Hukum Sholat ‘Id di Rumah

5 months ago
380

Bismillah, terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan ada larangan shalat ‘Id di tempat terbuka, apakah boleh shalat ‘Id di rumah bersama keluarga? Mohon dalilnya. Terima kasih. 0813-1209-xxxx, 0821-9858-xxxx

 

Kedudukan shalat ‘Id; ‘Idul-Fithri atau ‘Idul-Adlha, di luar tempat yang biasanya, ada sisi persamaannya dan perbedaannya dengan shalat Jum’at yang juga di luar tempat yang biasanya ketika terkendala satu kedaruratan seperti pandemi Covid-19 saat ini. Sisi persamaannya ada ikhtilaf tentang kebolehan dan tidaknya. Sisi perbedaannya; dalam konteks shalat Jum’at, jumhur ulama menyatakan tidak sah shalat Jum’at di rumah, sementara sebagian ulama membolehkannya. Sementara dalam konteks shalat ‘Id jumhur ulama membolehkan shalat ‘Id di rumah jika ada kendala tidak bisa ke mushalla, dan sebagian ulama menyatakan tidak boleh shalat ‘Id di rumah (al-Fiqhul-Islami wa Adillatuhu 2 : 1391 bab hal tuqdla shalatul-‘Id wa hal tushalla munfaridan).

Di antara sebab mengapa jumhur ulama membolehkan shalat ‘Id di rumah sementara shalat Jum’at tidak, karena dalam shalat Jum’at terikat persyaratan ada “panggilan menuju shalat Jum’at” (idza nudiya lis-shalat min yaumil-jumu’ah fa-s’au ila dzikril-‘Llah) atau adzan, sementara dalam shalat ‘Id syarat dan syari’at adzan tersebut tidak ada. Ini pun tentunya dengan tidak menafikan pendapat sebagian ulama—di luar jumhur ulama—yang menyatakan bahwa ketika ada kedaruratan wabah, adzannya sementara boleh dikumandangkan di rumah. Hanya tentunya tetap statusnya “tidak wajib” jum’atan, hanya “boleh” mengerjakan jum’atan di rumah. Mengingat atsar Anas ibn Malik ra yang dijadikan dalilnya ketika ia tinggal di villanya di Zawiyah menyebutkan terkadang ia mengamalkan jum’atan dan terkadang tidak jum’atan—dan menurut pendapat kelompok ini maksudnya jum’atan di villanya, sementara menurut jumhur ulama maksudnya Anas ikut jum’atan ke Bashrah dan terkadang tidak, sebab tidak ada syari’at shalat Jum’at di rumah. Dalam shalat ‘Id tidak ada persyaratan adzan seperti shalat Jum’at. Maka dari itu pelaksanaannya tidak terikat pada ada atau tidak adanya adzan tersebut. Ketika pelaksanaan shalat ‘Id berjama’ah di satu tempat luas (mushalla) terkendala maka diperbolehkan untuk shalat ‘Id di tempat masing-masing; masjid, gedung serbaguna, balai pertemuan, atau di rumah sekalipun.

Terlebih pelaksanaan shalat ‘Id di rumah bersama keluarga atau di tempat lain selain mushalla terdapat atsarnya dari shahabat dan disepakati oleh jumhur ulama fiqih bisa diamalkan. Sementara untuk shalat Jum’at, atsar atau pengamalan dari umat Islam sepanjang masa terkait pelaksanaan shalat Jum’at di rumah tidak ada atau dinilai ada tetapi ihtimal (masih diperselisihkan karena ketidakjelasannya), maka dari itu jumhur ulama menilai tidak absah shalat Jum’at di rumah masing-masing.

Imam al-Bukhari menuliskan hujjah pelaksanaan shalat ‘Id di rumah bersama keluarga dalam kitab Shahihnya sebagai berikut:

بَاب إِذَا فَاتَهُ الْعِيدُ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَكَذَلِكَ النِّسَاءُ وَمَنْ كَانَ فِي الْبُيُوتِ وَالْقُرَى لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَأَمَرَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ مَوْلَاهُمْ ابْنَ أَبِي عُتْبَةَ بِالزَّاوِيَةِ فَجَمَعَ أَهْلَهُ وَبَنِيهِ وَصَلَّى كَصَلَاةِ أَهْلِ الْمِصْرِ وَتَكْبِيرِهِمْ وَقَالَ عِكْرِمَةُ أَهْلُ السَّوَادِ يَجْتَمِعُونَ فِي الْعِيدِ يُصَلُّونَ رَكْعَتَيْنِ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ وَقَالَ عَطَاءٌ إِذَا فَاتَهُ الْعِيدُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Bab: Apabila tertinggal shalat ‘Id maka shalat dua raka’at. Demikian juga kaum perempuan dan siapa saja yang ada di rumah dan perkampungan, berdasarkan sabda Nabi saw: “Ini adalah ‘id (hari raya) kita orang Islam.” Anas ibn Malik (shahabat, w 91 H) memerintahkan maula (hamba sahaya yang sudah dimerdekakan)-nya, Ibn Abi ‘Utbah, di Zawiyah (satu tempat yang berjarak 6 mil/10 km dari Bashrah, Irak)—untuk menjadi imam shalat, maka ia mengumpulkan keluarganya/istrinya dan putra-putranya lalu shalat (‘Id) seperti shalatnya penduduk kota dan bertakbir seperti mereka. ‘Ikrimah (tabi’in, seusia dengan ‘Atha`) berkata: “Orang yang sedang ada dalam satu rombongan silahkan berkumpul untuk shalat ‘Id dan mereka shalat dua raka’at sebagaimana yang dikerjakan oleh Imam (Pemerintah).” ‘Atha` (tabi’in, w. 114 H) berkata: “Apabila tertinggal shalat ‘Id, maka shalat saja sendiri dua raka’at.” (Shahih al-Bukhari bab idza fatahul-‘id).

Adapun hadits marfu’ dari Nabi saw yang dijadikan dalil oleh Imam al-Bukhari adalah hadits ‘Aisyah yang memberitahukan protes Abu Bakar kepada dua orang perempuan yang sedang bernyanyi pada hari Mina, tetapi kemudian Nabi saw tetap mengizinkannya dengan bersabda:

دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ

“Biarkan mereka Abu Bakar, karena ini hari raya.” (Shahih al-Bukhari bab idza fatahul-‘id no. 987).

Hadits kedua masih dari ‘Aisyah ra, ketika ada orang-orang Habasyah yang bermain di masjid dan ditegur oleh ‘Umar ra, tetapi Nabi saw ternyata memperkenankan mereka untuk terus bermain dengan menegur ‘Umar ra:

دَعْهُمْ أَمْنًا بَنِي أَرْفِدَةَ

“Biarkan mereka,” karena memberikan keleluasaan kepada Bani Arfidah—yang sedang bermain tersebut (Shahih al-Bukhari bab idza fatahul-‘id no. 987. Dalam awal bab shalat ‘Id—no. 950—disebutkan bahwa kejadian dalam hadits di atas pada hari ‘Id).

Yang dijadikan dalil oleh Imam al-Bukhari secara spesifiknya (wajhul-istidlal) adalah sabda Nabi saw dalam hadits ‘Uqbah ibn ‘Amir ra yang dikutip olehnya di awal:

هَذَا عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ

“Ini adalah ‘id (hari raya) kita orang Islam.”

Hadits ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dan kitab-kitab Sunan. Hanya karena tidak memenuhi syarat keshahihan Imam al-Bukhari, beliau tidak menuliskannya secara bersanad. Yang bersanad [maushul] kebetulan yang tidak ada pernyataan “kita orang Islam”, hanya sebatas pernyataan Nabi saw bahwa hari tersebut adalah hari raya saja, yakni dua hadits ‘Aisyah di atas.

Dari dalil di atas dipahami bahwa syari’at shalat ‘Id tidak eksklusif untuk orang-orang tertentu sebagaimana shalat Jum’at, melainkan untuk semua orang. Maka dari itu Imam al-Bukhari menyebutkan secara khusus “kaum perempuan dan siapa saja yang ada di rumah dan perkampungan”, yang mana mereka semua tidak terkena syari’at shalat Jum’at. Kaum perempuan tidak terkena syari’at Jum’at. Demikian juga rumah dan perkampungan bukan tempat untuk shalat Jum’at. Tetapi untuk shalat ‘Id dibolehkan; baik kaum perempuan dan siapa saja yang ada di rumah dan perkampungan, disyari’atkan untuk mereka shalat ‘Id. Jika tertinggal dari mengikuti shalat ‘Id di mushalla, maka tinggal kerjakan saja di tempat masing-masing.

Fiqih shalat ‘Id seperti itu didasarkan juga pada atsar dari Anas ibn Malik, ‘Ikrimah, dan ‘Atha`. Pertama, Anas ibn Malik ketika sedang berada di Zawiyah, beliau pernah memerintahkan maula-nya, Ibn Abi ‘Utbah untuk menjadi imam shalat ‘Id di rumahnya (semacam villa/kastil), dimana makmumnya adalah keluarga besar Anas ibn Malik yang ada di sana. Dalam atsar di atas disebutkan bahwa shalat ‘Id dan takbir yang diamalkan oleh keluarga Anas sama seperti shalat dan takbir yang diamalkan pada shalat ‘Id umumnya. Artinya takbir 7 kali pada raka’at pertama dan 5 kali pada raka’at kedua.

Kedua, atsar dari ‘Ikrimah, yang mana sanad maushul-nya diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah:

فِي الْقَوْم يَكُونُونَ فِي السَّوَاد وَفِي السَّفَر فِي يَوْم عِيد فِطْر أَوْ أَضْحَى قَالَ: يَجْتَمِعُونَ وَيَؤُمّهُمْ أَحَدهمْ

Tentang satu kaum yang sedang bersama rombongan ketika safar, pada hari ‘Id Fithri atau Adlha, ‘Ikrimah berkata: “Mereka silahkan berjama’ah lalu salah seorangnya menjadi imam.” (Fathul-Bari bab idza fatahul-‘id).

Ketiga, atsar dari ‘Atha` yang sanad maushul-nya juga diriwayatkan Ibn Abi Syaibah:

مَنْ فَاتَهُ الْعِيد فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُكَبِّر

Siapa yang tertinggal shalat ‘Id, silahkan shalat dua raka’at dan bertakbir (Fathul-Bari bab idza fatahul-‘id).

Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan, atsar dari ‘Atha` ini menunjukkan bahwa shalat dua raka’at yang dimaksud bukan sebatas shalat dua raka’at biasa, tetapi persis sama dengan shalat ‘Id dalam hal takbirnya—yakni 7 dan 5.

Al-Hafizh Ibn Hajar juga menjelaskan bahwa fiqih shalat ‘Id secara mandiri ini tentunya bukan sepi dari ikhtilaf. Di antaranya ada Imam al-Muzanni dari madzhab Syafi’i yang berpendapat tidak ada qadla shalat ‘Id—tetapi pendapat yang diakui di madzhab Syafi’inya sendiri membolehkan (al-Fiqhul-Islami wa Adillatuhu 2 : 1391 bab hal tuqdla shalatul-‘Id wa hal tushalla munfaridan). Ada juga Imam ats-Tsauri, Ishaq ibn Rahawaih, dan Ahmad ibn Hanbal yang menyatakan qadla shalat ‘Id itu adalah empat raka’at. Dasarnya adalah pernyataan shahabat Ibn Mas’ud:

مَنْ فَاتَهُ الْعِيد مَعَ الْإِمَام فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا

“Siapa yang tertinggal shalat ‘Id bersama imam, maka hendaklah ia shalat sendiri empat raka’at.” (Riwayat Sa’id ibn Manshur. Al-Hafizh Ibn Hajar menilai sanadnya shahih dalam Fathul-Bari bab idza fatahul-‘id)

Akan tetapi Imam az-Zain ibnul-Munir menjelaskan, pendapat harus qadla empat raka’at tersebut tidak tepat, karena hanya sebatas menyamakannya dengan shalat Jum’at; jika bersama imam dua raka’at, jika sendiri kembali empat raka’at. Masalahnya shalat ‘Id syari’at mandiri, beda dengan shalat Jum’at yang asalnya syari’at shalat zhuhur. Kalau shalat Jum’at, ketika terlewat karena satu udzur maka shalatnya kembali empat raka’at shalat zhuhur, sementara shalat ‘Id tentu tidak bisa demikian.

Sementara itu Imam Abu Hanifah memberikan keleluasaan antara boleh mengqadla atau tidak, silahkan bebas dipilih. Demikian juga, mau mengamalkan qadla dua raka’at atau empat raka’at, dua-duanya boleh menurut beliau (Fathul-Bari bab idza fatahul-‘id).

Dari ikhtilaf fiqih di atas, tidak ditemukan satu pun yang merujuk langsung hadits Nabi saw, karena kemungkinan besar memang tidak ada. Jadi yang ada hanya atsar dari shahabat dan tabi’in yang menyatakan bahwa ketika shalat ‘Id di mushalla tidak mungkin dilaksanakan, maka boleh dilaksanakan di rumah, balai pertemuan di perkampungan kecil, atau di suatu tempat yang memungkinkan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan. Ikhtilafnya hanya apakah shalat ‘Id yang tidak bersama imam di mushalla itu dikerjakan dua raka’at atau empat raka’at. Hemat kami yang tepat adalah tetap dua raka’at, sebab pada pokoknya qadla harus selalu sama dengan ada` (pengamalan syari’at asalnya), kecuali jika ada dalil khusus yang mengecualikannya seperti shalat Jum’at diganti dengan shalat zhuhur. Itu berarti takbir dalam shalat ‘Id yang qadla juga harus sama dengan takbir shalat ‘Id ada-nya, yakni 7 kali di raka’at pertama dan 5 kali di raka’at kedua, sebagaimana ditegaskan dalam atsar Anas ibn Malik dan ‘Atha` di atas.

Kami berpendapat bahwa sebelum memilih untuk melaksanakannya di rumah, maka akan lebih baik jika pilihan melaksanakan di tempat yang lebih banyak menampung jama’ahnya diprioritaskan, seperti masjid, balai pertemuan, gedung serbaguna, atau tempat lainnya yang sekiranya tidak akan dilarang oleh Pemerintah dengan kebijakan PSBB-nya seperti yang sedang diberlakukan saat ini.

Apa yang kami uraikan di atas tentunya jika pilihan untuk shalat ‘Id bersama jama’ah yang lebih banyak di tempat terbuka (mushalla) menemui kendala. Maka dari itu konteks pembahasan fiqih sebagaimana diuraikan di atas adalah jika fâtahu (tertinggal atau tidak mungkin menjangkau mushalla). Hadits Nabi saw sendiri sudah mengajarkan agar siapapun yang bisa menjangkau mushalla harus hadir di mushalla meski mereka sedang haram shalat sekalipun seperti perempuan yang sedang haidl. Mereka yang tidak shalat, tinggal mengambil tempat di paling pinggir agar tidak mengganggu jama’ah shalat. Bahkan perempuan yang tidak memiliki jilbab yang pantas, dianjurkan oleh Nabi saw untuk diberi pinjaman oleh tetangganya. Semuanya itu menunjukkan bahwa hadir di mushalla adalah sunnah yang muakkadah (sangat ditekankan), sehingga tidak boleh diabaikan dan malah kemudian memilih shalat di rumah karena alasan tidak bisa menjangkau mushalla.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلَّاهُنَّ قَالَتْ امْرَأَةٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَيْسَ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Dari Ummu ‘Athiyyah, ia berkata: Kami diperintah mengeluarkan wanita yang sedang haidl dan yang jarang keluar rumah untuk menyaksikan jama’ah dan da’wah kaum muslimin. Tetapi wanita yang haidl memisahkan diri dari tempat shalat. Seorang wanita ada yang berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak punya jilbab?” Jawab Nabi saw: “Kerabat/tetangganya hendaklah meminjamkan jilbabnya.” (Shahih al-Bukhari baba wujubis-shalat fits-tsiyab no. 351)

Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *