Amalan-amalan Khusus di Bulan Muharram - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Amalan-amalan Khusus di Bulan Muharram

3 months ago
1075

Sempat viral di media sosial tentang amalan-amalan khusus di tanggal 10 Muharram yang dianggap sunnah. Amalan-amalan tersebut di antaranya ialah; (1) Puasa satu hari sebanding dengan puasa sebulan; (2) puasa tiga hari pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram; (3) Infaq atau melebihkan pemberian nafkah kepada istri; (4) Menyantuni anak yatim; (5) Memperbanyak shalat sunnah seperti tahajud, witir, tasbih, dhuha, hajat, dan shalat sunnah lainnya; (6) Silaturrahmi; (7) Menjenguk orang sakit; (8) Ziarah; (9) Mengusap kepala anak yatim dan memotong kuku; (10) Mandi wajib; (11) Membaca surat al-Ikhlas seribu kali.

Jamise Syar'i

Benarkah semua amalan-amalan tersebut ada landasan dalilnya? Jika ada, apakah dalil mengenai semua amalan itu bisi dijadikan hujjah? Berikut penelusuran kami terhadap dalil-dalil tersebut.

Puasa Sehari Sebanding dengan Puasa Sebulan

Terdapat dua riwayat hadis yang tercantum dalam Mu’jam ath-Thabrani (Mu’jam ash-Shagir dan Mu’jam al-Kabir) dengan redaksi sebagai berikut

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ كَانَ لَهُ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ , وَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ يَوْمًا»

Dari Ibn Abbas ra ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang shaum pada hari árafah, maka akan di ampuni dosanya selama 2 tahun. Dan barangsiapa yang berpuasa satu hari di bulan Muharram, maka baginya seperti shaum setiap hari yang sebanding dengan shaum 30 hari.”

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثِينَ حَسَنَةً .

Dari Ibn Abbas ra ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang shaum satu hari di bulan Muharram, maka dia seperti shaum setiap hari yang pahala perharinya tigapuluh kebaikan.”

Dari kedua Riwayat di atas, terdapat rawi-rawi yang dinilai lemah sehingga status haditsnya dhaif. Di antara rawi yang dinilai lemah; pertama, Laits bin Abi Sulaim. Yahya bin Ma’in menilainya sebagai rawi yang dha’if (lemah). Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh Muhammad bin Ayyub sebagai berikut:

كتب إلي محمد بن أيوب ، سمعت يحيى بن معين يقول : ليث بن أبي سليم ضعيف.

Muhammad ibn Abi ayub menulis kepadaku, aku mendengar Yahya ibn Maín berkata, “Laits bin Abi Suliam itu dhaif”. (al-Kaamil fi al-Dhuáfa 7/231)

Ibnu Hiban menyebutkan alas an mengapa Laits bin Abu Sulaiman bisa dinilai dhaif. Berikut redaksi lengkapnya:

وقال ابن حبان : اختلط في آخر عمره ، فكان يقلب الأسانيد ، ويرفع المراسيل ، ويأتي عن الثقات بما ليس من حديثهم ، تركه القطان ، وابن مهدي ، وابن معين ، وأحمد . كذا قال.

Ibn Hibban berkata, “Ia Ikhtilath di akhir umurnya. Ia kerap kali memaqlubkan (memutarbalikan) sanad, memarfukan hadis Mursal, meriwayatkan dari rawi tsiqah (kredibel) padahal kenyataanya bukan dari mereka. Yahya al-Qathan, Ibn Mahdi, Ibn Maín dan Ahmad meninggalkan hadits periwyatannya. (Tahdzib al-Tahdzib 3/484)

As-Saji dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib menilainya sebagai rawi yang jujur (shaduq). Namun disebabkan hafalannya jelek dan banyak kelirunya, sehingga ia dinilai dhaif. (Tahdzib at-Tahdzib 484)

Demikian halya Imam at-Tirmidzi dalam kitab al-‘Ilal al-Kabir dengan mengutip perkataan Imam al-Bukhari menyatakan bahwa, Laits adalah rawi yang jujur namun terdapat kesalahan dalam periwayatannya.

Maka Ibnu Hajar al-Asqalani menyimpulkan tentang rawi yang bernama Laits bin Abi Sulaiman sebagai beriut:

صدوق اختلط جدا ، ولم يتميز حديثه فترك.

Ia shaduq tapi sangat ikhtilat. Periwayatannya sama tidak ada yang berbeda, maka ia ditinggalkan. (Taqrib at-Tahdzib 1/817)

Kedua, Hamzah al-Zayyat. As-Saji menilainya sebagai rawi yang jujur (shaduq) akan tetapi hafalannya sangat jelek bahkan Sebagian ulama hadits mencela bacaannya. Berikut keterangan lengkapya:

وقال الساجي : صدوق سيئ الحفظ ليس بمتقن في الحديث ، وقد ذمه جماعة من أهل الحديث في القراءة.

As-Saji berkata, “Shaduq namun jelek sekali hafalannya. ia tidak mutqin dalam hadis dan sebagian ulama hadits mencela bacaannya.. (Tahdzib al-Tahdzib 1/488)

Namun demikian Yahya bin Main menilainya sebagai rawi yang tsiqah. Berikut uraiannya:

قال حرب بن إسماعيل ، عن أحمد بن حنبل ، وأبو بكر بن أبي خيثمة ، عن يحيى بن معين : ثقة تهذيب

Harb bin Ismail berkata dari Ahmad bin Hanbal dan Abu Bakr bin Abi Khaitsamah dari Yahya bin Main berkata, “Ia rawi yang tsiqah.” (Tahdzibul Kamil 7/314)

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani menyimpulkan dalam kitab Taqrib at-Tahdzib bahwa ia seorang rawi yang shaduq dan zuhud. Namun terkadang suka keliru dalam meriwayatkan hadits. (Taqrib at-Tahdzib 1/271)

Ketiga, rawi yang bernama Sallam ath-Thawil. Imam al-Bukhari dalam kitab Tarikh al-Kabirnya menyatakan bahwa ia seorang rawi banyak kehilangan hadits sehingga menyebabkannya dhaif dan periwayatan haditsnya tidak diterima. (Tahdzib al Tahdzib : 2/137)

Bahkan imam an-Nasa’i dalam kitab al-Kamil fi ad-Dhu’afa menyebutkan bahwa Sallam ath-Thawil haditsnya ditinggalkan (matruk). Demikian halnya dengan Ibnu Hajar al-Asqalani yang menyimpulkan bahwa hadits yang diriwayatkan Sallam ath-Thawil matruk. (Taqrib al-Tahzib (1/425)

Keempat, rawi yang bernama al-Haitsam al-Habib. Rawi ini telah dinilai matruk (ditinggalkan haditsnya) oleh Ibnu Hajar al-Asqalani. Dengan demikian, kedua riwayat yang menjelaskan bahwa shaum satu hari sebanding dengan satu bulan adalah sangat dhaif dan bahkan matruk (semi maudhu).

Puasa Tanggal 9. 10 dan 11 Muharram

Terdapat riwayat yang menerangkan puasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram. Berikut redaksinya:

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا

“Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi, (yaitu) berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”.

Hadist di atas diriwayatkan dalam Shahih Ibnu Khuzaimah no. 2095; Sunan al-Baihaqi no. 8494-8495; Musnad Ahmad no. 2188; Musnad al-Humaidi no. 491; Musnad al-Bazzar no. 5238; dan at-Thahawi dalam Syarh Ma’ani al-Atsar no. 3303-3304.

Dari semua jalur periwayatan mengenai hadits di atas, terdapat dua alasan yang menyebabkan hadits ini dhaif-munar. Pertama, terdapat rawi yang bernama Ibnu Abi Laila. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila. Ia dilemahkan oleh segenap ulama kritits (ahli nuqad) dari segi hafalannya. Kedua, Ibnu Abi Laila menyelisihi rawi yang bernama Abdurrazaq yang dari segi hafalanya lebih kuat daripadanya. Abdurrazaq meriwayatkan hadis ini dari Ibnu Juraij dari ‘Atha` dari Ibnu ‘Abbas secara mauquf dari perkataan beliau (Ibnu Abbas) dengan lafazh “berpuasalah pada hari ke 9 dan ke 10” tanpa ada tambahan lafazh “atau sehari setelahnya”.

عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ , أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ , يَقُولُ: صُومُوا التَّاسِعَ , وَالْعَاشِرَ , وَخَالِفُوا الْيَهُودَ.

Ibn Abbas berkata, “Shaumlah kalian pada tanggal 9 dan 10, serta selisihilah shaumya orang-orang Yahudi. (tafsir Abd al-Razaq 3/424 no. 3597)

Infaq atau Memberi Nafkah Lebih pada Istri

Terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa infaq atau memberi nafkah lebih pada hari Asyura. Berikut redaksinya:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Siapa yang memberi kelonggaran harta kepada keluarganya (istrinya) pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelonggaran rizki kepadanya sepanjang tahun.”

 

Hadits di atas diriwayatkan dalam Mu’jam Ibnul ‘Arabi, Mu’jam Kabir ath-Thabrani, Arba’ Majalis Khatib al-Baghdadi, dan at-Tawassu’ah ‘ala al-‘Iyal Abi Zur’ah. Hadits ini pun diriwayatkan melalui beberapa jalur sahabat. Namun demikian, terdapat kecacatan pada semua jalur tersebut.

Pertama, jalur sahabat Abu Hurairah. Di dalam jalur periwayatan ini terdapat rawi yang bernama Muhammad bin Dzakwan yang dinilai munkarul hadits. Kedua, jalur al-Hajjaj bin Nushair. Dia adalah seorang rawi yang dinilai munkarul hadits oleh Abu Hatim dan hadits-haditsnya hilang menurut Ali al-Madini. Ketiga, jalur sahabat Abu Sa’id. Di dalamnya terdapat rawi yang bernama Abdullah bin Salamah al-Juhaini yang dinilai matruk oleh Sebagian ulama kritis (ahli nuqad) dan rawi yang bernama Muhammad bin Ismail yang dinilai matruk oleh Abu Nu’aim dalam kitab Lisan al-Mizannya. Keempat, jalur sahabat Abu Ibnu Mas’ud. Di dalamnya terdapat rawi yang bernama Haitsam bin Syaddakh (tertuduh dusta), Áli ibn Abi Thalib al-Bazzaaz (dhaif), dan Abdul Waarits ibn Ibrahim (majhul). Kelima, jalur sahabat Abu Jabir. Di dalamnya terdapat rawi yang bernama Abdullah bin Abu Bakr yang dinilai majhul (tidak dikenal identitasnya) oleh Ibnu Hajar. Keenam, jalur sahabat Abu Ibnu Umar. Di dalamnya terdapat rawi yang bernama Ya’kub bin Khurrah ad-Dabagh yang oleh Imam adz-Dzahabi dianggap sebagai rawi yang seringkali meriwayatkan khabar yang batil.

Menyantuni Anak Yatim

Kami belum menemukan hadis secara khusus tentang menyantuni anak yatim di bulan muharram atau hari Asyura, baik dalam kitab-kitab mashadir al-ashliyyah (sumber primer) maupun kitab mashadir tabaíyyah (sumber sekunder), begitupun dalam kumpulan hadis palsu pun tidak ditemukan.

Memperbanyak Shalat Sunnah

Kami belum menemukan hadis secara khusus tentang memeperbanyak shalat sunnah hajat, witrir, dan lain sebagainya di bulan muharram atau hari Asyura, baik dalam kitab-kitab mashadir al-ashliyyah (sumber primer) maupun kitab mashadir tabaíyyah (sumber sekunder), begitupun dalam kumpulan hadis palsu pun tidak ditemukan.

Namun kami menemukan hadits dengan redaksi lain dalam riwayat ath-Thabarani. Berikut redaksinya:

 

عَنِ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ أُمَّ الْقُرْآنِ وَسُورَةً، فَإِذَا فَرَغَ مِنِ الْقِرَاءَةِ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، فَهَذِهِ وَاحِدَةٌ، حَتَّى يُكْمِلَ خَمْسَ عَشْرَةَ، ثُمَّ رَكَعَ فَيَقُولهَاُ عَشْرًا، ثُمَّ رَفَعَ فَيَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ يَسْجُدُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ يَرْفَعُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ يَسْجُدُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيَقُولُهَا عَشْرًا، فَهَذِهِ خَمْسَةٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ، حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ» قَالَ: «مَنْ صَلَّاهُنَّ غُفِرَ لَهُ كُلُّ ذَنْبٍ صَغِيرِهِ وَكَبِيرِهِ، قَدِيمٌ أَوْ حَدِيثٌ، كَانَ أَوْ هُوَ كَائِنٌ»

 

Dari Ibnu Abbas ia berkata, “Aku mendengar Nabi saw bersabda, “Barnagsiapa yang shalat 4 rakaat, lalu tiap rakaatnya membaca ummul quran beserta suratnya, dan ketika selesai membacanya lalu ia membaca tasbih, tahmid, tahlil dan takbir dan ini hanya pada 1 rakaat, hingga ia menyempurnakan bacaan 15 kali, kemudian ruku dan membaca 10 kali, kemudian bangkit dari ruku dan mambaca 10 kali, kemudian sujud dan membaca 10 kali, kemudian bangkit dari sujud dan membaca 10 kali, kemudian sujud lagi dan membaca 10 kali, kemudian bangkit dari sujud dan membaca 10 kali, maka menjadi 75 kali bacaan dalam 1 rakaat hingga selesai sebanyak 4 rakaat. Beliau bersabda, “Barangsaiapa yang melakukan shalat tersebut maka akan diampuni seluruh dosanya baik yang kecil maupun yang besar, yang dulu atau yang baru, baik keadaannya telah terjadi atau yang akan terjadi. 

Hadis ini maudhu (palsu), sebab ketafarrudan (menyendirinya) rawi bernama Yahya bin Úqbah yang terindikasi terutuduh dusta, sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam Taqribnya.

Terdapat pula hadits palsu lain yang disinyalir berasal dari Syiah. Berikut redaksinya:

ومن أحيا ليلة عاشوراء بالعبادة فكأنما عبد الله تعالى مثل عبادة أهل السموات السبع

Barang siapa menghidupkan malam Asyura dengan beribadat maka seolah-olah ia telah beribadat kepada Allah seperti ibadat penghuni tujuh langit.

Silaturahmi

Kami belum menemukan hadis secara khusus tentang silaturrahim di bulan muharram atau hari Asyura, baik dalam kitab-kitab mashadir al-ashliyyah (sumber primer) maupun kitab mashadir tabaíyyah (sumber sekunder), begitupun dalam kumpulan hadis palsu pun tidak ditemukan.

Menjenguk Orang Sakit

Berkenaan tentang keharusan menjenguk orang sakit pada tanggal 10 Muharram, status haditsnya adalah maudhu (palsu). Berikut redaksinya:

ومن عاد مريضا في يوم عاشوراء فكأنما عاد مرضى أولاد آدم كلهم

Barang siapa yang menjenguk orang sakit pada hari tersebut maka seolah-olah ia telah menjenguk seluruh anak Adam yang sakit.

Ziarah

Kami belum menemukan hadis secara khusus tentang keharusan berziarah di bulan muharram atau hari Asyura, baik dalam kitab-kitab mashadir al-ashliyyah (sumber primer) maupun kitab mashadir tabaíyyah (sumber sekunder), begitupun dalam kumpulan hadis palsu pun tidak ditemukan.

Mengusap Kepala Anak Yatim dan Memotong Kuku

Kami belum menemukan hadis secara khusus tentang keharusan mengusap kepala anak yatim dan memotong kuku di bulan muharram atau hari Asyura, baik dalam kitab-kitab mashadir al-ashliyyah (sumber primer) maupun kitab mashadir tabaíyyah (sumber sekunder), begitupun dalam kumpulan hadis palsu pun tidak ditemukan.

Mandi Wajib

Berkenaan tentang keharusan mendi wajib pada tanggal 10 bulan Muharaam, status haditsnya adalah palsu:

ومن اغتسل وتطهر يوم عاشوراء لم يمرض في سنته إلا مرض الموت

Barang siapa mandi dan bersuci pada hari Asyura maka ia tidak akan sakit pada tahun tersebut kecuali sakit mati

Membaca Surat Al-Ikhlas 1000 kali

Berkenaan tentang keharusan membaca surat al-Ikhlas 1000 kali, status haditsnya maudhu (palsu) dan tidak ditemukan di dalam kitab manapun.

Dengan demikian, semua amalan-amalan di atas tidak ada satu pun dalil shahih yang mengharuskan mengerjakannya. WaLlahu A’lam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *