. Melarang anak laki-laki berpenampilan seperti perempuan, atau perempuan berpenampilan seperti laki-laki.
  5. Identifikasi peran gender. Bagaimana seharusnya anak laki-laki berperilaku, mengajarkan sikap kepemimpinan terhadap anak laki-laki dan menjadikan ayah sebagai model dalam bersikap. Begitu pun anak perempuan, kenalkan dan ajarkanlah mereka sifat-sifat dan perbuatan, kewajiban anak perempuan, dan menjadikan ibu sebagai model dalam bersikap.
  6. Pengajaran seksual dari masa kecil sesuai usia mereka. Orang tua harus membangun komunikasi yang sinergi dengan anak-anaknya tentang pengenalan seksual sesuai usia mereka, mengenalkan bagaiamana ciri-ciri usia akil balig, pengajaran hukum-hukum taklif yang telah dikenakan ketika menginjak usia balig.
  7. Senantiasa mendoakan putra-putri kita agar senantiasa dalam penjagaan dan perlindungan Allah swt.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *