Akad Transaksi Go Food Halal - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Akad Transaksi Go Food Halal

3 weeks ago
1173

Bismillah, Ustadz afwan mau minta pendapatnya terkait hukum go food. Kalau ana ikut kajian beberapa ustadz ada dua pendapat; ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Yang mengharamkan karena ada penggabungkan dua akad yakni akan pinjaman dengan akan jual jasa. Sedangkan yang membolehkan berpendapat bahwa akadnya jual jasa, akad pinjaman bukan tujuan utama tetapi pengaruh kondisi. Menurut ustadz bagaimana?

0811-204-xxx

 

Dalam pengamatan kami, titik perdebatan hukum Go Food itu ada dalam tiga hal, yaitu:

  1. Menyatukan akad jual beli dan pinjaman, karena yang terjadi di Go Food pastinya jual beli makanan. Sementara pembeli tidak memberi uang langsung ke driver Go Jek, melainkan ia atas nama Go Jek meminjamkan uangnya untuk membeli dahulu makanan yang diminta pembeli ke toko, warung, atau merchant. Jadi di balik jual beli itu ada akad pinjaman.
  2. Penarikan keuntungan dari pinjaman dan ini termasuk riba. Ketika Go Jek (driver) meminjamkan uangnya untuk membeli makanan yang dipesan ia menarik keuntungan dari pinjaman yang diberikan itu berupa persenan sebesar 15% dari harga yang dibayar oleh pembeli. Menarik keuntungan dari pinjaman adalah salah satu bentuk riba yang diharamkan.
  3. Penipuan harga karena biaya antar tidak ditulis melainkan dimasukkan ke harga barang. Ketika pembeli memesan harga nasi goreng Rp. 30.000,- misalnya, maka sebenarnya ia tidak membeli Rp. 30.000,-. Yang ia bayar sebenarnya hanya Rp. 24.500,-, sedangkan Rp. 4.500,- nya keuntungan untuk Go Jek dan driver. Tetapi yang ada di transaksinya pembeli membeli seharga Rp. 30.000,- dan tidak disebutkan di sana ada fee untuk pengantarnya. Umumnya dalam transaksi online disebutkan harga asli barang yang diperjualbelikan kemudian disebutkan juga ongkos kirimnya. Model seperti ini dianggap penipuan.

Hemat kami dalam tiga titik perdebatan di atas sebenarnya tidak ada yang sampai jatuh haram. Berikut penjelasannya:

Pertama, menyatukan akad jual beli dan pinjaman, ini memang dilarang dalam hadits ‘Abdullah ibn ‘Amr ra berikut:

وَعَنْ عَمْرِوِ بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَلَا شَرْطَانِ فِي بَيْعٍ, وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ يُضْمَنْ, وَلَا بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ. رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ

Dari ‘Amr ibn Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya: Rasulullah saw bersabda: “Tidak halal pinjam dan jual-beli, dua syarat dalam satu transaksi, keuntungan yang belum terjamin, dan menjual yang tidak kamu miliki.” Riwayat Lima Imam. Hadits shahih menurut at-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hakim (Bulughul-Maram  no. 820).

Akad pinjam dan jual-beli itu, tafsirannya yang paling jelas menurut Syaikh al-Bassam adalah seseorang menjual satu barang dengan memberinya pinjaman. Mengutip penjelasan Ibnul-Qayyim, contohnya seseorang A memberikan pinjaman 1.000 dinar kepada B, dengan syarat B membeli dari A satu barang yang harganya 1.000 dinar dimana harga pokoknya hanya sebesar 800 dinar saja. Jadinya A memberikan kepada B senilai 1.800 dinar, dan B harus membayar kepada A sebesar 2.000 dinar. A menarik keuntungan 200 dinar dari akad pinjam dan jual beli ini. Di sini ada riba, karena dari pinjaman yang diberikan ia menarik keuntungan meski melalui akad jual beli. Akad jual belinya tidak bisa disebut murni keuntungan jual beli karena disatukan dengan pinjaman. Kelebihan dari pinjaman hukum asalnya adalah riba (Taudlihul-Ahkam min Bulughil-Maram).

Jadi intinya, menyatukan akad jual beli dan pinjaman itu adalah menarik keuntungan dari peminjaman tetapi dilakukan secara tidak langsung. Jika secara langsung mensyaratkan ada keuntungan/kelebihan dalam pembayaran pinjaman, maka ini jelas riba. Jika penarikan keuntungan itu melalui jual beli yang disertakan di samping pinjaman, maka ini tidak terlihat sebagai riba. Meski demikian, transaksi model ini tetap diharamkan karena hakikatnya sama menarik keuntungan di balik pinjaman. Ketentuan haramnya menarik keuntungan dari pinjaman dinyatakan dalam hadits:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

Setiap pinjaman yang menarik manfaat maka itu adalah riba (Riwayat al-Harits ibn Abi Usamah dan sanadnya jatuh. Tetapi ada syahid yang dla’if dari Fudlalah ibn ‘Ubaid riwayat al-Baihaqi. Syahid lainnya mauquf dari ‘Abdullah ibn Salam riwayat al-Bukhari. Bulughul-Maram kitab al-buyu’ bab ar-riba no. 881-883).

Akan tetapi dalam transaksi Go Food tidak ada menyatukan akad jual beli dan pinjaman ini, sebab yang ada akad jual beli saja. Adapun pinjaman itu teknis saja, tidak merupakan akad utama, sebab jika drivernya sedang berhadapan dengan pembeli pasti driver akan meminta uang terlebih dahulu kepada pembelinya. Itu pastinya akan lebih menguntungkan bagi drivernya. Akan tetapi karena dituntut kecepatan pelayanan dan pembeli sedang tidak ada di tempat driver maka otomatis driver membelikan dahulu ke merchant/toko kemudian mengantarkannya ke pembeli. Model transaksi seperti ini lumrah terjadi di masa sekarang di mana seorang pembeli membeli satu produk lewat satu agen/reseller/pedagang, kemudian agen/reseller/pedagang tersebut membelikannya terlebih dahulu kepada produsennya untuk kemudian nanti dijual kepada pembeli pemesannya. Atau yang sederhananya, si A membeli buku kepada si B. Tetapi karena barangnya sedang tidak ada, maka si B membelikannya terlebih dahulu kepada si C. Sesudah dapat barang tersebut, si B kemudian menjualnya kepada si A. Akad dalam transaksi ini jual beli bukan pinjam meminjam. Adanya pinjam meminjam hanya konsekuensi teknis saja. Jadi model transaksi seperti ini berbeda dengan larangan menyatukan jual beli dan pinjaman dalam hadits di atas.

 Kedua, penarikan keuntungan dari pinjaman memang diharamkan. Akan tetapi sebagaimana diuraikan di atas, akad dalam Go Food ini bukan pinjaman, melainkan jual beli. Modelnya, pembeli membeli secara memesan (bai’ istishna’; jual beli dengan memesan terlebih dahulu) kepada Go Jek, lalu kemudian Go Jek membeli kepada merchant/penjual makanan, setelah itu Go Jek yang diwakili driver menjualnya kepada pembeli pemesan. Menarik keuntungan dari jual beli hukumnya halal. Jadi dalam point ini yang terjadi bukan menarik keuntungan dari pinjaman, tetapi dari jual beli, dan itu hukumnya halal.

Ketiga, pembeli tidak merasa tertipu dengan transaksi Go Food karena memang sudah sangat paham bahwa harga makanan di Go Food sudah dilebihkan dari yang sebenarnya. Ini tentunya untuk berbagi keuntungan antara Go Food, driver, dan pedagang makanannya. Pembeli sudah paham akan hal tersebut. Kalaupun ada yang harganya lebih murah dari offline, itu hanya karena promo saja, dan tidak berlaku selamanya.

Persoalan harga yang tertulis di aplikasi bukan harga yang sebenarnya, pembeli juga sudah paham. Terkait mengapa tidak dituliskan harga aslinya berapa dan jasa antarnya berapa itu bagian teknis yang menjadi kewenangan pihak-pihak yang menyepakati dalam kerja sama usaha. Tidak masuk ke dalam ranah pelanggaran hukum syari’at selama kedua pihak saling ridla dan transparan dalam perjanjian yang dibuat.

Meski demikian, memang ada pilihan yang lebih maslahat, yakni Go Jek memberlakukan aturan driver menarik dahulu uang ke pemesan, untuk kemudian dibelikan makanan yang dipesan. Selain menghilangkan keraguan yang menganggap adanya transaksi pinjaman di balik jual beli, juga lebih maslahat untuk mencegah pembeli hantu atau yang membatalkan pesanan tiba-tiba padahal driver sudah membelinya ke merchant. Atau otomatis dijalankan saja oleh driver ketika ia menerima order tidak langsung membeli ke pedagangnya melainkan menagih dahulu uang pembeliannya kepada pembeli. Demikian halnya pembeli bisa meminta driver untuk mengambil uangnya dahulu ke pembeli, untuk kemudian dibelikan makanan yang dipesannya. Ini pasti lebih maslahat.

Mengingat kaidah bahwa perdebatan halal dan haram di kalangan ulama menyebabkan status hukum sesuatu yang diperdebatkan syubhat, maka meski kami yakin seyakin-yakinnya akad transaksi Go Food ini halal, secara adab tidak boleh dinafikan adanya kemungkinan syubhat. Konsekuensi hukumnya sebisa mungkin dihindari, kecuali jika memang darurat dan tidak ada cara lain selain harus memesan lewat Go Food, seperti orang yang sedang sakit dan harus disiplin makan obat misalnya. Ia belum punya anak yang sudah besar ataupun saudara yang bisa diminta untuk membelikan makanan. Maka halal baginya untuk memesan makanan lewat Go Food. Wal-‘Llahu a’lam.

Contoh Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *