Tetap Jam’ian Jangan Tafarruq - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Tetap Jam’ian Jangan Tafarruq

3 weeks ago
992

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)

Perintah “berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah”, dijelaskan oleh Ibn Katsir, maknanya bisa dua: Pertama, tali Allah dalam pengertian “perjanjian Allah” sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ali ‘Imran [3] : 112. Kedua, tali Allah dalam pengertian al-Qur`an. Berdasarkan hadits-hadits yang shahih, Nabi saw menegaskan bahwa al-Qur`an adalah tali Allah yang kuat yang dibentangkan langsung dari langit ke bumi. Maka perintah berpegang teguh pada tali Allah artinya memegang teguh perjanjian Allah untuk selalu beribadah hanya kepada-Nya (QS. al-A’raf [7] : 172). Demikian juga memegang teguh perjanjian Allah swt yang terkandung dalam al-Qur`an berupa syari’at-syari’at Allah yang dijelaskan kemudian dalam sunnah.

Perintah berpegang teguh pada “tali” Allah itu tidak cukup sampai berpegang teguh saja, melainkan juga dituntut untuk jami’an; bersatu dan tidak tafarruq; berpecah belah. Dalam hal ini, sebagaimana al-Hafizh Ibn Katsir jelaskan, maka banyak disabdakan oleh Nabi saw dalam hadits kewajiban untuk setia pada al-jama’ah dan menjauhi tafriqah (perpecahbelahan).

Maka al-Qur`an, Sunnah, dan jama’ah adalah satu kesatuan. Siapa yang memegang teguh al-Qur`an dan Sunnah sudah pasti akan berjama’ah dengan sesama yang berpegang teguh dengan al-Qur`an dan Sunnah. Memisahkan diri dari jama’ah yang berpegang teguh dengan al-Qur`an dan Sunnah berarti akan terjebak dalam paham bid’ah dan tidak akan pernah berujung. Selalu akan muncul lagi bid’ah baru, bid’ah baru lagi, dan terus demikian, sehingga selalu memunculkan aliran baru lagi dan baru lagi. Maka Ahlul-Bid’ah pasti tafarruq, sementara Ahlus-Sunnah pasti jama’ah.

Kesatuan ajaran al-Qur`an, Sunnah, dan jama’ah ini kemudian memunculkan istilah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah untuk membedakannya dengan Ahlul-Bid’ah wal-Furqah. Istilah ini sudah dikemukakan oleh Ibn ‘Abbas ra ketika menafsirkan QS. Ali ‘Imran [3] : 106. Digunakannya istilah Ahlus-Sunnah dan bukan Ahlul-Qur`an, karena ahli bid’ah di sepanjang zamannya selalu menggunakan al-Qur`an untuk mengukuhkan paham bid’ahnya. Yang membedakan mereka dengan kaum muslimin pada umumnya adalah dalam hal memahami al-Qur`an yang tidak sesuai sunnah, maka dari itu mereka disebut Ahlul-Bid’ah, sementara umat Islam diidentifikasi sebagai Ahlus-Sunnah.

Jadi mengaku sebagai pemegang teguh al-Qur`an saja belum cukup. Harus dibuktikan lebih lanjut apakah mengikuti Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah ataukah tidak? Sebab itulah yang dimaksud tuntutan Allah swt untuk memegang teguh tali Allah dengan jami’an dan tidak tafarruq. Bukan hanya memegang teguh al-Qur`annya saja, tetapi juga harus Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Contoh Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *