Rezeki Tanggungan Allah

2 months ago
61

Wabah penyakit yang Allah kirimkan kepada manusia ternyata bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik saja, namun juga berdampak pada kestabilan ekonomi manusia. Betapa banyak orang yang biasanya keluar rumah untuk bekerja demi menyambung hidup, menafkahi diri dan keluarganya, namun karena wabah penyakit―baik terpapar langsung maupun terdampak―ia jadi sulit untuk keluar rumah. Ada yang mampu keluar rumah untuk berdagang misalnya, namun dagangannya kurang laku karena sangat sedikit orang yang beraktivitas di luar rumah, sehingga pendapatannya tidak sebesar biasanya; bahkan ada juga yang sampai merugi.

Dalam menghadapi musibah seperti ini, banyak orang imannya lemah, kurang bersabar dalam menghadapi kesulitan ini sehingga akhirnya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai agama; ada yang mencuri, melakukan praktik riba, bahkan ada yang sampai mengakhiri nyawanya, na’ûdzu bil-`Llâh. Berbeda jika seseorang memiliki tauhid dan keimanan yang kuat kepada Allah ar-Razzâq, tentu ia akan teguh bersabar di saat-saat sulit seperti ini. Ia akan tetap menjalani hari-harinya dengan senantiasa berada di atas batasan-batasan agamanya.

Ma’rifatul-`Llâh

Sebab utama dari perbedaan dua sikap di atas adalah kadar keimanan seseorang kepada Allah, kadar ma’rifat kepadaNya, dan seberapa jauh pemahamannya mengenai makna di balik salah satu nama Allah, yaitu ar-Razzâq.

Tujuan penciptaan manusia ada 2: (1) Ma’rifatul-`Llâh, yaitu mengenal Allah lewat asmâ` dan shifât-Nya (nama dan sifat Allah) dan; (2) ‘Ibâdatul-`Llâh, yaitu beribadah kepada Allah setelah kita mengenal Allah sebagai tuhan. Mengenai hal ini, Ibnul-Qayyim al-Jauziyyah―rahimahul-`Llâh―mengatakan:

أكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التى يطلع عليها البشر

Orang yang paling sempurna ibadahnya adalah yang beribadah kepada Allah dengan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung dalam semua nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang dapat diketahui oleh manusia.” (Madârijus-Sâlikin: I/420).

Sebagai contoh, kita baru akan mampu untuk bersabar dalam menghadapi ujian hidup ketika kita sudah mengenal bahwa Allah akan selalu mengganjar orang-orang yang sabar dengan pahala yang tak terbatas (lihat QS. az-Zumâr [39] : 10). Kita baru akan mampu menjauhi maksiat dan dosa ketika kita sudah mengenal bahwa Allah Mahakeras siksaan-Nya (lihat―salah satunya―QS. Âli ‘Imrân [3] : 11). Begitu pula, kita baru akan mampu meyakini bahwa Allah-lah yang menaggung rezeki kita, betapapun kondisi yang sedang kita alami setelah kita mengenal bahwa Allah adalah ar-Razzâq (banyak memberi rezeki).

Untuk mengenal lebih jauh siapa Allah, tentu kita harus terus mengkaji al-Qur`an lebih dalam, karena yang dapat menjelaskan mengenai Allah tentu adalah dirinya sendiri. Bahkan Nabi Muhammad―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―pun tidak akan mungkin dapat mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah kecuali lewat wahyu-Nya.

Mengenal ar-Razzâq

ar-Razzâq merupakan salah satu  asmâ` Allah yang menandakan bahwa Allah memiliki sifat banyak memberi rezeki. Dalam bahasa Arab, kata ar-razzâq (الرزاق) merupakan bentuk mubâlaghah (hiperbola) dari kata ar-râziq (الرازق), yang artinya memberi rezeki (Syarhun-Nûniyyah lil-Harrâs: II/110). Oleh karena itu, tidak hanya sekedar diartikan “Maha Pemberi rezeki”, tetapi lebih dari itu, yaitu “Maha banyak memberi rezeki”.

Sifat pemberian rezeki tidak boleh disematkan kepada selain Allah, karena Allah adalah satu-satu-Nya yang memberi rezeki di alam semesta ini, tidak ada satu makhluk pun yang dapat memberi rezeki pada dirinya sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, salah satu hak rubûbiyyah (ketuhanan) Allah adalah memberi rezeki, di samping menciptkan dan memiliki alam semesta. Allah berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Allah-lah yang telah menciptakan kalian, kemudian memberi kalian rezeki, kemudian mematikan kalian, kemudian menghidupkan kalian (kembali). Adakah di antara yang kalian sekutukan dengan Allah itu, yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. ar-Rûm [30]: 40).

Muhammad Khalil Al-Harras berkata: “Seluruh rezeki hanya ada di tangan Allah. Oleh karena itu, Dia-lah Sang Pencipta rezeki dan Sang Pencipta makhluk yang mendapatkan rezeki.  Dia-lah Dzat yang menyampaikan rezeki kepada mereka dan Dia-lah Sang Pencipta sebab-sebab (makhluk) bisa menikmati rezeki. Dengan demikian, wajib menyandarkan rezeki itu hanya kepada-Nya dan wajib pula bersyukur kepada-Nya atas karunia rezeki tersebut.” (Syarhun-Nûniyyah lil-Harrâs: II/110)

Di awal sudah disebutkan bahwa ar-Razzâq berbeda dengan ar-Râziq. Di dalam al-Qur`an banyak sekali dalil-dalil yang menyebutkan bahwa Allah itu selalu memberi rezeki kepada makhluk-Nya setiap waktu, tidak ada satupun makhluk-Nya yang luput dari pemberian-Nya, dan rezeki yang Dia berikan kepada mereka pun amat banyak jumlahnya. Allah berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (memperoleh) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Al-‘Ankabuut: 60).

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (QS. Hûd [11]: 6) dan firmanNya yang lain:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. an-Nahl [16] : 18)

Setelah kita menyelami lebih dalam mengenai nama Allah, ar-Razzâq, maka harus terwujud beberapa hal berikut ini:

Pertama, kita harus yakin bahwa segala rezeki itu berasal dari Allah semata, bukan berasal dari makhluk. Akhirnya, kita tidak lagi menggantungkan keberadaan rezeki kita pada orang lain. Manusia itu hanya dapat memberi gaji yang jumlahnya terbatas, sedangkan Allah Maha Memberi rezeki dalam jumlah yang tak terbatas. Allah berfirman:

 “Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas” (QS. al-Baqarah [2] : 212)

Kedua, hati kita harus lebih bertakwa kepada Allah dalam mencari rezeki. Akhirnya, kita akan berusaha lebih maksimal lagi untuk menjemput rezeki yang sudah Allah takdirkan bagi kita dengan cara yang halal. Kita tidak akan lagi tergiur dengan cara haram yang Allah murkai. Nabi Muhammad―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―bersabda:

 “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah, baik-baiklah dalam mencari (rezeki)! Sesungguhnya satu jiwa tidak akan mati sampai sempurna rezekinya walaupun lambat datangnya. Bertakwalah kepada Allah, baik-baiklah dalam mencari (rezeki)! Ambilah yang halal dan tinggalkanlah yang haram!” (Sunan Ibn Mâjah kitabut-tijârah bâbul-iqtishâd fî thalabil-ma’îsyah no. 2144)

Ketiga, kita harus senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala nikmat rezeki-Nya kepada kita dengan cara menggunakan rezeki-rezeki tersebut sebagai perantara untuk menambah ketaatan kita kepada-Nya dengan menjaga ibadah-ibadah yang wajib dan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. Ibn Taimiyyah―rahimahul-`Llâh―berkata,

إنما خَلَقَ الله الخَلْقَ، ليَعبُدوه، وإنما خَلَقَ الرزقَ لهم ليَسْتَعِيُنوا به على عبادته

Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk hanyalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan Allah menciptakan rezeki untuk mereka semata-mata agar mereka gunakan rezeki tersebut untuk beribadah kepada-Nya” (Majmû’ul-Fatawâ Kitâbul-Îmân)

Jadi, masa-masa sulit ketika menghadapi musibah bukanlah alasan untuk menjadikan iman kita berkurang sehingga menghalalkan segala macam cara. Ketika penghasilan yang didapatkan tidak sesuai harapan, maka yakinlah bahwa itu adalah pemberian Allah yang sudah diukur oleh-Nya dengan ukuran yang terbaik bagi kita. Allah tidak pernah luput untuk memberi rezeki kepada para makhluk-Nya, terlebih para hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Wal-`Llâhu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *