Ketika Bintang-bintang Terbenam - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Ketika Bintang-bintang Terbenam

4 months ago
781

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَسَبِّحۡهُ وَإِدۡبَٰرَ ٱلنُّجُومِ

Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar) (QS. At-Thur [52] : 49).

Ayat ini jika dibaca dari ayat 48 merupakan pengamalan nyata dari titah Allah swt: Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. al-Baqarah [2] : 45. Ayat semakna ada dalam ayat 153). Maksudnya ketika seseorang butuh pertolongan dari Allah swt maka pertolongan itu bisa didapatkan dengan sabar dan shalat. Sabar akan menguatkan jiwa akan adanya pertolongan Allah swt dan dengan sendirinya pasti mendatangkan pertolongan dari Allah, sebab Allah swt akan memberi sesuai prasangka hamba-hamba-Nya; sementara shalat akan menguatkan kesabaran itu sendiri. Ayat 48 dari surat at-Thur di atas memerintahkan sabar dengan keputusan Allah swt dan selalu yakin dengan pertolongan Allah swt karena Allah swt tidak pernah lalai dari hamba-Nya, kemudian memerintahkan shalat dan tasbih (di antara makna tasbih adalah shalat sunat) pada waktu malam sampai bintang-bintang terbenam. Jadi perintah shalat dalam ayat-ayat yang memerintahkan sabar dan shalat amal nyatanya adalah shalat malam dan di saat bintang-bintang terbenam.

Jamise Syar'i

Paket perintah sabar dan shalat malam banyak ditemukan dalam al-Qur`an selain surat at-Thur di atas, di antaranya: QS. Hud [11] : 112-115, Al-Isra` [17] : 76-82, Thaha [20] : 130, al-Muzzammil [73] : 1-10, Qaf [50] : 39-40, dan al-Insan [76] : 24-26. Pentingnya syari’at ini dalam kehidupan seseorang menjadikan Allah swt dengan tegas menyatakan: Bukankah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.” (QS. al-Fajr [89] : 5). Maksudnya hanya orang-orang berakal saja yang dapat menyadari pentingnya waktu malam hingga fajar untuk dijadikan ajang ibadah, shalat, tasbih, dan do’a.

Pada waktu inilah Allah turun ke langit terendah (dari tujuh langit) setiap malam ketika berlalu sepertiga malam pertama, lalu Dia berkata: “Akulah Raja, Akulah Raja. Adakah orang yang ingin berdo’a kepada-Ku, lalu Aku pasti mengabulkannya? Adakah orang yang ingin meminta kepada-Ku lalu Aku pasti memberinya? Dan adakah orang yang ingin beristighfar kepada-Ku, lalu Aku pasti mengampuninya?” Demikianlah hal itu berlangsung sampai terbit fajar (Shahih Muslim bab at-targhib fid-du’a wadz-dzikri fi akhiril-lail wal-ijabah fih no. 1809). Maka sungguh bodoh sekali orang yang mengabaikan seruan Allah swt di setiap malam ini.

Secara khusus ayat di atas juga menekankan pentingnya waktu fajar. QS. Al-Isra` [17] : 78 menyebutkannya disaksikan secara khusus oleh malaikat. Itulah mengapa waktu ini sampai disumpahi khusus oleh Allah swt dalam surat al-Fajr. Ayat di atas memberitahukan bahwa waktu fajar itu datang ketika bintang-bintang tenggelam atau redup. Ketika cahaya malam gelap dan hanya tersisa cahaya kecil memanjang dari fajar itu sendiri. Inilah waktu fajar yang disaksikan malaikat, bukan fajar yang sudah terang. Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *