Teladan Kejujuran Nabi Muhammad saw

5 months ago
937

Kaum kafir Quraisy pra-Islam memberikan julukan al-Amin; orang yang dapat dipercaya, kepada Nabi Muhammad saw. Artinya Nabi saw adalah manusia yang sangat jujur hingga mendapat predikat terhormat dari kaumnya. Julukan al-Amin tentu bukan sembarangan diberikan pada diri Muhammad, artinya bahwa masyarakat ketika itu sudah melihat dan merasakan bagaimana kejujuran Muhammad saw. Muhammad saw memulainya dari diri sendiri dan berdampak pada kebaikan untuk orang lain dan orang-orang di sekitarnya, sebab memang kejujuran akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya dan juga orang lain. Muhammad muda (12 tahun) kerap mengikuti pamannya Abu Thalib untuk berdagang. Bahkan kadang-kadang ia ikut berdagang hingga ke negeri jauh seperti Syam (Suriah).

Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah, tidak seperti pedagang pada umumnya, dalam berdagang Muhammad saw dikenal sangat jujur, tidak pernah menipu pembeli maupun majikannya. Muhammad saw juga tidak pernah mengurangi timbangan atau pun takaran. Terkenal dengan kejujurannya, seorang saudagar wanita kaya, bernama Khadijah meminta kepada Muhammad saw untuk menjual barang dagangannya. Ia meminta kepada Muhammad saw berdagang ke Syam. Jumlah harta yang dititipkan melebihi jumlah yang diberikan kepada pedagang lain. Muhammad saw mampu menjual barang dagangan Khadijah dan meraup keuntungan yang besar dan berlipat ganda. Muhammad saw juga tidak pernah memberikan janji-janji yang berlebihan, apalagi bersumpah palsu. Semua transaksi dilakukan atas dasar sukarela, serta dengan ijab kabul. Muhammad saw tidak pernah melakukan sumpah untuk menyakinkan apa yang dikatakannya, termasuk menggunakan nama Tuhan.

Pernah suatu ketika Muhammad saw berselisih paham dengan salah seorang pembeli. Saat itu Muhammad saw menjual dagangan di Syam, ia bersitegang dengan salah satu pembelinya terkait kondisi barang yang dipilih oleh pembeli tersebut. Calon pembeli berkata kepada Muhammad saw: “Bersumpahlah demi Lata dan Uzza!” Muhammad saw menjawab: “Aku tidak pernah bersumpah atas nama Lata dan Uzza sebelumnya.” Baginya kejujuran adalah hal terpenting dalam kehidupannya.  

Prinsip kejujuran Muhammad saw tentu saja bertolak belakang dengan fenomena saat ini. Tidak terkecuali dengan para pemangku kebijakan, bahkan mungkin juga para pemuka agama. Tidak sedikit di antara mereka yang jauh dari nilai-nilai kejujuran yang diteladankan oleh Muhammad saw. Praktik-praktik keagamaan hanya sebagai simbol belaka, jauh dari ruh yang sebenarnya. Tidak mampu menjadi wujud akhlaq mulia. Kebohongan demi kebohongan muncul dari mulut mereka, untuk menutupi kesalahan di antara mereka. Mereka tidak jujur dalam berucap, tidak jujur dalam bertindak.

Saking mereka sudah tidak punya sifat kejujuran, sesuatu yang sudah nampak diketahui kesalahannya, mereka tetap berdalih bahwa mereka tidak bersalah. Bahkan menuduh terhadap orang lain dengan tuduhan yang keji. Mereka menganggap bahwa merekalah yang benar. Jadinya “maling teriak maling”.

Padahal Allah swt sudah mengingatkan umatnya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan (QS. an-Nisa` [4] : 135).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah [5] : 8)

Mereka yang tidak jujur pasti akan merasakan akibatnya. Orang yang jujur juga pasti akan mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan, serta kemenangan sebagaimana yang pernah dialami oleh Nabi Muhammad saw. Wal-‘Llahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *