Pentingnya Belajar Tauhid - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Pentingnya Belajar Tauhid

10 months ago
1170

Seorang muslim harus paham bahwa menuntut ilmu agama yang benar merupakan tuntutan baginya. Hanya dengan ilmu yang benarlah dia dapat melaksanakan amalan-amalan dengan benar. Agama ini bersumber dari wahyu yang sejatinya merupakan ilmu yang harus dituntut atau dicari. Namun, tak jarang para para masyarakat awam maupun penuntut ilmu secara khusus yang merasa bingung ilmu agama mana yang harus dipelajari pertama kali dikarenakan luasnya khazanah keilmuan islam dan banyaknya cabang-cabang ilmunya.

Jamise Syar'i

Sebenarnya, seorang muslim tidak wajib untuk mempelajari seluruh cabang ilmu yang ada dalam khazanah kelimuan islam. Namun, yang wajib dipelajari olehnya adalah ilmu yang penting baginya atau ilmu mengenai sesuatu yang memang akan ia hadapi, atau yang diistilahkan oleh Syaikh az-Zarnujiy―rahimahul-`Llâh―dengan ‘ilmul-hâl (Burhânul-Islâm az-Zarnûjiy, Ta’lîmul-Muta’allim hlm. 9).

al-Hâfizh Ibn ‘Abdil-Barr―rahimahul-`Llâh―berkata dengan makna yang senada:

أجمع العلماء أن من العلم ما هو فرض متعين على كل امرئ في خاصته بنفسه ،ومنه ما هو فرض على الكفاية ،إذا قام به قائم سقط فرضه على أهل ذلك الموضع

Jumhur ulama sepakat bahwa ilmu (agamapen) itu ada yang hukumnya fardlu ‘ain bagi setiap orang dan ada juga yang hukumnya fardlu kifayah yang jika sudah dipelajari oleh seseorang, gugurlah kewajiban dari penduduk tempat tersebut.” (Jâmi’ Bayânil-’Ilmi wa Fadllihi hlm. 10)

Salah satu ilmu yang paling penting dan harus dipelajari pertama kali oleh seorang muslim adalah tauhid, karena tauhid merupakan inti dari syahadat lâ ilâha illal-`Llâh; sedangkan syahadat merupakan fondasi dari bangunan agama Islam. Oleh karenanya, benarlah ucapan Syaikh Hafizh al-Hakimi―rahimahul-`Llâh―:

أول واجب على العبيد … معرفة الرحمن بالتوحيد

Kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah mengenal ar-Rahman melalui (ilmu) tauhid.” (Ma’ârijul-Qabûl: I/29 dalam al-Mausû’ah al-’Aqadiyyah Dorar.net)

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―bersabda kepada Mu’adz ibn Jabal―radliyal-`Llâhu ‘anhu―ketika mengutusnya untuk berdakwah ke Yaman:

إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ فَإِذَا عَرَفُوا اللَّهَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ فَإِذَا فَعَلُوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً مِنْ أَمْوَالِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِذَا أَطَاعُوا بِهَا فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ

Sesungguhnya engkau akan tiba di sebuah kaum ahli kitab, maka jadikanlah hal pertama yang kau ajak beribadah (bertauhid) kepada Allah. Jika mereka telah mengenal Allah, maka beritakanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah melaksanakannya, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka menunaikkan zakat dari harta-harta mereka dan disalurkan kepada orang-orang faqir mereka. Jika mereka taat, maka ambillah dari mereka dan berhati-hatilah dari harta berharga milik orang-orang.” (Shahîh al-Bukhârî kitâb az-zakât bab lâ tu`khadzu karâ`ima amwâlin-nâsi fis-shadaqati no. 1458)

Selain kewajiban pertama bagi setiap hamba, ternyata tauhid harus terus dijaga sampai mati; karena ketika seorang hamba mati, maka hanya tauhidnya yang dapat menyelamatkannya dari api neraka menuju surga Allah―’azza wa jalla―. Nabi Muhammad―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―bersabda:

 مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Siapa yang mati dalam keadaan mengetahui (makna) lâ ilâha illal-`Llâh, pasti masuk surga.” (Shahîh Muslim kitab al-îmân bab man laqiyal-`Llâha bil-îmâni wa huwa ghairu syakkin fîhi dakhalal-jannata no. 145).

Jadi, tauhid selain merupakan kewajiban pertama bagi seorang hamba, juga menjadi kewajiban terakhir baginya. Maka, ini menunjukkan pentingnya belajar tauhid dan mempelajarinya itu harus seumur hidup. Jangan sampai hanya di awal-awal saja semangat belajar tauhid, tapi di akhir-akhir tidak, sehingga ketika dekat dengan ajalnya, keimanan/tauhidnya kepada Allah malah menurun, mati dalam keadaan musyrik, na’ûdzu bil-`Llâh.

Selain merupakan kewajiban yang pertama dan terakhir, dengan mempelajari ilmu tauhid, seseorang akan memiliki aqidah yang lurus yang dapat mendorongnya untuk senantiasa beramal shalih. Allah―’azza wa jalla―berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulul-amri di antara kalian. Jika kalian berselisih akan suatu perkara, maka kembalikanlah pada Allah (al-qur`an) dan RasulNya (as-sunnah) jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Demikian itu adalah lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya.” (QS al-Ahzâb [33] : 70)

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kepada para hambaNya untuk taat kepada Allah, RasulNya, dan ulil amri, serta selalu menjadikan al-Qur`an dan as-Sunnah sebagai rujukan dalam menyelesaikan segala permasalahan, jika mereka memang beriman kepada Allah dan hari akhir. Maka, dari sini dapat kita pahami bahwa keimanan/aqidah yang lurus akan membuat seorang hamba lebih mudah untuk taat kepada Allah dan beramal shalih. Sebaliknya, jika aqidahnya tidak benar, maka sulit baginya untuk taat kepada Allah dan beramal shalih.

Ketika seorang hamba sudah yakin bahwa setiap amal shalihnya akan diganjar pahala oleh Allah dan setiap amal buruknya akan diganjar dosa olehNya, maka keyakinan ini akan membuatnya semakin semangat beramal shalih dan semakin takut untuk bermaksiat. Maka, seorang hamba yang senantiasa mempelajari dan mendalami ilmu tauhid, maka akan mendorongnya untuk senantiasa beramal shalih.

Selain itu, aqidah yang lurus akan membuat seorang hamba sadar akan tujuan hidupnya di dunia, yaitu beribadah kepada Allah sebagai bekal menuju akhirat, bukan sibuk mengumpulkan berbagai macam perhiasan duniawi. Allah―’azza wa jalla―berfirman:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’.” (QS al-Jumu’ah [62] : 8)

Ketika seorang hamba yakin bahwa kematian dapat menghampirinya kapanpun dan di manapun, maka orientasi hidupnya akan terus terfokus pada akhirat, tidak akan tergiur oleh segala kenikmatan dunia yang menipu. Keyakinan yang kuat akan kematian dan hari akhir ini tentu dapat diraih dengan mempelajari ilmu tauhid.

Ilmu tauhid, ada yang hukumnya fardlu ‘ain untuk dipelajari dan ada juga yang hukumnya fardlu kifayah. Hal-hal yang harus dipelajari oleh setiap hamba (fardlu ‘ain) dari ilmu tauhid adalah hal-hal yang dapat membuat keyakinannya terhadap Allah menjadi lurus, seperti apa saja haq-haq Allah yang wajib ditunaikan, baik dalam dzatNya, nama-namaNya, perbuatan-perbuatanNya, maupun sifat-sifatNya secara umum.

Ketika ditanya mengenai firman Allah:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ

Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua.” (QS al-Hijr [15] : 92), Anas ibn Malik dan ‘Abdullah ibn ‘Umar―radliyal-`Llâhu ‘anhumâ―berkata: “(Ditanya) mengenai (makna) lâ ilâha illal-`Llâh.” (Tafsîr at-Thabari: XVII/150)

Adapun yang fardlu kifayah dari ilmu tauhid adalah hal-hal yang merupakan rincian dan pendalilan (istidlâl) dari pokok-pokok tauhid serta kemampuan untuk membantah syubhat dan orang-orang yang beraqidah menyimpang. Untuk memahami yang seperti ini memang sulit, butuh tenaga yang lebih dan waktu yang lama. Namun, betapa pentingnya ilmu ini sehingga minimal harus ada seorang muslim yang mempelajari dan menguasai ilmu ini pada setiap zaman.

Kesimpulannya, pada dasarnya belajar tauhid itu penting dan hukumnya fardlu ‘ain bagi setiap muslim dengan mempelajari dalil-dalil yang umum saja. Adapun untuk mendalami dalil-dalil yang terperinci, maka hukumnya fardlu kifayah.

Wal-`Llâhu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *