Urgensi Bahasa Asing Untuk Santri

3 weeks ago
838

Pesantren Persis 27 beberapa bulan lalu telah mengadakan survei terhadap santri kelas 2 Muallimien yang berminat melanjutkan sekolahnya ke Perguruan Tinggi setelah lulus dari Pesantren Persatuan Islam 27 Situaksan, Bandung.  

Dari hasil survei tersebut disebutkan bahwa 90% santri PPI 27 mempunyai minat melanjutkan sekolahnya ke Perguruan Tinggi yang ada di luar negeri; 80 % santri memilih ke Timur Tengah, seperti Mesir, Madinah, Sudan, Maroko, dan lain sebagainya; 5% ke negeri Jiran seperti Malaysia, Singapura, dan lain sebagainya; 5% santri memilih ke negeri Eropa, seperti turki. Selebihnya, santri memilih kuliah di universitas terbaik yang ada di dalam negeri.

Pesantren Persis Islam 27 yang sedari awal memproyeksikan santri-santrinya menjadi tafaqquh fiddin, sangat mendorong penuh kepada santri-santrinya agar meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Maka tidak heran jika tidak ditemukan santri yang memilih untuk meneruskan ke dunia pekerjaan, saat diwawancarai oleh Pesantren.

Tidak sampai di sana, PPI 27 memfasilitasi santri-santrinya yang ingin melanjutkan sekolahnya ke luar negeri dengan cara mengadakan pemantapan bahasa asing. Bagi santri yang berminat kuliah ke Timur Tengah akan difasilitasi dengan pemantapan bahasa Arab. Sedangkan bagi santri yang berminat kuliah ke Negara Eropa akan difasilitasi dengan pemantapan bahasa Inggris. Selama dua tahun, terhitung dari sejak naik ke kelas 2 Muallimien sampai lulus, santri yang berminat kuliah ke Negara Asing akan digecek dan difokuskan dalam penguasaan bahasa asing sebagai syarat untuk bisa lolos seleksi.

Pemantapan bahasa asing dilaksanakan dari hari senin sampai kamis dengan durasi waktu dua jam setengah, yaitu dari pukul 13.00 sampai 14.00 WIB. Kelas bahasa Arab, santri difokuskan untuk bisa menguasai kemahiran dalam berbicara (hiwar) dan menulis (kitabah). Sedangkan kelas bahasa Inggris, santri lebih difokuskan untuk bisa menguasai kemahiran dalam berbicara (speaking) dan menguasai soal-soal IELTS ( International English Language Testing System).

Dengan adanya pemantapan bahasa Asing ini, santri didorong sekaligus dituntut untuk menguasainya. Oleh sebab itu, kami mengadakan hari-hari khusus berbahasa Asing. Misalnya kami membuat hari khusus untuk berbahasa Arab dari hari senin sampai rabu dan hari khusus berbahasa Inggris di hari kamis. Selebihnya, santri dapat menggunakan bahasa daerah (Sunda/ Indonesia)

Belum lagi ditambah dengan ihtifal yang mewajibkan para santri berpidato dengan bahasa Asing (Arab dan Inggris), tentu akan semakin mengasah kemampuan santri dalam berbahasa Asing. Karena kami selalu diingatkan dan disadarkan akan pentingnya mempelajari bahasa Asing, baik itu bahasa Inggris terlebih bahasa Arab.

Bahasa Arab Sebagai Prioritas Utama

Dengan adanya pemantapan bahasa Arab dan bahasa Inggris, santri tidak lantas terbagi kepada dua konsentrasi, yaitu santri yang concern dalam bahasa Arab dan santri yang concern dalam bahasa Inggris. Kedua-duanya menjadi prioritas santri sehingga semaksimal mungkin santri didorong untuk bisa menguasainya.

Meski demikian, mengusasi bahasa Arab menjadi prioritas utama bagi PPI 27. Hal ini bisa dilihat dari seleksi masuk ke PPI 27 yang menjadikan bahasa Arab sebagai syarat utama selain hafalan al-Qur’an, untuk bisa masuk ke PPI 27. Bahkan setelah dinyatakan lolos seleksi penerimaan santri PPI 27, mereka diwajibkan mengikuti matrikulasi bahasa Arab.

Bahkan semua mata pelajaran yang ada di PPI 27, disampaikan dengan metode bahtsul kutub, yaitu metode dimana para santri membaca teks bahasa Arab di depan asatidzah yang kemudian akan dikoreksi, diarahkan, dan dibetulkan jika terdapat kesalahan. Di sini kami benar-benar diasah dalam menentukan bagaimana kedudukan dalam satu kalimat, apakah ia marfu’, manshub, majrur, dan majzum. Kami juga diasah untuk bisa menerjemahkan bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sehingga tidak hanya membaca teks bahasa arab gundul, kami pun dituntut untuk memahaminya. Maka tidak heran jika mayoritas santri sudah dapat membaca arab gundul dengan baik.

Hal itu dilakukan dalam rangka mewujudkan santri-santri yang tafaqquh fiddin (paham terhadap agama). Karena seseorang tidak dapat menguasai dan memahai agama Islam tanpa bahasa Arab. Karena al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber utama ajaran Islam berbahasa Arab. Kitab-kitab para ulama seperti Kitab Tafsir, Kitab Tauhid, Kitab Hadits, semuanya berbahasa Arab. Maka tanpa menguasai bahasa Arab sangat mustahil bisa mewujudkan santri yang tafaqquh fiddin sebagaimana visi pesantren tercinta kami.

Namun demikian, prioritas kami terhadap bahasa Arab menyebabkan kami tidak menyukai bahasa Inggris. Justru dengan adanya pemantapan bahasa Inggris, menunjukan bahwa bahasa Inggris penting untuk dipelajari dan dikuasai. Hari ini banyak dai yang syiar dakwahnya hanya pada tingkat lokal tidak sampai pada tingkat internasional, salah satu penyebabnya karena minimnya penguasaan bahasa Inggris. WaLlahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *