

Suatu waktu Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah mengajak berbicara Urwah keponakannya, “Wahai Urwah keponakanku, dulu kami pernah melihat hilal hingga tiga kali selama dua bulan berturut-turut, sementara di rumah-rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada yang menyalakan api.”. Urwah pun terheran ketika ia mendengar bahwa di rumah-rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama dua bulan lamanya tidak ada bahan makanan apapun yang dapat dimasak. Akhirnya Urwah Radhiyallahu ‘anhu pun bertanya kepada Aisyah Radhiyallhu ‘anha. “Wahai bibi, jika demikian apa yang dapat menghidupi kalian?” kemudian Aisyah Radhiyallhu ‘anha menjawab, “Al–Aswadaan, yaitu; kurma dan air. Hanya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki tetangga-tetangga dari Anshar, mereka memiliki kambing-kambing perahan. Mereka mengirimkan sebagian susunya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau memberikannya kepada kami untuk kami minum susu tersebut.” (H.R al-Bukhari Bab Kaifa Kana ‘Aisyun Nabi Shalla-Llhu ‘Alaihi wa Sallam. No 6459)
Seperti inilah sifat qana’ah dan zuhud Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mengambil dunia ini hanya sebatas untuk menguatkan punggungnya saja. Padahal andaikan beliau menginginkan kekayaan harta benda, tentu hal itu sangat mudah bagi Allah untuk memberikannya kepada beliau, terlebih kecintaan para sahabat kepada beliau ketika itu sangat besar, sehingga sangat mudah bagi Nabi untuk mendapatkan kekayaan dari para sahabat. Namun Nabi tidak menjadikannya sebagai aji mumpung. Kezuhudan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti ini disaksikan pula oleh sahabat yang lain diantaranya ‘Abdullah bin ‘Abbas, ia pernah menyampaikan:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبِيتُ اللَّيَالِي المُتَتَابِعَةَ طَاوِيًا وَأَهْلُهُ لَا يَجِدُونَ عَشَاءً وَكَانَ أَكْثَرُ خُبْزِهِمْ خُبْزَ الشَّعِيرِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam pernah tidur beberapa malam secara berturut-turut dengan perut kosong dan keluarganya tidak memiliki makan malam, roti mereka yang paling banyak adalah roti gandum” (H.R at-Tirmidzi Bab Maa Jaa fi Ma’isyatin Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam no. 2360 Dinilai Hasan oleh Imam Albani)
Begitu pula Abu Hurairah pernah mengisahkan kesederhanaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan:
أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بِطَعَامٍ سُخْنٍ، فَأَكَلَ، فَلَمَّا فَرَغَ، قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ، مَا دَخَلَ بَطْنِي طَعَامٌ سُخْنٌ مُنْذُ كَذَا، وَكَذَا»
Dari Abu Hurairah dia berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diberi makanan yang masih hangat lalu beliau memakannya, selesai makan beliau mengucapkan: “Segala puji bagi Allah, perutku tidak pernah kemasukan makanan yang hangat sejak ini dan ini.” (H.R Ibnu Majah, Bab Ma’isyatu Aali Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 4150)
Sifat Qana’ah seperti inilah yang selalu membuat keadaan seorang hamba akan selalu merasa kaya. Dalam keadaan sulit sekalipun orang akan merasa dirinya kaya karena perasaan yang begitu lapang untuk menerima segala apapun yang Allah berikan kepadanya. Oleh karena itu, kekayaan dalam Islam hakikatnya bukanlah berada pada harta benda namun berada pada kekayaan hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:,
«لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ»
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati.” (H.R al-Bukhari Bab al-Ghina Ghinan Nafs no. 6446)
Seorang hamba yang kaya raya namun tidak pernah merasa puas terhadap pemberian dari Allah Azza wa Jalla, sejatinya merupakan kefakiran yang hakiki. Bahkan bisa jadi kekayaan yang dimilikinya, hakikatnya merupakan sebuah istidraj dari Allah jika kekayaanya tidak mengantarkannya kepada ketaatan.
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (178
“Dan Jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang kami berikan kepada mereka lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah dan mereka akan mendapat adzab yang menghinakan.” (Q.S Ali Imran : 178)
Dengan demikian kunci kebahagiaan hati itu bukanlah berada pada kekayaan namun berada dalam sifat qana’ahnya. semakin baik sifat qana’ah seorang hamba maka akan semakin baik pula kebahagiaan dalam hatinya, begitupun sebaliknya. Kunci kebahagian ini telah diisyaratlkan oleh firman Allah swt dalam surat an-Nahl berikut ini:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (97
“Barangsiapa mengerjakan kebaikan baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S an-Nahl : 97)
Kunci kebahagiaan ini sebagaimana dijelaskan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas dan Ali bin Abi Thalib ketika menafsirkan makna Hayatan Thayyibah hidup bahagia dalam al-Qur’an, mereka berdua mengatakan yang dimaksud hidup bahagia adalah qana’ah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir). Maka, sungguh beruntung seorang hamba yang memiliki sifat qana’ah, yaitu orang yang merasa cukup atas pemberian Allah sehingga melahirkan sifat syukur pada-Nya. Keberuntungan ini sebagaimana pesan Rasulullah:
«قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ»
“Sungguh amat beruntunglah seorang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qana’ah terhadap apa yang diberikan Allah.” (H.R Muslim Bab fil Kafaf wal Qana’ah. no. 125)
Sifat seperti ini pulalah yang Rasulullah wasiatkan kepada Abu Huraiarah agar ia menjadi hamba yang paling bersyukur:
يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ
“Wahai Abu Hurairah jadilah engkau seorang yang wara’ maka engkau menjadi hamba yang paling baik dalam beribadah. Dan jadilah engkau seorang hamba yang qana’ah maka engkau akan menjadi hamba yang paling banyak bersyukur” (H.R Ibnu Majah Babul Wara’ wat Taqwa. no. 4217)
Qana’ah yang sebenarnya adalah qana’ah yang ada di dalam hati. Kekayaan yang dimiliki seseorang tidak berarti bahwa ia tidak qana’ah, jika faktanya dengan kekayaanya itu ia gunakan dalam kebaikannya dan tidak terdapat syahwat duniawi di hatinya, sebaliknya bahwa kemiskinan yang menimpa seseorang tidak berarti ia akan qana’ah, jika faktanya dengan kemiskinannya itu ia berkeluh kesah dan malah menimbulkan syahwat dunia di dalam hatinya. WaLlahu A’lam













