Adab Minum - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Adab Minum

2 months ago
922

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا، فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ» رواه مسلم

Rasulullah saw bersabda: Janganlah salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Maka barang siapa yang lupa, maka hendaklah ia memuntahkannya.” (HR. Muslim no. 2.026 dari sahabat Abu Hurairah)

Air minum adalah kebutuan pokok bagi mahluk hidup di dunia ini. Manusia, hewan, dan tumbuhan sangat perlu mengkonsumsi air. Jika tidak minum maka akan mengakibatkan kematian. Kekurangan minum saja bisa dehidrasi, sehingga mengakibatkan berbagai gangguan dalam tubuh.

Jamise Syar'i

Islam sebagai ajaran yang sempurna, sangat memperhatikan adab-adab dalam kehidupan seorang muslim, termasuk adab minum. Maka sebagai muslim, sudah semestinya memperhatikan adab-adab minum. Berikut adalah di antara adab-adab minum:

Mengkonsumsi Minuman Halal dan Thayyib

Adab yang pertama kali yang harus perhatikan, adalah pastikan minuman itu halal dan dan thayyib. Firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلالا طَيِّبًا وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ  

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah ayat 168)

فَلْيَنْظُرِ الإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (‘Abasa ayat 24)

Menurut Ahmad Syakir dalam ‘Umdatut Tafsirnya mengatakan bahwa makanan dan minuman yang halal dan thayyib itu adalah makanan dan minuman yang menyehatkan jiwa dan badannya, serta tidak membahayakan badan dan akalnya. (‘Umdatut Tafsir jilid 1, hal. 206)

Bagi seorang muslim, memilah-milah minuman yang baik bagi tubuh itu harus dilakukan. Tidak boleh minum-minuman sembarangan dan  merusak tubuh. Tidak hanya halal, tapi juga harus thayyib bagi tubuh, agar tubuh sehat dan manjadikan perilaku seseorang pun menjadi baik, karena yang masuk ke dalam tubuh itu dari makanan minuman yang halal.

Sebaliknya jika minum-minuman yang haram baik itu secara dzatnya atau cara mendapatkannya, maka akan berakibat buruk bagi tubuh, dan mengakibatkan perilaku seseorang itu menjadi buruk perilakunya, karena yang masuk ke dalam tubuh itu  berasal dari hal-hal  yang haram. Naudzubillah min dzalik.

Minum sambil duduk

Ketika minum, maka seorang muslim harus sambil duduk. Tidak boleh sambil berdiri, kecuali karena ada hajat/udzur syar’i. Minum sambil berdiri ini dilarang oleh Rasulullah saw.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا، فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ» رواه مسلم

Rasulullah saw bersabda: Janganlah salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri, maka barang siapa yang lupa, maka hendaklah ia memuntahkannya.” (HR. Muslim no. 2.026 dari sahabat Abu Hurairah)

Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam dalam kitab Taudhihul Ahkamnya mengatakan, bahwa hadits di atas terdapat larangan minum sambil berdiri. Sedangkan dalam kaidah ushul fiqih, asal dalam larangan itu menujukan kepada haram. Maka pendapat yang jelas adalah haram hukumnya minum sambil berdiri. Adapun pendapat jumhur (mayoritas) ulama ada perbedaan pandangan dalam hal tersebut. Artinya tidak haram hukumnya minum sambil berdiri, karena ada hadis berikut ini:

 أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا حَدَّثَهُ قَالَ: «سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ، فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ»  رواه البخاري

“Bahwasanya Ibnu Abbas r.a berkata: Saya memberi minum Rasulullah saw dari air zamzam, maka beliau meminumnya sambil berdiri.” (H. R. Bukhari, nomor 1.637)

عَنْ عَبْدِ المَلِكِ بْنِ مَيْسَرَةَ، عَنِ النَّزَّالِ، قَالَ: أَتَى عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى بَابِ الرَّحَبَةِ «فَشَرِبَ قَائِمًا» فَقَالَ: إِنَّ نَاسًا يَكْرَهُ أَحَدُهُمْ أَنْ يَشْرَبَ وَهُوَ قَائِمٌ، وَإِنِّي «رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ كَمَا رَأَيْتُمُونِي فَعَلْتُ» رواه البخاري

“Dari Abdul Malik bin Maisarah, dari Nazzal, ia berkata: Sahabat Ali r.a berada di pintu rumah, maka ia minum sambul berdiri, kamudian dia berkata: “Sesungguhnya orang-orang ada yang membenci minum sambil berdiri, dan sesungguhnya aku, telah melihat Nabi Muhammad saw minum sambil berdiri, seperti yang aku lakukan ini.” (HR. Bukhari no. 5.615)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَمْشِي، وَنَشْرَبُ وَنَحْنُ قِيَامٌ. رواه الترمذي. هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Dari Ibnu Umar semoga Allah meridoi kepada mereka berdua ia bekata: Kami dahulu makan pada zaman Rasulullah saw sambil berjalan, dan kami minum sambil berdiri.” (HR. Tirmidzi no. 1.883 hadis ini hasan shahih).

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْرَبُ قَائِمًا وَقَاعِدًا. رواه الترمذي. هذا حديث حسن

“Dari Amr bin Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya, r.a mereka ia berkata: Saya melihat Rasulullah saw minum sambil berdiri dan sambil duduk.” (HR. Tirmidzi no. 1.883 hadis ini hasan).

Berdasarkan hadis di atas, larangan minum sambil berdiri itu tidak termasuk kepada haram. Dalam kitab Adab Syar’iyyah disebutkan bahwa minum sambil berdiri itu menunjukan boleh, tidak termasuk haram. Larangan minum sambil berdiri itu menunjukan makruh/dibenci.

Sebagian kelompok mengatakan, tidak ada pertentangan hadis-hadis itu pada asalnya. Boleh minum sambil berdiri karena dharurat, tempatnya tidak memungkinkah untuk diduduki.

Begitu juga menurut pandangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, bahwa larangan minum sambil berdiri itu tidak sampai kepada haram, hanya makruh saja hukumnya. Dan Nabi Muhammad saw minum air zamzam sambil berdiri, karena tempat itu bukan tempat duduk. (Taudhihul Ahkam, jilid 7, hal. 307-308)

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari mengatakan bahwa hadits yang menerangkan Nabi Muhammad saw minum sambil berdiri, ada tambahan: “‘Ashim berkata: “Bahwa ‘Ikrimah bersumpah bahwa Nabi Muhammad saw pada waktu itu tidak demikian, tetapi minumnya di atas untanya karena beliau sedang beribadah haji, thawaf sambil naik unta”.

Ibnu Majah berpandangan tentang hal ini, bahwa ‘Ikrimah bersumpah atas nama Allah, bahwa Nabi Muhammad saw tidak minum sambil berdiri, karena beliau pada waktu itu sedang naik unta. Dan ini menunjukan bahwa ‘Ikrimah mengingkari Nabi saw minum sambil berdiri. Akan tetapi, ada hadits lain yang diterima ‘Ali bin Abi Thalib riwayat imam Bukhari: “Bahwasanya Nabi Muhammad saw minum sambil berdiri.” Berdasarkan hal ini, maka Ibnu Hajar membolehkan minum sambil berdiri (karena ada udzur syar’i/dharurat). (Fathul Bari, Juz III, hal. 559)

Membaca Basmalah dan Minum dengan Tangan Kanan

Membaca basmalah dan menggunakan tangan kanan ketika minum merupakan adab yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

عن عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ رضي الله عنه، يَقُولُ: كُنْتُ غُلاَمًا فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ» رواه البخاري

“Dari ‘Umar bin Abi Salamah r.a ia berkata: Ketika aku masih kecil, aku berada di bawah asuhan Rasulullah saw, lalu tanganku berseliweran di nampan saat makan, maka Rasulullah saw berkata kepadaku: Wahai anak kecil, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang berada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5.376)

عن عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَرضي الله عنهما، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ، وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ» رواه مسلم

“Dari Abdullah bin Umar r.a, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya, dan apabila salah seorang di antara kalian minum, maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena sesungguhnya setan suka makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim no. 2.020)

Tidak Bernafas dalam Gelas

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ، وَإِذَا أَتَى الخَلاَءَ فَلاَ يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ، وَلاَ يَتَمَسَّحْ بِيَمِينِهِ» رواه البخاري

“Dari Abdullah bin Abi Qatadah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian minum, maka janganlah bernafas dalam tempat air minum, dan apabila kalian pergi ke WC maka jangan menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan, dan jangan pula membersihkannya dengan tangan kanan.” (HR. Bukhari no. 153)

Berdoa setelah minum

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَفَانَا وَأَرْوَانَا غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مَكْفُورٍ

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kecukupan kepada kami dan menghilangkan rasa haus. Bukan nikmat yang tidak dianggap atau dikufuri.” (H.R. Bukhari, nomor 5.459)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *