Mempercepat Pembagian Zakat Fithri

2 months ago
155

Pemerintah telah mengeluarkan himbauan agar zakat fithrah dikeluarkan dan dibagikan sekarang karena masyarakat sudah membutuhkannya. Apakah cara seperti itu dibenarkan? 0818-0208-xxxx, 0815-7227-xxxx

Sepengetahuan kami himbauan itu ditujukan untuk zakat mal secara umum, tidak untuk zakat fithri (istilah yang tepat dalam hadits: zakat fithri, bukan zakat fithrah), sebab untuk zakat fithri perintahnya tegas harus dikeluarkan/dibagikan sebelum shalat ‘Idul-Fithri. Yang dimaksud sebelum shalat ‘Idul-Fithri tentu maksudnya adalah sesudah fithri; berbuka atau selesai shaum Ramadlannya, sebab zakatnya juga zakat fithri. Jadi bukan dari sejak bulan Ramadlan dibagikannya, harus sesudah selesai bulan Ramadlannya (fithri). Siapa yang membagikannya di luar waktu yang sudah ditetapkan maka itu dikategorikan shadaqah biasa saja, bukan zakat fithri. Artinya kewajiban zakat fithrinya belum terpenuhi dan seseorang berdosa dengannya.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللهِ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Dari Ibn ‘Abbas ra, ia berkata: “Rasulullah saw mewajibkan zakat fithri sebagai pembersih bagi yang shaum dari perbuatan sia-sia dan perkataan tidak senonoh, juga sebagai pemberi kebahagiaan (thu’mah) bagi orang-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘Idul Fithri maka itu zakat yang diterima. Tetapi siapa yang menunaikannya sesudah shalat, maka itu shadaqah biasa.” (Sunan Abi Dawud bab zakatil-fithri no. 1611).

Sementara zakat mal (harta) yang terikat aturan haul (wajibnya sesudah lewat satu tahun) dan nishab (batas minimal jumlah harta yang dimiliki) maka ini ada kebolehan dibayarkannya didahulukan. Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Bulughul-Maram kitab az-zakat merujuk pada hadits al-‘Abbas ibn ‘Abdul-Muthhalib:

وَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه: أَنَّ الْعَبَّاسَ رضي الله عنه سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فِي تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ, فَرَخَّصَ لَهُ فِي ذَلِكَ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ

Dari ‘Ali ra: “Sesungguhnya al-‘Abbas ra meminta kepada Nabi saw untuk mendahulukan zakatnya sebelum halal waktunya, maka beliau memberikan keringanan dalam hal tersebut.” At-Tirmidzi dan al-Hakim meriwayatkannya (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fi ta’jiliz-zakat no. 678; Sunan Abi Dawud bab fi ta’jiliz-zakat no. 1624; al-Mustadrak al-Hakim dzikr islamil-‘Abbas ra no. 5431).

Dalam hadits ‘Umar ra ketika ia melaporkan tugas pemungutan zakatnya kepada Nabi saw dimana ia menyampaikan ada tiga orang yang menolak membayar zakat yaitu Ibn Jamil, Khalid ibn al-Walid, dan al-‘Abbas ibn ‘Abdul-Muththalib, maka Nabi saw memberikan pembelaan kepada al-‘Abbas dan Khalid. Sementara kepada Ibn Jamil, Nabi saw menyayangkannya lupa bahwa harta yang dianugerahkan kepadanya adalah dari Allah swt. Adapun Khalid, kata Nabi saw memang tidak boleh dipungut zakatnya karena alat-alat perang yang dimilikinya tidak akan diperjualbelikan sebab itu sudah diwakafkan fi sabilil-‘Llah. Harta wakaf tidak terkena kewajiban zakat. Adapun kepada al-‘Abbas, Nabi saw membela:

وَأَمَّا الْعَبَّاسُ فَهِىَ عَلَىَّ وَمِثْلُهَا مَعَهَا

Adapun al-‘Abbas maka zakatnya tanggung jawab saya, demikian juga yang senilai dengannya kelipatannya (Shahih Muslim bab fi taqdimis-zakat wa man’iha no. 2324).

Imam Muslim sebagaimana terbaca dalam tarjamah-nya menuliskan: bab fi taqdimis-zakat wa man’iha; bab mendahulukan membayar zakat dan yang enggan membayarnya. Konteks “mendahulukan zakat” itu sendiri kepada al-‘Abbas yang dibela Nabi saw di atas. Jika ditelusuri dari sanad-sanad yang lain, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa yang paling tepat dari makna sabda Nabi saw di atas adalah “zakatnya sudah jadi tanggung jawab saya karena saya telah meminjam darinya zakat untuk dua tahun ke depan” (Syarah Shahih Muslim bab fi taqdimis-zakat wa man’iha). Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari bab qaulil-‘Llah ta’ala wa fir-riqab wal-gharimin menjelaskan bahwa merujuk riwayat at-Tirmidzi, ad-Daraquthni, dan at-Thabrani diketahui bahwa maksud sabda Nabi saw di atas adalah al-‘Abbas sudah membayar zakat didahulukan kepada Nabi saw untuk dua tahun ke depan melalui pinjaman yang dipinjam oleh Nabi saw dari al-‘Abbas. Semua riwayat yang dimaksud al-Hafizh memang tidak ada yang luput dari kelemahan, tetapi jika dihimpunkan bisa saling menguatkan.

Berikut data riwayat yang dimaksud al-Hafizh, perihal jawaban Nabi saw kepada ‘Umar mengapa al-‘Abbas menolak membayar zakat kembali:

إِنَّا قَدْ أَخَذْنَا زَكَاةَ العَبَّاسِ عَامَ الأَوَّلِ لِلْعَامِ

Sesungguhnya kami telah mengambil zakat al-‘Abbas pada tahun yang lalu untuk tahun sekarang (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fi ta’jiliz-zakat no. 679).

إِنَّ الْعَبَّاس قَدْ أَسْلَفَنَا زَكَاة مَالِهِ الْعَامَ وَالْعَامَ الْمُقْبِلَ

(Hadits Ibn ‘Abbas riwayat ad-Daraquthni. Dikutip dari Fathul-Bari bab qaulil-‘Llah ta’ala wa fir-riqab wal-gharimin)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَجَّلَ مِنْ الْعَبَّاس صَدَقَتَهُ سَنَتَيْنِ

Sesungguhnya Nabi saw mengambil lebih awal zakat mal al-‘Abbas untuk dua tahun (Hadits Ibn Mas’ud riwayat at-Thabrani. Dikutip dari Fathul-Bari bab qaulil-‘Llah ta’ala wa fir-riqab wal-gharimin)

Imam at-Tirmidzi setelah menuliskan hadits ‘Ali dan ‘Umar tentang shadaqah al-‘Abbas yang ditunaikan di awal sebagaimana ditulis di atas, beliau kemudian menjelaskan bahwa mayoritas ulama menyatakan zakat boleh ditunaikan di awal sebelum datang waktunya. Hanya Sufyan ats-Tsauri saja yang menyatakan tidak menyukainya. Sementara Imam as-Syafi’i, Ahmad ibn Hanbal, Ishaq ibn Rahawaih, dan lainnya menyatakan boleh.

Imam as-Shan’ani dalam Subulus-Salam menambahkan, bahwa kebolehan mendahulukan membayar zakat ini tidak perlu dipertentangkan dengan hadits yang menyatakan harus lewat satu tahun, sebab hadits tersebut hanya menjelaskan kewajibannya, sementara hadits al-‘Abbas memberikan informasi tambahan bolehnya mendahulukannya.

لَيْسَ فِى مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ

Tidak ada kewajiban zakat pada harta sehingga berlalu satu tahun (Sunan Abi Dawud bab fiz-zakatis-sa`imah no. 157. Al-Hafizh Ibn Hajar dalam at-Talkhishul-Habir menjelaskan bahwa sanad hadits ini tidak luput dari dla’if. Yang shahihnya hanya yang mauquf dari shahabat Ibn ‘Umar. Sementara Syaikh al-Albani dalam Irwa`il-Ghalil menguraikan panjang lebar sanad-sanadnya yang marfu’ dan mauquf, sehingga dla’ifnya sebagian sanad terbantu oleh sanad lainnya. Kesimpulannya hadits ini shahih. Adapun Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Ta’liq Sunan Abi Dawud menguraikan hal yang sama, hanya kesimpulannya hadits ini hasan).

Demikian juga tidak perlu disamakan dengan shalat yang tidak boleh didahulukan, sebab dalam ibadah rujukan utamanya dalil. Jika sudah ada dalil maka tidak boleh ada qiyas.

Ketentuan kebolehan mendahulukan zakat ini sepengetahuan kami hanya untuk zakat mal, bukan zakat fithri. Seandainya tuntutannya karena kondisi pandemi saat ini, tentu mendahulukan membayar zakat belum tentu menyelesaikan masalah karena pandemi biasanya berlangsung lama. Jadi cukup diperbanyak anjuran shadaqahnya saja, bukan hanya anjuran mendahulukan zakat. Apalagi jika itu ditujukaan untuk zakat fithri, maka kami khawatir zakat fithrinya jadi tidak sah. Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *