Kabar Angin Poros Partai Islam - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Kabar Angin Poros Partai Islam

2 months ago
933

Wacana ini berawal dari pertemuan Presiden PKS Ahmad Syaikhu dan Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa, Rabu (14/4) malam. Keduanya tidak menampik untuk sama-sama membuka peluang berkoalisi. Bak bola salju wacana ini terus bergulir di kalangan elit sampai hari ini. Banyak yang menantikan, meskipun tidak sedikit pula yang menyangsikan. Bagi masyarakat, apapun nama politiknya, yang dibutuhkan bukan wacana, tapi realisasi nyata. Apalagi sebatas nostalgia dan utopia semata.

Angin Segar atau Angin Lalu?

Jamise Syar'i

Sikap partai politik di Parlemen Senayan beragam, seperti dilansir cnnindonesia.com, dalam menanggapi rencana pembentukan koalisi poros partai Islam untuk menghadapi Pilpres 2024. Rencana ini awalnya mencuat dalam pertemuan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada Rabu (14/4).

Sekretaris Jenderal DPP PKS, Aboe Bakar Al-Habsyi, menyatakan penyelenggaraan Pilpres 2024 masih lama. Menurutnya, kemungkinan penjajakan untuk membentuk poros partai Islam di Pilpres 2024 masih terbuka.

“Penjajakan-penjajakan ini masih ada 2,5 tahun atau 3 tahun, eh 2,5 tahun. Sangat memungkinkan [bentuk poros partai Islam],” kata Aboe dalam konferensi pers di Kantor DPP PKS, Jakarta Selatan pada Rabu (14/4).

Dalam kesempatan yang sama Sekjen DPP PPP Arwani Thomafi pun mengungkap soal kemungkinan membentuk poros partai Islam bersama PKS. PPP, kata dia, terbuka untuk berbicara dengan PKS tentang sistem kepemiluan agar Pemilu 2024 lebih dinikmati semua pihak.

“Masyarakat dan parpol dan semua pihak. Saya kira tentu kita terbuka untuk bicara dalam berbagai sisi untuk menuju tatanan 2024 lebih baik,” kata dia.

Merespons hal itu, Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid membuka kemungkinan pihaknya mendukung wacana tersebut. Jazilul mengatakan rencana tersebut harus digagas serius dan punya arah yang jelas untuk masyarakat luas.

“Terbuka kemungkinan untuk mendukung dan bergabung bila wacana ini digagas dengan serius dan memiliki arah dan format yang jelas bagi perubahan masa depan Indonesia,” kata Jazilul.

Selain itu, Jazilul menilai wacana tersebut bisa membangun poros kekuatan demokrasi baru di Indonesia. Salah satunya dengan menawarkan ide dan pelbagai program keumatan yang lebih baru. “Tentunya tidak berhenti pada wacana yang mengawang-awang,” ujarnya (cnnindonesia.com).

Wacana koalisi poros partai Islam untuk Pemilu 2024 menguat. Pembentukan koalisi dinilai akan sangat kuat namun ada beberapa catatan.

“Kalau ini solid bisa menghasilkan pemimpin yang memang disukai oleh umat Islam, ini akan menjadi poros yang sangat kuat sekali. Besar kemungkinan poros ini bisa menjadi saingan dari poros capres yang dari partai nasionalis,” kata pengamat politik Hendri Satrio kepada wartawan, Jumat (16/4/2021).

Hensat mengatakan akan lebih kuat lagi jika partai lain yang berporos Islam ikut gabung, termasuk PAN. Diketahui, PAN sudah bersikap untuk tidak ikut dalam poros partai Islam ini.

“Akan makin mantap PAN dan ummat bersatu di poros Islam ini, sehingga benar-benar solid dari pemilih yang memilih partai Islam,” ujarnya.

Hensat menjelaskan koalisi partai Islam di Pemilu 2024 merupakan ide bagus. Hanya saja pembentukan koalisi itu harus betul-betul mementingkan kemaslahatan umat, tidak mementingkan ego masing-masing partai.

“Poros Islam ini ide bagus, ada dua keuntungannya, pertama adalah mensolidkan peran politik umat Islam, kemudian yang kedua memang perlu saat ini ada poros baru yang memang bisa menjadi think thank pemerintah dalam melaksanakan pembangunan,” ujarnya.

“Tapi sebaiknya tujuan pembentukan poros Islam di 2024 bukan hanya kepentingan untuk bergaining position politik, jangan sampai digunakan untuk tarik menarik threshold, tapi tujuannya adalah lebih kepada kepentingan bangsa dan negara dan kepentingan umat Islam juga. Kenapa demikian, nanti kalau kepentingan tarik menarik threshold mudah untuk dipecah, tapi kalau kepentingannya lebih jelas untuk bangsa dan negara untuk Islam, maka dukungan dari masyarakat akan kuat,” lanjut Hensat.

Hensat mengatakan partai Islam ini harus bekerja bersama tanpa perlu memikirkan siapa yang memimpin koalisi.

“Jangan kemudian ada polemik tentang siapa yang memimpin poros ini karena menurut saya jadi kuat aja seperti partai bersama, seperti zaman Pak SBY dulu yang benar-benar solid dan kompak, tidak ada keretakan di awal yang membuat poros ini layu sebelum berkembang,” tuturnya (detik.com).

Angin Ribut

Awalnya kritik soal poros partai Islam datang dari PAN. Ketua Umum (Ketum) PAN Zulkifli Hasan menilai wacana poros partai Islam bertentangan dengan upaya rekonsiliasi nasional.

“Dalam satu-dua hari ini, saya menyimak munculnya wacana pembentukan koalisi partai Islam untuk Pemilu 2024. Saya menilai wacana ini justru kontraproduktif dengan upaya kita melakukan rekonsiliasi nasional, memperkuat dan memperkokoh persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa dan negara,” kata Zulkifli dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (15/4/2021).

Politikus yang juga dikenal dengan panggilan Zulhas itu mengatakan politik identitas yang terbangun dalam Pilpres 2019 menimbulkan ketegangan di masyarakat. Zulhas khawatir wacana pembentukan poros Islam justru membangun kembali politik identitas seperti yang terjadi pada Pilpres 2019.

“Masih jelas dalam ingatan kita Pilpres 2019 begitu kuat menggunakan sentimen SARA dan politik aliran, politik identitas. Luka dan trauma yang ditimbulkan oleh ketegangan dan tarik-menarik itu masih terasa. Rakyat masih terbelah, meskipun elite cepat saja bersatu. Buktinya, capres dan cawapres yang menjadi lawan dari pasangan pemenang kini sudah bergabung,” papar Zulhas.

“Menanggapi wacana koalisi partai Islam 2024 itu, PAN melihat justru ini akan memperkuat politik aliran di negara kita. Sesuatu yang harus kita hindari. Semua pihak harus berjuang untuk kebaikan dan kepentingan semua golongan,” imbuhnya.

Kritik terkait poros partai islam juga datang dari Partai Ummat. Partai Ummat mengaku masih bingung terkait rencana dibentuknya poros partai Islam untuk 2024. Partai Ummat beranggapan poros partai Islam terkesan seperti kepanikan partai-partai Islam yang mulai ditinggalkan pendukungnya.

“Ya tentunya saya sebagai bagian dari partai Islam menyambut baik inisiatif itu, tapi ada catatan, catatannya adalah partai Islam yang dimaksud partai Islam yang beroposisi atau partai Islam yang sedang menjadi bagian dari rezim ini. Kalau koalisi partai Islam kemudian dia termasuk bagian dari rezim ini, saya tidak tahu gimana kerja samanya,” kata penggagas Partai Ummat, Agung Mozin, saat dihubungi, Kamis (15/4/2021).

“Koalisinya seperti apa, apakah koalisi yang akan dikooptasi oleh rezim atau koalisi untuk gimana, nggak ngerti saya, sungguh tidak mengerti. Tapi, kalau misalnya dinyatakan kita ingin bangun koalisi partai-partai Islam, oke,” lanjutnya.

Agung menduga koalisi poros partai Islam ini sebetulnya digagas oleh partai yang mulai ditinggalkan pendukungnya. Selain itu, dia menilai koalisi poros partai Islam ini terkesan seperti bentuk kepanikan.

“Saya melihatnya itu kepanikan dari partai-partai Islam yang sudah mulai ditinggalkan pendukungnya, yang kemudian mereka mencoba bermanis-manis seolah-olah membangun koalisi Islam. Jangan sampai artinya koalisi partai Islam digagas suatu partai yang mulai ditinggalkan oleh pendukungnya, jadi partai partai yang sudah tidak mendapat dukungan publik kemudian mereka mencoba untuk menyuarakan seolah-olah menyuarakan suara Islam, padahal nggak juga tuh,” ucapnya.

Lebih lanjut Agung menyinggung koalisi poros partai Islam ini mungkin dibentuk oleh partai yang saat ini memiliki elektabilitas di bawah 1 persen. Dia menyebut partai itu tidak pernah bersuara terkait persoalan yang dihadapi umat Islam.

“Partai-partai yang sudah mulai 0 koma, 0 koma itu kan, mereka itu kan label Islam, tapi ketika ada persoalan Islam mereka tidak pernah bersuara, tidak pernah menyuarakan apa yang menjadi keprihatinan umat Islam, termasuk yang saat ini umat Islam dikriminalisasi dan lain lain, itu mereka nggak, tokoh-tokoh islam ya, mereka diam-diam saja tuh,” ujarnya (detik.com).

Partai Islam di luar parlemen sendiri juga memiliki sikap yang berbeda-beda. Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra mendukung terbentuknya poros tengah yang berisikan koalisi parpol Islam di Pemilu 2024 mendatang.

Hal itu ia katakan untuk merespons bertemunya elite PKS dan PPP yang salah satu hasilnya membuka peluang membentuk koalisi poros partai Islam untuk menghadapi Pilpres 2024.

“Saya menyambut baik pertemuan PKS dan PPP kemarin yang mulai membahas pembentukan poros tengah partai-partai Islam. Pemilu masih tiga tahun lagi. Namun lebih cepat membahas hal di atas akan lebih baik,” kata Yusril.

Yusril menjelaskan bahwa dalam Pemilu 2019 lalu ada tiga partai Islam yang ikut serta yakni PKS, PPP dan PBB. Ia menyarankan agar PKS dan PPP yang mulai mengambil inisiatif untuk membentuk poros tengah partai-partai Islam karena punya wakil di DPR saat ini.

“PBB akan ikut aktif dalam pertemuan-pertemuan lanjutan yang nanti akan diadakan,” kata dia.

Menilik ke belakang, Yusril mengakui bahwa gagasan untuk menyatukan partai-partai berhaluan Islam memang tidak mudah. Sebab, partai seringkali terpecah karena perbedaan kepentingan politik praktis di lapangan, bukan soal ideologi atau prinsip perjuangan.

Melihat hal itu, Yusril mengusulkan untuk menyatukan partai-partai Islam dimulai dengan pembentukan koalisi partai sejak saat ini. Koalisi itu, kata dia, harus mendapat legitimasi undang-undang baik lewat UU Parpol maupun UU Pemilu.

Partai Gelombang Rakyat (Gelora) dan Partai Ummat mengkritik wacana PKS dan PPP untuk membentuk koalisi partai politik berhaluan Islam dalam menghadapi Pemilu 2024.

Sekretaris Jenderal Partai Gelora, Mahfudz Siddiq mengatakan pembentukan koalisi partai Islam hanya sebatas untuk pemilihan presiden terlalu pragmatis.

“Tapi kalau koalisi sebatas untuk Pilpres jadi terlalu pragmatis,” kata Mahfudz.

Senada, inisiator Partai Ummat Agung Mozin tak memahami wacana koalisi partai-partai Islam di Pemilu 2024 mendatang. Menurutnya, gagasan ini merupakan kepanikan PPP yang mulai ditinggalkan oleh pendukungnya.

“Saya ingin mengingatkan saja kepada pemilih ummat Islam agar jeli membedakan mana loyang mana yang emas pada pemilu 2024 nanti,” kata Agung (cnnindonesia).

Angin-anginan?

Ijtihad politik dengan mengusung poros Islam di Indonesia ini sudah pernah dilakukan berulang kali di masa silam. Meskipun beberapa tahun belakangan, tepatnya sebelum pilpres 2019, wacana ini pernah menyeruak namun tenggelam entah ke mana. Tapi efek dari politik aliran, atau identitas, ini sangat kental dan terasa pada tensi pesta demokrasi yang lalu.

Cita-cita menanamkan nilai-nilai Islami dalam perpolitikan tentu harus diapresiasi sebagai usaha dalam merealisasikan amar ma’ruf dan nahyi munkar yang diperintahkan agama. Namun, tentu saja upaya mewujudkan hal tersebut memerlukan kerja etis-kompromistis, bukan pragmatis-oportunistis. Artinya, politik yang diusung memang benar-benar berbasis ide dan gagasan, bukan sebatas untung-untungan apalagi angin-anginan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *