Gila Promo - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Gila Promo

3 weeks ago
1234

Promo maupun diskon selalu jadi sorotan dengan bandrol harga yang semakin membuat ‘gila’, menyesal jika tidak dibeli. Bagaimana tidak, potongan harganya nyaris 99% dari harga aslinya, bahkan lebih. Seperti promo bulan kemarin, sebutlah promo 9.9, karena bertepatan dengan tanggal 9 di bulan 9 (September). Sabun mandi ada yang dibandrol dengan harga Rp. 99; atau aneka kosmetik yang dibandrol menjadi Rp. 9.900 dari harga asal ± Rp. 30.000. Nominal yang ramah di dompet, membuat orang-orang tergiur dan terlena dengan promo diskon itu hingga lupa pada kebutuhan primernya. Tapi, karena mempertimbangkan keterbatasan waktu promo, orang-orang pun dituntut membeli saat itu juga. Berawal dari rasa ringan hati berbelanja tiap bulan mengejar promo bulanan, hingga merasa terbiasa mengambil promo, lalu ketagihan dengan membuat target list belanjaan dari jauh-jauh hari untuk dibeli saat promo, akhirnya ‘gila’ promo.

Kuncinya kembali lagi kepada diri kita masing-masing, sejauh mana ilmu, tentu disertai iman, yang kita miliki dapat memandu kita menjadi lebih bijak dalam bersikap. Ketika nafsu sudah mengendalikan diri, maka yang bisa mengambil kendali adalah keimanan. Dengan keimanan kita akan menyadari betul bahwa hidup ini bukan tentang pemuasan nafsu semata, melainkan untuk ibadah selamanya; mengumpulkan bekal amal sebanyak-banyaknya; dan menebar kebermanfaatan seluas-luasnya. Jika sadar betul akan keimanan ini, maka jiwa konsumtif pada diri seseorang akan mudah diatur dan terhindar dari gaya hidup hedonis.

Beberapa tips yang bisa digunakan untuk mencegah penyakit ‘gila’ promo, ataupun menghindari sikap konsumtif berlebihan dan gaya hidup hedonis, antara lain:

1. Meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ».

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya, ia berkata: Rasulullah shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi).

Biasanya seseorang tertarik membeli barang promo itu berawal dari melihat iklan, atau membuka aplikasi online shop, di waktu senggang. Maka, sebisa mungkin untuk meninggalkan kegiatan ini, karena sama sekali tidak ada manfaatnya, malah menjadi peluang nafsu untuk boros.

2. Mengatur keuangan dengan bijak.

Kuncinya kendalikan diri untuk memprioritaskan kebutuhan primer dan turunannya. Buatlah tabel prioritas dan catatan keuangan yang rapih agar kondisi keuangannya diketahui, sehingga dapat mengatur pengeluaran secara bijak.

3. Perbanyak shadaqah

Sebagaimana dijelaskan tentang penghuni neraka terbanyak adalah perempuan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyisipkan pesan untuk kaum wanita dengan kalimat sebagai berikut:

«يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ».

“Wahai seluruh perempuan, bersedekahlah, karena sesungguhnya aku melihat kalian menjadi penghuni neraka terbanyak.” (HR. Bukhari, Bab Zakat kepada Kerabat Dekat)

Ini adalah prioritas bulanan yang mestinya diagendakan oleh pemegang keuangan keluarga. Mengatur belanja kebutuhan primer berikut sedekahnya merupakan dua poin utama yang mesti diatur dalam keuangan keluarga ataupun pribadi. Karena setiap dari harta yang Allah titipkan pada hamba-Nya, di situ pula terletak hak orang lain yang mesti ditunaikan. Menyadari hal ini, setidaknya, akan membuat diri dapat mengendalikan nafsu untuk tidak terlampau boros dalam keuangan.

4. Membangun habbits (kebiasaan) hidup produktif.

Agar jiwa konsumtif pada diri tidak melambung tinggi, maka seimbangkan dengan jiwa produktifnya. Yaitu berusaha dalam menjalani kehidupan menjadi sebaik-baik manusia, yakni manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

5. Sering-seringlah melihat orang lain yang kondisi ekonominya sedang berada di bawah kita.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي المَالِ وَالخَلْقِ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ»

Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridlainya, dari Rasulullah sha-Llallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk rupa, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. al-Bukhari).

Sudah cukup jelas dalam hadits ini perintah untuk melihat orang yang sedang berada di bawah dalam perekonomiannya. Dan larangan sebaliknya, melihat ke orang yang jauh lebih mapan dalam hartanya. Dari sikap seperti ini pula akan melahirkan rasa syukur yang berlimpah dan sikap qanaah (merasa cukup dengan apa yang dipunya), karena melihat orang lain yang hidupnya masih jauh lebih menderita dari dirinya.

Demikian, beberapa tips yang bisa diberikan. Semoga bisa menjadi solusi untuk menekan perilaku konsumtif dan hedonis. Dan semoga kita semua terhindar dari ‘gila promo’, dan tentunya‘gila dunia’. Wa-Llahu ta’ala a’lam.

Contoh Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *