Menelusuri Warisan Intelektual Para Ulama - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Menelusuri Warisan Intelektual Para Ulama

2 months ago
1033

Salah satu satu program unggulan yang diusung di Pesantren Persis 27 itu ialah Bahtsul-Kutub, atau yang populer dengan istilah ngitab. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap 3 hari dalam satu pekannya, yaitu di hari senin; selasa; dan rabu. Kitab yang dikaji pun beragam tiap harinya. Hari senin mengkaji Kitabul-‘ilm karya Syaikh Muhammad bin Shalih bin al-Utsaimin (1929-2001), yang dibimbing oleh Ustadz Saeful Ja’far Shidieq. Adapun untuk hari selasa mengkaji kitab Syarah Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi (1233-1277), yang dibimbing langsung oleh Ustadz Nashruddin Syarief, begitu pula untuk hari rabu, beliau membimbing santri dalam mengkaji kitab Fathul-Bari’ karya Ibnu Hajar al-Asqalaniy (1372-1449).

Jamise Syar'i

Kegiatan ini hanya dikhusukan untuk santri tingkat Mu’allimin. Dalam setiap kegiatan ini semua santri diharuskan membaca kitab, masing-masingnya 1 paragaraf, atau seperlunya, secara bergiliran dan dibimbing oleh seorang ustadz. Di saat ada santri yang membaca, maka santri yang lain menyimak dan memberi harakat atau terjemah kosa kata pada kitabnya, sekiranya ia tidak tahu. Hal itu bertujuan untuk melatih kemampuan santri dalam membaca dan menerjemahkan kitab karangan para ulama. Di akhir waktu biasanya selalu diisi dengan sesi tanya jawab atau diskusi. Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih 1 jam, dari jam 20.00 – 21.00 WIB.

Kitab-kitab yang dikaji tentu memiliki fokusnya tersendiri. Kitabu-‘ilmi menjelaskan mengenai definisi ilmu; adab seorang ta’lim terhadap ilmu; kiat-kiat agar ilmu menjadi berkah; dan berbagai pembahsan lain mengenai ilmu. Dipilihnya kitab ini tentunya agar santri mengetahui bahwa makna ilmu itu luas dan agar mampu bersikap sebagaimana seharusnya ia bersikap, sebagai seorang penuntut ilmu. Mengingat, banyak mengaku diri penuntut ilmu namun tak tahu apa hakikat dan esensi dari ilmu itu sendiri. Tentu ilmu dicari agar diri menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dekat pada Rabb. Karena memang tujuan utama ilmu itu ma’rifatul-Lah (QS. 48:19).

Adapun kitab Syarah Shahih Muslim, santri saat ini tengah mengkaji kitab shalat. Di dalamnya dibahas mengenai makna shalat; kaifiyyat shalat; dan hal-hal yang bersangkutan dengan shalat. Yang unik dalam kitab ini Imam an-Nawawi banyak menyodorkan berbagai pendapat ulama, yang selanjutnya beliau pilih sebagai kesimpulan akhir dari beliau. Sehingga dengan sajian tersebut, membuka cakrawala pemikiran santri bahwa dalam hal fiqih, ikhtilaf itu keniscayaan. Keseragaman tidak bisa dipaksakan karena ikhtilaf merupakan bagian dari khazanah fiqih. Oleh karena itu, cara terbaik dalam menyikapi ikhtilaf para ulama dalam sesuatu yang bersifat khilafiyah ialah dengan cara menghargai, tanpa merendahkan satu sama lain. Itulah pribadi Muslim yang bijak.

Sedangkan kitab Fathul-Bari’ para santri saat ini tengah mengkaji Kitab Fadha’ilu l-Qur’an. Di dalamnya mencakup mengenai proses turunya wahyu kepada Nabi Muhammad saw. Disinggung pula mengenai keajaiban dan mukjizat wahyu yang amat luar biasa. Mengingat santri di Pesantren Persis 27 ini semuanya penghafal al-Qur’an, maka dengan adanya kajian mengenai keajaiban al-Qur’an diharapkan dapat meningkatkan ghirah dalam rasa cinta terhadap al-Qur’an dan menghafalkannya.

Pengajaran yang ditekankan dalam kegiatan Bahtsul-Kutub ini kurang lebih mencakup tiga hal. Pertama, melalui kegiatan ini santri diharapkan mampu membaca dan menerjemahkan ‘Arab gundul’ dengan baik dan benar. Kemampuan tersebut penting dimiliki sebagai bekal untuk menyelami samudera warisan keilmuan para ulama dahulu. Karena karya-karya para ulama dahulu itu sarat akan hikmah dan pelajaran yang amat berharga. Rugilah seseorang, terutama santri, bila tidak memilki kemampuan tersebut.

Kedua, sebagai pendalaman pemahaman santri. Adanya Bahtsul-Kutub ini sebagai upaya pihak pesantren mengembangkan pemahaman santri dalam hal fiqih, pemikiran, dan adab. Santri, di bawah bimbingan para asatidz, dibentuk framework atau pola pikirnya agar sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Maka dengan itu, santri dapat menyikapi berbagai hal dengan cara yang Islami, yakni menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai asas berpikir. Dengan itu santri akan terhindar dari berbagai paham yang sesat. Mengingat kini banyak yang sarungan tapi liberal, memakai hijab namun aktivis feminis. Na’udzu bil-Lahi min dzalik.

Ketiga, sebagai upaya mengenalkan santri pada khazanah keilmuan Islam yang amat luas. Hal ini tentu penting, sebagaimana dikatakan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam bukunya, Misykat; Refleksi Tentang Liberalisasi, Westernisasi, dan Islam, beliau menjelaskan bahwa ketidaktahuan generasi muda terhadap karya-karya para ulama menghasilkan rasa inferioritas (rendah diri) yang tinggi terhadap peradaban Barat. Karena hal itu akan menghasilkan anggapan pada mereka bahwa budaya keilmuan Islam itu rendah, tidak memiliki karya-karya monumental seperti misal Nietschze, Descartes, Immanuel Kant, dan lain-lain. Namun nyatanya tidak seperti itu. Islam banyak melahirkan para ulama yang amat piawai dalam berbagi bidang keilmuan, misal al-Ghazali, asy-Syafi’i, Ibnu Khaldun, Ibnu Taimiyyah dan filsuf Muslim yang masih hidup sampai hari ini, yakni Syed Muhammad Naquib al-Attas. Maka dengan pengenalan ini diharapkan timbul dalam diri santri rasa kagum dan percaya diri terhadap peradaban agamanya sendiri yang gemilang, terutama dalam keilmuannya. Yang nantinya melahirkan para penerus ulama dalam mengemban amanah sebagai pewaris Nabi.

Pihak pesantren mengusung program ini tentunya atas dasar kesadaran dari perintah Nabi saw. yang menyebutkan kewajiban menuntut ilmu bagi setiap Muslim. Tak lupa ber-uswah pada para ulama terdahulu yang amat semangat dalam menghidupkan budaya ilmu demi lahirnya generasi dan peradaban yang berbudi dan adabi. Wal-Lahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *