Tafaqquh Sebelum dan Sesudah Tua

3 weeks ago
1061

تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا

Tafaqquhlah kalian sebelum dijadikan sayyid

(Atsar ‘Umar ibn al-Khaththab ditulis dalam Shahih al-Bukhari bab al-ighthibath fil-‘ilm wal-hikmah)

Ada beberapa kemungkinan makna dari atsar ‘Umar ibn al-Khaththab ra di atas sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari.

Pertama, siapa pun orangnya pasti akan menjadi sayyid; tokoh, yang ditokohkan, atau orang tua yang dituakan. Minimalnya sejak ia menikah pasti akan menjadi sayyid bagi anak dan istrinya. Terlebih bagi mereka yang berusia panjang pasti akan menjadi sayyid di keluarganya atau masyarakat sekitarnya. Maka sebelum menjadi sayyid alangkah baiknya memperdalam ilmu agama agar ketika ia dijadikan sayyid ia memang pantas untuk dijadikan sayyid. Agar seseorang tidak menjadi sayyid yang buruk. Fisiknya saja sayyid, tetapi ilmunya jauh panggang dari api.

Kedua, perdalam ilmu agama sebelum menjadi seorang tokoh atau orang yang dituakan, sebab ketika sudah menjadi seperti itu pasti tidak akan sempat lagi tafaqquh. Jadinya tampaklah sayyid-sayyid yang tidak fiqih dan tidak pantas untuk menyandang status sayyid.

Akan tetapi Imam al-Bukhari kemudian melanjutkan pernyataan ‘Umar ibn al-Khaththab ra di atas dengan menulis: “Dan setelah dijadikan sayyid, sebab para shahabat pun sungguh tetap belajar ilmu meski mereka sudah tua renta sekalipun.”

Artinya pernyataan ‘Umar di atas, menurut Imam al-Bukhari, jangan dipahami sebaliknya (mafhum mukhalafah) sehingga menjadi tidak perlu lagi tafaqquh kalau sudah dijadikan sayyid. Maksud pernyataan ‘Umar ra di atas hanya agar ketika seseorang menjadi sayyid ia sudah cukup ilmu untuk itu. Jadi kalau memang yang dikhawatirkan sesudah menjadi sayyid akan susah untuk tafaqquh, maka dalam perspektif Imam al-Bukhari, sesudah menjadi sayyid pun tetap harus belajar secara konsisten agar menjadi sayyid yang lebih ideal. Dalilnya para shahabat pun tetap belajar meski di usia senja mereka.

Apa yang ditegaskan Imam al-Bukhari di atas hakikatnya menegaskan kewajiban menuntut ilmu sampai liang lahad, jangan malah berhenti ketika menjadi sayyid. Kalau seandainya sesudah menjadi sayyid saja wajib tetap tafaqquh, maka apalagi yang belum dijadikan sayyid. Mengapa tidak tafaqquh?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *