Meneladani Konsep Tarbiyah Keluarga Nabi Ibrahim

4 days ago
85

Setiap keluarga pasti mendambakan memiliki keluarga yang sakinah, ta’at kepada Allah dan memiliki keturunan yang shaleh. Untuk mencapai semua itu, kita perlu mengetahui konsep tarbiyah yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena keluarga merupakan benteng utama sebuah pilar dalam membangun ummat yang bertaqwa. Allah swt. berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S At-tahrim : 6).

Kita dapat mempelajari konsep-konsep tarbiyah dari Al-Qur’an sebagaimana tercantum dalam qishashul anbiyya dan para sahabat. Diantara contoh keluarga teladan sepanjang hayat adalah keluarga Nabi Ibrahim. Tak diragukan lagi kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya ini mengajarkan kita bagaimana membangun keluarga yang mencintai dan mengutamakan Allah dibanding segalanya.

Untuk menciptakan keluarga yang shaleh dan generasi yang shaleh, ada beberapa konsep tarbiyah  yang bisa kita teladani dari kisah keluarga Nabi Ibrahim, yaitu :

  1. Memilih dan mengutamakan pasangan yang shaleh.

Nabi Ibrahim memiliki istri yang pertama bernama Sarah, dan yang kedua bernama Hajar. Dari kisah yang telah kita ketahui, kita dapat meneladani sikap ikhlas dari Sarah yang memilihkan istri kedua bagi Nabi Ibrahim yaitu Hajar demi mendapatkan keturunan yang shaleh. Setelah Hajar mendapatkan keturunan yaitu Nabi Ismail, timbul rasa kecemburuan dari Sarah. Namun, dengan penuh keikhlasan Hajar, akhirnya pergi bersama Nabi Ibrahim dan buah hatinya Ismail ke suatu tempat di Mekkah nan jauh dari  Sarah. Bahkan Ibnu abbas menuturkan, wanita pertama yang mengenakan ikat pinggang memanjang adalah Ibunda Ismail yaitu Hajar. Ia mengenakan ikat pinggang itu untuk menghapus jejak agar Sarah tidak dapat mengikutinya. Itulah keikhlasan Sarah dan Hajar. Keikhlasan Sarah untuk merelakan Nabi Ibrahim menikahi Hajar wanita pilihannya, dan keikhlasan Hajar pergi jauh bersama putranya Ismail untuk menghindar dari rasa cemburu Sarah.

  1. Memilih pasangan yang ta’at kepada Allah dan suami.

Dalam memilih pasangan, Nabi Ibrahim mengutamakan kriteria wanita yang ta’at kepada Allah dan ta’at kepada suami. Sebagaimana kita ketahui bahwa istri kedua Nabi Ibrahim adalah Hajar, seorang budak dari raja mesir. Hajar adalah wanita sederhana, berkulit hitam, bukan dari golongan wanita kaya namun beliau memiliki keta’atan kepada Allah dan suami, berhati dan berakhlaq mulia.

  1. Memilih pasangan yang gigih berjuang dan bertawakal kepada Allah.

Kisah perjuangan Hajar mencari air dari bukit Shafa ke Marwah demi anaknya Ismail, menunjukkan bahwa Hajar adalah seorang ibu yang gigih, yang senantiasa berikhtiar dibalut ketawakalan kepada Allah. Sifat ini merupakan uswah bagi seluruh ibu di muka bumi dalam membesarkan dan memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya dibarengi ketawakalan kepada Allah.

  1. Senantiasa mengiringi setiap perjalanan dan perjuangan hidup dengan do’a dan ketawakalan kepada Allah.

Ketika Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anak kesayangannya Ismail di sebuah tempat yang jauh dari kesuburan, Nabi Ibrahim menitipkan istri dan anak kesayangannya Ismail kepada RabbNya. Allah swt. Berfirman :

Artinya : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S Ibrahim : 37).

  1. Memberikan keteladanan yang baik.

Nabi ibrahim adalah sosok ayah yang mempunyai kasih sayang dibalut keta’atan dan cinta kepada Allah. Ia senantiasa mengajarkan kepada istri dan anaknya agar senatiasa mencintai Allah dibandingkan yang lainnya.

Allah swt. berirman :

Artinya : “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S Al-Mumtahanah : 6).

  1. Membangun komunikasi yang baik dengan anak.

Ketika wahyu Allah untuk menyembelih Ismail sampai  kepada Nabi Ibrahim, beliau mengajak Ismail untuk memberikan pendapatnya terhadap perintah Allah tersebut. Namun, ketegaran Ismail menjawab perintah Allah ini dengan sebuah keta’atan. Allah swt. berfirman :

Artinya : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. “ (Q.S Ash-shaffat : 102).

  1. Mencintai anak karena Allah.

Cinta Nabi Ibrahim terhadap putranya Ismail sangatlah besar, namun cintanya terhadap putranya ini merupakan cinta karena Allah. Cinta yang senantisa mengutamakan perintah Allah, kapanpun dan bagaimanapun keadaannya.

  1. Melibatkan anak dalam membangun sarana ibadah, membangun kedekatan anak dengan Rabb-nya

Ibnu Katsir dalam kitab Qishahul Anbiyya menjelaskan, Ismail turut mengumpulkan batu dan mengulurkannya kepada ayahnya, lalu Nabi Ibrahim pun membangun ka’bah yang rusak.

  1. Mendidik anak sebagai ahli ibadah.

Nabi Ibrahim bukan hanya sosok ayah yang penyayang, namun dia juga guru sejati bagi anaknya Ismail. Dia mengajarkan tentang ketauhidan, ibadah yang benar, keihlasan, dan ketawakalan kepada Allah.  Allah swt. berfirman :

Artinya : “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (Q.S Ibrahim :40).

Artinya : “Ya Tuhan kami jadikanlah kami orang yang Berserah diri kepada-Mu dan anak cucu kami juga umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami sungguh Engkau Allah yang Maha penerima taubat Maha penyayang.” (Q.S Al-Baqarah : 128).

Itulah keteladanan keluarga Nabi ibrahim. Uswah terbaik dalam membangun keluarga yang ta’at dan tunduk terhadap Allah swt.

Wallahu ‘alam bishawaab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *