Mendudukkan Aswaja dengan Adil - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Mendudukkan Aswaja dengan Adil

3 weeks ago
983

Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah (Aswaja) adalah kelompok yang memuliakan sunnah dan menjadikannya sebagai rujukan utama di samping al-Qur`an, di atas akal dan intuisi. Di samping itu mengutamakan ketaatan pada al-jama’ah dalam makna pemerintahan/negara yang dipimpin oleh pemimpin muslim.

Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah adalah nama yang diberikan Nabi saw melalui hadits-haditsnya, lengkap dengan karakteristiknya. Nama ini memang tidak Nabi saw berikan secara lengkap: Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Nabi saw hanya menyebutkan bahwa kelompok yang selamat itu dalam satu kesempatan adalah mereka yang berpegang teguh pada sunnah (Ahlus-Sunnah), dan di lain kesempatan adalah mereka yang berpegang teguh pada al-Jama’ah. Perangkaian istilah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah itu sendiri pertama kali dikemukakan oleh Ibn ‘Abbas ketika menafsirkan firman Allah swt QS. Ali ‘Imran [3] : 106:

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: {يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ} يَعْنِي: يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِيْنَ تَبْيَضُّ وُجُوْهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوْهُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَالْفُرْقَةِ. قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا

Al-Hafizh Ibn Katsir: Firman Allah Ta’ala: (pada hari memutihnya wajah orang-orang dan menghitamnya wajah orang-orang) yakni pada hari kiamat ketika memutih wajah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, dan menghitam wajah Ahlul-Bid’ah wal-Furqah. Demikian dikatakan oleh Ibn ‘Abbas ra (Tafsir Ibn Katsir QS. Ali ‘Imran [3] : 106).

Terlihat dengan jelas, perangkaian istilah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah oleh Ibn ‘Abbas dilawankan dengan Ahlul-Bid’ah wal-Furqah. Artinya, Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah adalah orang-orang yang meninggalkan bid’ah dan furqah (separatisme). Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah dan setia pada jama’ah kaum muslimin. Dalam hadits sendiri, Ahlus-Sunnah dan al-Jama’ah disebut Nabi saw sebagai kelompok yang akan selamat dan tidak akan tersesat, di saat banyak umat Islam tersesat ke dalam berbagai kelompok sesat.

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوْا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Akan menimpa umatku apa yang pernah menimpa Bani Isra`il setahap demi setahap. Sampai jika ada di antara mereka yang menzinahi ibunya terang-terangan, maka akan ada juga di antara umatku yang berbuat itu. Sungguh Bani Isra`il terpecah pada 72 sekte, sementara umatku terpecah pada 73 sekte. Semuanya masuk neraka kecuali satu sekte saja.” Mereka bertanya, “Siapa dia wahai Rasulullah saw?” Beliau menjawab, “Apa yang aku dan para shahabatku ada padanya.” (Sunan at-Tirmidzibab ma ja’a fi iftiraqi hadzihil-ummah, no. 2565)

Dalam hadits Mu’awiyah, Nabi saw menyebut yang akan selamat itu al-Jama’ah:

كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

Semuanya masuk neraka kecuali satu, yakni al-jamaah (Musnad Ahmad bab hadits Muawiyah ibn Abi Sufyan no. 16329).

Jalan Nabi saw dan para shahabat, disebut dengan tegas dalam hadits lain sebagai sunnah:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Kalian mesti mengikuti sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan hidayah dan petunjuk, peganglah ia dengan teguh dan gigitlah dengan gigi geraham. Dan jauhilah olehmu perkara yang dibuat-buat, karena setiap yang dibuat-buat itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.[1]

Dalam hadits di atas jelas disebutkan bahwa apa yang Nabi saw dan para shahabat sesudahnya jalani (diwakili oleh khalifah-khalifah yang mendapatkan petunjuk) adalah sunnah. Dan jelas juga tersebut dalam hadits di atas bahwa sebalik dari sunnah adalah bid’ah. Maka dari itu, para ulama hadits mengemukakan istilah ahlus-sunnah sebagai lawan dari ahlul-bid’ah. Ibn Sirin misalnya mengatakan:

وقَالَ لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوا سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

“Para ulama hadits pada awalnya tidak bertanya tentang isnad (profil periwayat), tapi setelah terjadi fitnah (perang saudara sesama muslim), mereka berkata: Sebutkan kepada kami nama rijal-rijal (periwayat) kalian. Lalu diperiksa, jika dari ahli sunnah maka haditsnya diambil, dan jika dari ahli bid’ah maka haditsnya tidak diambil.” (Shahih Muslim kitab al-muqaddimah bab fi annal-isnad minad-din no. 27).

Dari sini bermulalah penggunaan istilah ahlus-sunnah secara populer, untuk membedakannya dengan ahlul-bid’ah yang mengenyampingkan sunnah. Ahlul-bid’ah di masa awal Islam merujuk pada: (1) Syi’ah yang banyak menolak sunnah disebabkan kebencian kepada sebagian besar shahabat; (2) Mu’tazilah yang selalu mendahulukan ra`yu di atas sunnah; (3) Khawarij yang mengkafirkan kaum muslimin dan khuruj (separatis) kepada pemimpin kaum muslimin. (4) Murji`ah yang selalu beraqidah gamang; dan (5) Jabbariyyah dan Qadariyyah yang terlalu ekstrem dalam meyakini taqdir. Dua kelompok terakhir ini mengenyampingkan sunnah karena terjebak pada ahwa (hawa nafsu) (Fathul-Bari kitab al-iman dan Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim kitab al-iman dalam pengantar masing-masing untuk kitab al-iman).

Sementara terkait al-Jama’ah, dalam hadits lain disebutkan bahwa al-Jama’ah ini adalah sulthan; penguasa kaum muslimin (Shahih al-Bukhari kitab al-fitan no. 7053). Dalam hadits lain disebutkan, jama’atal-muslimin wa imamahum; jama’ah kaum muslimin yang dipimpin seorang imam (Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab kaifa al-amru idza lam takun jama’ah wala imam no. 7084). Hadits ini dalam riwayat at-Thabrani lebih tegas lagi menyebutkan khalifah; pemimpin negara (Fathul-Bari kitab al-fitan bab kaifa al-amru idza lam takun jama’ah wala imam). Siapa yang berani terang-terangan melawan (khuruj) pemerintah maka pasti akan menimbulkan korban mati jahiliyyah (Shahih al-Bukhari kitab al-fitan no. 7054). Selama sebuah pemerintahan Islam tetap dalam Islamnya dan belum kafir keluar dari Islam, umat Islam wajib bersabar menjaga pemerintahan dan tidak boleh berontak (Shahih al-Bukhari kitab al-fitan no. 6533). Melawan pemerintah yang sah hanya akan menyebabkan perang saudara sebagaimana halnya kaum Jahiliyyah. Orang-orang yang menjadi korbannya disebut mati jahiliyyah karena bukan dibunuh oleh orang kafir dalam peperangan melawan orang kafir, melainkan dibunuh oleh sesama muslim karena perebutan kekuasaan.

Maka jelas bisa diketahui bahwa selama seseorang atau satu kelompok tidak beraqidah Syi’ah, Mu’tazilah, Khawarij, Murji`ah, Jabbariyyah, Qadariyyah, dan Ahlul-Bid’ah lainnya berarti mereka masuk kategori Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Sebagaimana dijelaskan oleh ‘Abdul-Qahir al-Baghdadi dalam kitabnya, al-Farq bainal-Firaq wa Bayan al-Firqah an-Najiyah Minhum, masuk ke dalam kelompok Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah ini para ulama yang memperdalam tauhid termasuk kalam, fiqih, hadits, bahasa Arab, qira`at al-Qur`an, tasawuf, para mujahidin dan masyarakat umum (‘awam) yang mengikuti para ulama dan mujahidin di atas (‘Abdul-Qahir al-Baghdadi, al-Farq bainal-Firaq wa Bayan al-Firqah an-Najiyah Minhum, Kairo: Maktabah Ibn Sina, t.th., hlm. 272-274).

Baik yang aqidahnya bermadzhab salaf seperti Salafi, Muhammadiyah, Persatuan Islam, al-Irsyad, dan semacamnya; atau yang bermadzhab khalaf seperti NU, Perti, al-Jam’iyyah al-Washliyyah, dan Nahdlatul-Wathan, mereka semua termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Demikian halnya kaum muslimin yang bermadzhab Syafi’i, Hanbali, Maliki, atau Hanafi, semuanya termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Termasuk kaum muslimin yang memperdalam tasawuf seperti tarekat-tarekat yang banyak ditemukan di jama’ah Nahdliyyin dan yang sealiran, mereka juga masih masuk kategori Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, sebab rujukan utamanya sama al-Qur`an dan Sunnah meski menempuh jalan tasawuf.

Kaum muslimin di Indonesia atau bahkan di dunia yang tidak mengajarkan doktrin separatisme, berontak, kudeta, atau melawan pemerintahan yang sah—melainkan sekedar amar ma’ruf nahyi munkar saja—mereka juga termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Maka PKS, MMI, HTI, dan FPI pasti berada di barisan Aswaja karena doktrin mereka setia Negara dan Pemerintah, jauh berbeda dengan ISIS, JI, NII, al-Qa`idah, dan yang sejenisnya yang mengajarkan doktrin separatisme. Apalagi kelompok kaum muslimin yang dari sejak awal kemerdekaan selalu setia NKRI seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, Persis, dan NU mereka dipastikan termasuk Aswaja. Termasuk Salafi yang di Saudi Arabianya sendiri mengajarkan kesetiaan kepada Pemerintah meski Negaranya berbentuk Kerajaan sekalipun.

[1] Sunan Abi Dawud kitab as-sunnah bab fi luzum as-sunnah no. 4609

Contoh Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *