Hukum I'tikaf di Rumah - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Hukum I’tikaf di Rumah

7 months ago
137

Pemerintah dipastikan masih memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sampai menjelang Lebaran nanti. Salah satu yang dianjurkan untuk tidak diselenggarakan adalah kegiatan i’tikaf. Bagi yang sudah terbiasa i’tikaf apakah diperbolehkan i’tikaf di rumah karena enggan melewatkan momentum Lailatul-Qadar? 0895-7012-xxxxx

I’tikaf sudah jelas harus diamalkan di masjid, tidak boleh di luar masjid. Merujuk QS. al-Baqarah [2] : 187 juga hadits-hadits tentang i’tikaf, bisa dipastikan bahwa i’tikaf sepuluh hari terakhir Ramadlan itu hanya di masjid. Jika di masjid yang terjangkau oleh anda tidak boleh ada i’tikaf berarti tidak ada ibadah i’tikaf untuk anda tahun ini.

Jamise Syar'i

Meski demikian tidak perlu berkecil hati tidak akan meraih lailatul-qadar, sebab lailatul-qadar ada kemungkinan diraih oleh yang tidak i’tikaf. Nabi saw sendiri tidak membatasi lailatul-qadar hanya bisa diraih oleh yang i’tikaf, melainkan juga menyatakan akan diraih juga oleh yang tidak i’tikaf, tepatnya mereka yang menghidupkan malam. Istri-istri Nabi saw tidak ada yang i’tikaf, tetapi Nabi saw tetap membangunkan mereka di masa 10 malam terakhir Ramadlan untuk menghidupkan malam demi meraih keutamaan lailatul-qadar. Jadi jika anda tidak bisa i’tikaf, anda masih bisa meraih lailatul-qadar dari rumah dengan menghidupkan malam di rumah.

‘Aisyah dalam hal ini sudah menjelaskan:

كَانَ النَّبِيُّ  إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Nabi saw apabila telah masuk 10 hari terakhir Ramadlan mempererat sarungnya (menggiatkan ibadah dengan i’tikaf), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (Shahih al-Bukhari kitab fadlli lailatil-qadri bab al-‘amal fi al-‘asyr al-awakhir min ramadlan no. 2024).

Hadits di atas menginformasikan tiga amal yang biasa Nabi saw amalkan ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadlan, yaitu: (1) i’tikaf, (2) menghidupkan malam, dan (3) membangunkan keluarganya untuk menghidupkan malam. Ketiga-tiganya ini adalah sunnah yang harus diperhatikan oleh setiap pencinta sunnah. Bukan hanya sebatas berdiam di masjid saja untuk beribadah, tetapi malamnya banyak tidurnya. Demikian juga bukan hanya menikmati ibadah sendiri di masjid, tetapi keluarga di rumah tidak digiatkan untuk membangunkan malam. Jadi ketiga-tiganya harus diperhatikan jika memang ingin setia sepenuhnya dengan sunnah Nabi saw.

Maka jika i’tikaf di masjid tidak bisa, amal menghidupkan malam dan mengajak keluarga untuk bersama-sama membangunkan malam masih bisa dilakukan di rumah. Dan itu juga bagian dari amal meraih lailatul-qadar.

Menghidupkan malam yang dimaksud, sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari adalah terjaga di sepanjang malam dan meninggalkan tidur untuk kemudian mengisinya dengan ketaatan (Fathul-Bari bab al-‘amal fi al-‘asyr al-awakhir min Ramadlan). Tentunya jika memang tidak bisa terjaga sepenuhnya dikembalikan lagi pada kemampuan maksimalnya. Tetapi niat yang kuat untuk mengamalkannya harus tetap ada.

Fokus utama menghidupkan malam tersebut adalah dengan shalat sunat, khususnya Tarawih, sesuai dengan keterangan berikut:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ  إِذَا بَقِيَ مِنْ رَمَضَانَ عَشْرَةُ أَيَّامٍ يَدَعُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِهِ يُطِيقُ الْقِيَامَ إِلَّا أَقَامَهُ

“Nabi saw tidak pernah apabila tersisa sepuluh hari dari Ramadlan membiarkan seorang pun dari keluarganya yang mampu bangun untuk shalat kecuali beliau akan membangunkan dan menyuruhnya shalat.” (Fathul-Bari bab al-‘amal fi al-‘asyr al-awakhir min ramadlan  mengutip riwayat At-Tirmidzi dan Muhammad ibn Nashr dari hadits Zainab putri Ummu Salamah).

Merujuk hadits-hadits tentang i’tikaf Nabi saw, di antaranya dari Abu Dzar (Sunan Abi Dawud bab fi qiyam syahri Ramadlan no. 1377; Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fi qiyam syahri Ramadlan no. 806), diketahui bahwa Nabi saw shalat Tarawih di masa 10 terkahir Ramadlan itu antara sepertiga malam, setengah malam, dan kadang juga sampai waktu sahur. Bagi anda yang akan menghidupkan malam di rumah bisa leluasa untuk mengamalkan Tarawih yang lama minimalnya 1/3 malam dengan membaca surat-surat yang panjang minimalnya 1 juz untuk satu malam. Jika belum hafal bisa sambil membuka mushhaf sebagaimana disepakati oleh ulama empat madzhab.

Menghidupkan malam itu bisa juga diisi dengan dzikir, tilawah al-Qur`an, tasbih, do’a, dan istighfar, sebagaimana banyak disinggung dalam banyak ayat al-Qur`an dan hadits. Pokoknya amal-amal yang berorientasi ketaatan kepada Allah swt, sebagaimana ditegaskan al-Hafizh Ibn Hajar di atas.

Tentang Nabi saw membangunkan keluarganya itu sendiri, al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan bahwa berdasarkan pertimbangan tidak ada seorang istrinya pun yang i’tikaf, maka mungkin Nabi saw membangunkan keluarganya dari tempat i’tikafnya, atau membangunkan mereka ketika masuk ke rumahnya untuk satu keperluan (Fathul-Bari bab al-‘amal fi al-‘asyr al-awakhir min ramadlan). Bagi anda yang akan menghidupkan malam di rumah tentu ini bisa lebih maksimal lagi anda amalkan.

Bedanya i’tikaf di masjid dan menghidupkan malam di rumah hanya di larangan jima’ dengan istri saja. Jika i’tikaf di masjid maka haram jima’ dengan istri selama 10 malam terakhir Ramadlan, maka untuk menghidupkan malam di rumah larangan itu tidak berlaku.

Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *