Status Hadits Rabighfirli Amin - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Status Hadits Rabighfirli Amin

3 weeks ago
1042

Terdapat hadits yang menerangkan tentang tambahan kalimat “Rabighfirli Amin setelah membaca al-Fatihah dalam shalat. Berikut redaksi haditsnya:

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالَ: ” {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] قَالَ: «رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ»

Dari Wa`il bin Hujr bahwasanya dia mendengar Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam ketika membaca ghairil-maghdubi ‘alaihim wa lad-dhalin beliau membaca Rabighfirli Amin.

TAKHRIJ HADITS

Hadits di atas diriwayatkan di dalam kitab Mu’jam al-Kabir ath-Thabarani no. 107; Sunan al-Baihaqi no. 2281; dan Ibnu al-Bakhtari no. 379.

ANALISIS SANAD

Dari struktur sanadnya, hadis ini tafarrud (menyendiri) bersumber dari Ahmad bin Abdil Jabbar al-‘Uthaaridi yang ia terima dari Ayahnya (Abdul Jabbar bin Muhammad bin Umair al-‘Utharidi, yang kemudian masyhur dengan nama Abdul Jabbar bin Umar al-‘Utharidi).

Abdul Jabbar bin Umar al-‘Utharidi ialah rawi yang statusnya majhul hal. Ia rawi tingkatan (thabaqah) ke-9. Imam al-‘Uqaili mengatakan bahwa pada haditsnya terdapat banyak kesalahan. Imam Musalamah bin al-Qasim menilainya sebagai rawi yang dha’if. Meski demikian, Ibnu Hibban mengkatagorikannya sebagai rawi yang tsiqat.

Sedangkan Ahmad bin Abdil Jabbar al-‘Uthairidi, rawi thabaqah ke-11, dinilai kadzdzab (pendusta) oleh Muhtin al-Hadrami. Abu Hatim menilai haditsnya tidak kuat. Rawi asal Kuffah ini bahkan didhaifkan oleh ulama yang sedaerah dengannya, yaitu Abdul Abbas bin Aqdah.

Demikian dengan Ibn Hajar al-Asqalani, ia menyimpulkan bahwa Ahmad bin Abdil Jabbar adalah rawi yang dha’if. Akan tetapi terkait hadits-hadits shirah yang ia riwayatkan maka dipandang shahih. (Tahdzibul-Kamal bab Ahmad bin ‘Abdil Jabbar al-‘Utharidi)

Dari pemaparan di atas, maka sampai pada kesimpulan bahwa hadits ini tafarrud-munkar. Bahkan tidak ada satupun ulama ahli nuqad (pengkritik hadits) yang menjadikan hadits ini sebagai hujjah.

Selain itu, hadits ini juga bertentangan dengan hadits shahih yang hanya menyebutkan “amin” dengan tanpa tambahan “rabighfirli”. Berikut riwayat-riwayat yang dimaksud:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِذَا قَالَ الإِمَامُ: {غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] فَقُولُوا: آمِينَ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila imam membaca ghairil-maghdubi ‘alaihim wa lad-dhalin, maka katakanlah “amin”. Barangsiapa bacaan aminnya itu bersamaan dengan bacaan para malaikat, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang lalu. (Shahih al-Bukhari bab Jahril-Ma’mum bit-Ta’mim no. 782)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا يَقُولُ: ” لَا تُبَادِرُوا الْإِمَامَ إِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا قَالَ: وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا: آمِينَ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولُوا: اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ “

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Adalah Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kami.” Nabi bersabda, “Janganlah kalian mendahului imam. Apabila imam takbir, maka bertakbirlah kalian. Apabila imam membaca “wa ladh-dhalin”, maka katakana “amin”. Apabila imam rukuk, maka rukuklah kalian. Apabila imam berkata “sami’a-Llahu liman hamidah”, maka katakanlah “allahumma rabbana lakal-hamdu”. (Shahih Musilim bab an-Nahyu ‘an Mubadarah al-Imam bit-Takbir no. 959)

WaLlahu A’lam

POHON SANAD

Contoh Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *