Ketika Ibrahim “Mencari” Tuhan

4 days ago
71

Ada satu kisah menarik dalam perjalanan seorang Nabi Ibrahim as ketika ia memperlihatkan diri seolah-olah sedang mencari Tuhan. Beliau tentu saja tidak sedang dalam kebingungan tentang siapa Tuhan. Sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitab Tafsirnya, Ibrahim as sudah sangat yakin siapa Tuhannya, itu ditandakan dengan protesnya kepada ayahnya sendiri. “Wahai ayahku,” kata Nabi Ibrahim as kepada ayahnya, Azar, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat al-An’am [6] ayat 74. “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai Tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”

Tentu saja sang ayah tidak menerima dan tidak menuruti nasehat sang anak yang diungkap dalam bentuk pertanyaan ini. Malah, dalam ayat lain di al-Qur’an disebutkan betapa marahnya Azar ketika Ibrahim as meminta ia tidak lagi menyembah berhala-berhala itu. Azar berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam.” (QS: Maryam [19] : 46)

Lalu, secara halus Ibrahim as mengajak ayahnya dan kaumnya untuk ber dengan melihat benda-benda langit yang selama ini mereka ibadahi. Benda langit pertama yang ia saksikan ketika malam telah gelap adalah bintang. Ibrahim as sambil berpura-pura berkata, “Inilah Tuhanku.” Bintang itu kemudian tenggelam dan tidak lagi terlihat. Ibrahim as kemudian berseru,  “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS: Al An’am [6] : 76).

Lalu Ibrahim as melihat bulan muncul di langit yang hitam. Dia pura-pura berkata lagi, “Inilah Tuhanku.” Lama kelamaan bulan itu juga terbenam. Ibrahim as kembali berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS: Al An’am [6] : 77).

Setelah itu terbitlah matahari. Kembali Ibrahim as pura-pura berkata, “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Menjelang senja, matahari perlahan-lahan terbenam di ufuk barat. Melihat fenomena ini, Ibrahim as menasehati kaumnya, “Wahai kaumku. Sungguh aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan. Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS: Al An’am [6] : 78-79).

Begitulah kisah Ibrahim as yang tertulis jelas dalam al-Qur’an. Ia mengajak kaumnya untuk berpikir bahwa benda yang selama ini mereka sembah tidaklah pantas untuk di per-Tuhan-kan. Tak mungkin Tuhan berubah-ubah, kadang ada, kadang tiada. Kaumnya, bahkan ayahnya sendiri jelas tak bisa membantah logika yang diperlihatkan Nabi Ibrahim as.

Hal ini pun menjadi landasan bagi setiap manusia bahwa mempercayai adanya Tuhan, yaitu Allah swt, merupakan komponen terpenting dalam kehidupan manusia. Mustahil manusia mengingkari adanya sang Khaliq. Jika manusia mengingkari-Nya, maka otomatis bertentangan dengan hati nurani dan akal sehatnya. Seandainya seseorang merenungi alam semesta ini, mengamati fenomena-fenomena yang begitu rumit namun teratur, maka akalnya akan membenarkan bahwa semua ini pastilah ada yang menciptakannya sekaligus mengaturnya. Tak mungkin ia ada dengan sendirinya. Tak mungkin ia bergerak atau berproses dengan sendirinya.

Ini pun mengisyaratkan bagi umat manusia, khususnya bagi negara Indonesia tentang konsep ketuhanan, yaitu wajib mempercayai adanya Tuhan, Allah swt. Selama ini, mempercayai Tuhan sudah merupakan hal terpenting dan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana yang termaktub dalam landasan negara, dalam sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ironisnya dewasa ini bangsa Indonesia dihebohkan dengan draf Rancangan Undang-Undang HIP (Haluan Ideologi Pancasila) yang dikhawatirkan oleh MUI dan ormas Islam akan melegalkan keberadaan masyarakat yang tidak mempercayai Tuhan, sebagaimana yang dianut oleh ideologi komunis.

Dalam Rancangan Undang-Undang tersebut ada istilah Trisila dan Ekasila dengan mengabaikan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dan nilai-nilai lainnya yang telah disebutkan jelas dalam UUD NKRI 1945. Inilah yang dikhawatirkan oleh umat Islam. Mereka tidak ingin masyarakat abai terhadap sang Pencipta, Allah swt.

Dalam sejarahnya, Rasul saw memerintahkan kepada utusan dakwahnya agar menyampaikan tauhid (mempercayai Allaj swt) terlebih dahulu sebelum yang lainnya. Nabi saw menyampaikan kepada Mu’adz bin Jabal ra, “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah swt.” (HR. Bukhari)

Tentunya seseorang hanya bisa berdo’a agar Allah Ta’ala menetapkannya dalam iman dan Islam, serta memberi hidayah kepada orang-orang yang disayangi, sebagaimana Nabi Ibrahim as juga berdo’a untuk ayahnya.

Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim as berkata kepada ayahnya, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan memintakan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS: Maryam [19]: 47).

Namun Allah Ta’ala tidak berkehendak atas do’a Nabi Ibrahim as. Sang ayah tetap musyrik hingga akhir hayatnya. Begitu pun kaumnya, tetap ingkar meskipun kebenaran telah nyata ditunjukkan oleh Ibrahim as.

Semoga bangsa Indonesia tetap dijaga oleh Allah Ta’ala dari kemusyrikan hingga ajal kelak menjemput. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *