Pro-Kontra Gadget Untuk Anak

6 months ago
564

Di era digital ini problematika mengenai gadget tetap menjadi sorotan utama bagi para orang tua. Pertentangan antara pro-kontra gadget untuk anak tidak pernah ada ujungnya. Masing-masing dari kubu pro maupun kontra memiliki argumen yang kuat. Maka, perlu diambil jalan tengah dalam permasalahan ini.

Permasalahan tentang gadget dan efek kecanduannya sebenarnya tidak hanya berdampak pada kalangan anak-anak saja, melainkan untuk kaum dewasa pun sangat memungkinkan berdampak bagi mereka yang belum dewasa dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Sedangkan anak yang sudah dipastikan perannya sebagai peniru dari kaum dewasa pasti tidak akan jauh tingkah lakunya dari mereka dalam menggunakan gadget. Seringkali anak dengan cepat meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya, salah satunya adalah kedua orang tuanya. Mereka akan mengetahui bagaimana seharusnya penggunaan gadget dari melihat interaksi kedua orang tuanya dengan gadgetnya. Ketika orang tuanya tidak bisa mengatur waktu dalam menggunakan gadget (baca: lebih lama berinteraksi dengan gadget daripada lingkungan sekitarnya), maka jangan aneh dan jangan salahkan anak akan berlaku demikian, dia lebih nyaman bercengkrama hanya dengan gadgetnya dalam durasi waktu yang lama, walaupun tanpa ada orang yang menemaninya (ia tidak merasa sendiri selama ada gadget di tangannya). Ataupun sebaliknya, jika kedua orang tua bisa mengatur interaksi dengan gadgetnya, maka anak pun akan berlaku demikian. Ia akan mudah diatur untuk membatasi diri dalam penggunaan gadget dan terlebih ia akan cenderung lebih nyaman berinteraksi dengan kedua orang tuanya daripada dengan gadgetnya.

Sebenarnya problematika tentang kecanduan gadget yang mengakibatkan sakit jiwa merupakan fenomena gunung es tutur Aiman sebagai wartawan Kompas TV. Pasalnya saat ia mewawancarai salah satu dokter yang bertugas di RSJ Cisarua Jawa Barat, diketahui bahwa dalam setahun (sejak 2019) dapat mencapai lebih dari 100 anak teridentifikasi mengalami gangguan kejiwaan akibat kecanduan gadget atau gawai. Jumlah tersebut adalah jumlah yang diketahui datang ke RSJ sedangkan sisanya bisa jadi ada banyak anak lainnya yang juga terganggu kejiwaannya, namun tidak diketahui. Hal inilah yang mendasari Aiman Witjaksono berujar bahwa kasus ini seperti gunung es, yang terlihat tidak seberapa dari jumlah keseluruhan anak yang terinfeksi virus “kecanduan gadget/gawai” di Indonesia.

Adapun beberapa ciri dan akibat dari kecanduan gadget sebagaimana yang dituturkan oleh Dr. Lina Budianti (Dokter Spesialis Jiwa Anak dan Remaja RSJ Jawa Barat) berdasarkan ICD (International Classification of Diseases) adalah sebagai berikut:

  1. Anak lebih mengutamakan gadget daripada aktivitas lainnya yang bermanfaat, seperti: belajar, bermain sama teman, hobi-hobinya, dan sebagainya.
  2. Anak mengalami efek buruk yang dirasakan oleh dirinya sendiri saat bermain gadget terlalu lama, seperti: agresif dan menyendiri, sulit konsentrasi, gangguan penglihatan, pola tidur yang berubah, berbohong, atau bahkan sampai mencuri untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
  3. Terlambat berbicara bagi balita
  4. Mudah marah
  5. Kerap mengamuk
  6. Depresi, jika tidak bisa mengakses gawai

Solusi bagi orang tua untuk menghindari anak dari kecanduan gadget menurut Dr. Lina Budianti adalah sebagai berikut:

  1. Orang tua perlu tahu, game-game seperti apa yang ada dan dimainkan oleh anak-anaknya.
  2. Orang tua mesti menjadi role model bagi anak-anaknya dalam menggunakan gadget.
  3. Orang tua mesti bisa membatasi waktu dan finansial gadget untuk anak-anaknya. Sebagaimana yang disampaikan oleh para ahli bahwa untuk usia balita tidak diperkenankan sama sekali mengenal gadget. Sedangkan untuk usia 8-10 tahun baru diperbolehkan memegang gadget, dan hanya diberikan 1-2 jam sehari, tidak lebih. Serta kepemilikan gadget tidak diserahkan kepada anak sehingga anak bebas menggunakan gadgetnya.

Terlepas dari dampak buruk yang diakibatkan dari gadget, ada dampak positif lainnya dari adanya gadget untuk anak-anak. Hal ini tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa dipukul rata semuanya bahwa gadget berbahaya bagi anak. Maka, jelaslah firmanNya Ta’ala وَلَا تُسْرِفُوْا (QS. Al-An’am: 141) bahwa larangan berlebihan tersebut berlaku dalam segala hal (Tafsir ath-Thabari [12]:174). Sehingga dapat dipahami bahwa apapun yang berlebihan itu akan berdampak buruk, demikian pula dalam penggunaan gadget. Jika gadget digunakan dengan pertengahan (baca: seperlunya), maka gadget akan berdampak positif (bermanfaat) bagi penggunanya, baik anak-anak maupun kaum dewasa.

Contoh, dari adanya gadget kemampuan motorik dan kognitif anak bisa terasah. Kemampuan motorik seperti gerakan mata dan jari jemari tangan yang saling berkoordinasi saat mengikuti arahan kursor dalam mengoperasikan gadget ataupun ketika bermain game. Dan kemampuan kognitif berupa cara berpikir hingga pemecahan masalah anak bisa diasah melalui tayangan-tayangan video ataupun game seperti puzzle dan sebagainya. Bahkan dari gadget pula dapat merangsang daya kreatif anak. Seperti game mewarnai ataupun menggambar dan sebagainya. Namun, semua itu kembali kepada kadar penggunaannya, yakni tidak berlebihan, baik bagi anak-anak maupun dewasa. Cukuplah bagi seorang anak untuk dibatasi penggunaan gadget hanya 1-2 jam setiap harinya. Dan bagi para orang tua selain dari memerintahkan anak dalam membatasi penggunaan gadget, mereka juga berkewajiban untuk menjadi role model untuk anak-anaknya, yakni dengan menggunakan gadget hanya dalam hal-hal yang bermanfaat, serta tetap luangkan waktu bersama anak, agar anak tetap mendapatkan haknya (perhatian dari kedua orang tuanya). Wal-‘Llaahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *