Ada Yang Perlu Dihadirkan Ketika Meminta

3 weeks ago
849

Tidak ada satupun manusia yang tidak meminta kepada Dzat Yang Mahasegalanya, kecuali orang-orang yang sombong. Mereka enggan meminta bahkan mengakui kebenarannya bahwa ada Dzat Yang menciptakannya, pemilik segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sebagaimana kesombongan Iblis yang enggan bersujud karena dirinya tercipta dari api (QS. Al-A’raf: 11-12). Kesombongan orang-orang yang menolak kebenaran padahal kebenaran telah datang kepadanya (QS. Az-Zumar: 59). Kesombongan orang-orang yang tidak meyakini hari akhir (QS. An-Nahl: 22). Maka, mereka itulah yang Allah Ta’ala kunci mati hati mereka tersebab kesombongannya.

{…كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ (٣٥)}

“Demikianlah Allah mengunci mati hati setiap orang yang sombong dan berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ghafir [40] ayat 35)

Sedangkan bagi orang yang sadar betul bahwa dirinya begitu lemah tanpa kekuatan Allah azza wa jalla, yakni orang-orang beriman. Mereka tidak akan pernah berhenti meminta sampai ruh melewati kerongkongan. Lalu pertanyaannya, bagaimanakah cara meminta yang elok?. Bosankah Allah jika selalu diminta oleh hambaNya?. Apakah permintaan seorang hamba ini berhak dikabulkan?. Maka jawabannya adalah jadilah sebaik-baik peminta. Di antara hal yang mesti dihadirkan oleh seorang peminta selain dari rendah hati dan suara yang lembut adalah bersungguh-sungguh dalam meminta (baca: serius dalam berdoa).

Kemestian untuk rendah hati dan bersuara lembut ketika meminta tercantum dalam QS. Al-A’raf: 55:

{ ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (٥٥)}

“Berdoalah kalian kepada Tuhan kalian dengan rendah hati dan suara yang lembut, karena sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Dan hadirkan keseriusan serta kesungguhan dalam meminta kepadaNya. Sebagaimana hadits dari Anas dan Abu Hurairah –semoga Allah meridlai keduanya-:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمِ المَسْأَلَةَ، وَلاَ يَقُولَنَّ: اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِي، فَإِنَّهُ لاَ مُسْتَكْرِهَ لَهُ

Dari Anas –semoga Allah meridlainya-, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,“Apabila salah seorang di antara kalian berdoa, maka hendaklah bersungguh-sungguh dalam meminta. Dan janganlah kalian mengatakan, ‘Ya Allah jika Engkau kehendaki, maka berilah kepada ku,’ karena sesunggunya tidak ada paksaan baginya.” (HR. Bukhari, Bab Kesungguhan dalam Meminta karena Sesungguhnya Tidak Ada Paksaan bagiNya, No. 6338 [8/74])

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، وَلَكِنْ لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ، فَإِنَّ اللهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ 

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian berdoa, maka janganlah mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku, jika Engkau kehendaki,’ akan tetapi hendaklah bersungguh-sungguh dalam meminta dan hendaklah memiliki keinginan yang besar. Karena sesungguhnya Allah tidak merasa berat bagiNya sesuatupun untuk Dia berikan kepadanya (hamba).” (HR. Muslim, Bab Bersungguh-Sungguh dalam Berdoa dan Jangan Mengatakan Jika Engkau Kehendaki, No. 2679 [4/ 2063])

Keseriusan dalam meminta pun menjadi bagian yang perlu dihadirkan bagi seorang peminta yang elok. Di mana ia mesti memiliki prasangka yang baik kepada Rabbnya. Memiliki keinginan yang kuat agar permintaannya terkabulkan. Dan memiliki kesungguhan dalam meminta. Karena tanpa perlu adanya kata “Jika Engkau kehendaki…”, tetap hakikatnya Allah tidak berada dalam paksaan siapapun. Tidak ada yang menghalanginya untuk berkehendak, maka mintalah apapun dari Dzat Yang Mahapengasih. Dan karena Dia adalah satu-satunya tempat bergantung, tempat untuk meminta segala sesuatu.

{اللَّهُ الصَّمَدُ (2)}

“Allah tempat meminta segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlash: 2)

Bahkan apa yang kalian kehendaki namun kalian tidak mampu, selama Allah berkehendak, maka itu akan terhendaki. (QS. Al Insan [76] ayat 30)

Lalu, mungkinkah Allah merasa bosan karena selalu dimintai oleh hambaNya?, maka tengoklah kisah dalam hadits berikut:

 عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ، قَالَ: «مَنْ هَذِهِ؟» قَالَتْ: فُلاَنَةُ، تَذْكُرُ مِنْ صَلاَتِهَا، قَالَ: «مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لاَ يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا» وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَادَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

Dari ‘A`isyah, bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah masuk menemuinya sedang di sisinya ada seorang wanita. Beliau bertanya, “Siapakah ini?” Aisyah menjawab, “Fulanah”, lalu (Aisyah) menjelaskan tentang shalatnya (yang banyak). Beliau bersabda, “Ah, wajib bagimu beramal sesuai dengan kemampuanmu. Demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan.” Dan Agama yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dirutinkan oleh pelakunya. (HR. Bukhari, Bab Agama yang Paling Allah Cintai adalah yang Dawam/ Rutin, No. 43 [1/17])

Sejatinya, Allah tidak akan pernah merasa bosan hingga hambaNya sendiri yang akan bosan. Jadi, sebanyak dan sesering apapun ibadah yang dilakukan hambaNya, Allah tidak akan pernah bosan. Begitupun dengan sesering apapun hambaNya meminta kepadaNya, Dia tidak akan pernah bosan mendengar permintaan kita. Maka, jadilah sebaik-baik peminta. Dia yang bersungguh-sungguh, rendah hati, dan bersuara lembut dalam meminta. Wallahu Ta’ala A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *