Komitmen Penuh Menghidupkan Sunnah - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Komitmen Penuh Menghidupkan Sunnah

2 months ago
777

Sabda Nabi saw sudah sangat terang benderang: “Siapa yang membenci sunnahku maka ia bukan dari golonganku.” Para ulama kemudian menjelaskan bahwa ukurannya adalah dalam komitmen menghidupkan sunnah. Jika sekali dua kali tidak mengamalkan sunnah maka tidak jadi soal sebab memang kedudukan amalnya sebatas mandub (sunat), tidak sampai wajib. Tetapi jika berulang kali tidak mengamalkan, bahkan tidak pernah mengamalkannya sama sekali, maka ini pertanda yang jelas tidak ada komitmen untuk menghidupkan sunnah. Ketidakinginan menghidupkan sunnah menunjukkan ketidaksukaan terhadap sunnah. Hal seperti ini yang diancam Nabi saw sebagai “bukan dari golonganku; bukan dari umatku”. Maka dari itu, sekali dua kali tidak mengamalkan sunnah tidak akan disiksa. Tetapi jika berulang kali tidak mengamalkan, bahkan tidak pernah mengamalkannya sama sekali, maka statusnya sudah dosa, karena sudah membenci sunnah Nabi saw.

Jamise Syar'i

Ada banyak sunnah yang diabaikan oleh umat Islam hari ini atau mungkin sengaja dimatikan yang terkait bulan Ramadlan. Tarawih yang panjang bacaannya minimal satu juz dalam satu kali shalat malam; tadarus yang dilaksanakan minimal berdua seperti halnya Nabi saw dan Jibril as untuk mengevaluasi bacaan sekaligus hafalan al-Qur`an; dan i’tikaf di 10 hari-malam terakhir Ramadlan atau minimalnya ihya`ul-lail (menghidupkan malam dengan tidak tidur) di 10 malam terakhir Ramadlan atau malam-malam ganjilnya.

Modus ketidaksukaan terhadap sunnah-sunnah di atas sebagian besarnya karena ketiadaan ilmu ditambah nafsu dunia yang terlalu tinggi. Tarawih satu juz mengeluh capek, sementara belanja berjam-jam berdiri dan berjalan, capeknya tidak disertai mengeluh. Tadarus di setiap malam ditinggalkan karena mengeluh lelah dan mengantuk, sementara mengobrol, menonton TV, atau bermain gadget berjam-jam selepas isya tidak ada keluhan lelah atau mengantuk. Padahal yang terakhir ini menyegarkan jiwa, sementara yang pertama melelahkan jiwa. Demikian halnya memasuki babak final Ramadlan yang seharusnya semakin giat ibadah, malah semakin jaga jarak dari masjid. Itu semua karena nafsu dunia yang terlampau tinggi dan ilmu yang dimiliki sangat minim.

Sebagian lainnya ada yang beralasan karena tidak mampu. Untuk yang ini tentunya ada toleransi karena Allah tidak membebani setiap jiwa melainkan seukuran kemampuan maksimalnya. Hanya satu yang disayangkannya, golongan yang mengaku tidak mampu ini sering melontarkan dalih-dalih pembelaan yang tidak perlu sehingga mendudukkan sunnah sebagai amalan yang tidak penting. Masyarakat pun bukannya dimotivasi untuk beramal yang lebih baik daripada dirinya, melainkan cenderung diajak untuk sama-sama menjadi golongan tidak mampu dan meninggalkan sunnah. Jika seperti ini adanya sulit untuk tidak mengatakan golongan yang tidak mampu sebenarnya golongan para pembenci sunnah juga. Komitmen penuh dari mereka untuk menghidupkan sunnah tidak terlihat sama sekali.

Maka sangat mendesak untuk dilahirkan satu generasi baru yang bisa memutus mata rantai kaderisasi para pembenci sunnah Nabi saw. Semoga Allah swt menaqdirkan kita semua untuk mampu melahirkan generasi baru yang lebih baik daripada kita. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *