Penista Agama Gila - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Penista Agama Gila

2 months ago
973

Agnostik, ignoran, dan sakit jiwa diduga diderita seorang youtuber dengan akun Joseph Paul Zhang, yang belakangan diketahui bernama Shindy Paul Soerjomoelyono,  merasa dirinya kebal hukum karena mengaku sudah tidak berstatus WNI (Warga Negara Indonesia) lagi dengan nada menyerang dan menantang telah terang-terangan menista Islam. Berbagai reaksi muncul atas provokasi yang dilakukan oleh orang “bersumbu pendek” ini. Setelah ditetapkan tersangka dan DPO (daftar pencarian orang) oleh Bareskrim Polri, Paul makin menggila, mungkin dengan makna sebenarnya.

Sosok Jozeph Paul Zhang menjadi perhatian masyarakat setelah viral tantang warga melaporkan dirinya ke polisi karena mengakui sebagai nabi ke-26 melalui forum diskusi via Zoom yang juga ditayangkan di akun YouTube pribadinya. Ia pun mendapat kecaman karena diduga menistakan agama.

Jamise Syar'i

Atas aksinya itu, Jozeph dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh Husin Shahab, Sabtu (17/4). Laporan itu teregister LP/B/0253/IV/2021/BARESKRIM tertanggal 17 April 2021. Diketahui Jozeph Paul Zhang hanyalah nama akun Youtube dan bukanlah nama sebenarnya pria yang mengaku sebagai nabi dan menghina agama Islam tersebut. Diketahui nama aslinya adalah Shindy Paul Soerjomoelyono.

“Sesuai data perlintasan, namanya Shindy Paul Soerjomoelyono,” kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Slamet Uliandi, Senin (19/4/2021).

Jozeph Paul Zhang menantang warga untuk melaporkannya ke polisi karena mengaku sebagai nabi ke-26. Jozeph Paul Zhang membuat pernyataan tersebut dalam sebuah forum diskusi via Zoom yang juga ditayangkan di akun YouTube pribadinya.

Jozeph Paul Zhang membuka forum Zoom bertajuk ‘Puasa Lalim Islam’ dengan menyapa peserta yang ada di beberapa belahan dunia. Beberapa peserta kemudian ikut berkomentar soal puasa. Hingga kemudian Jozeph Paul Zhang mengaku merasa tidak nyaman dengan adanya bulan puasa, Ia bahkan menyebut suasana menjelang Idul Fitri sebagai sesuatu yang mengerikan.

Seperti dikutip Antara, Minggu (18/4/2021), Bareskrim Polri berkoordinasi dengan Interpol untuk memburu keberadaan Jozeph Paul Zhang. Hal itu agar Jozeph Paul Zhang bisa dideportasi dari negara tempat dia berada.

“Mekanisme kerja sama kepolisian luar negeri bisa berjalan, mau nggak negara tempat yang bersangkutan tinggal mendeportasi yang bersangkutan. DPO nanti akan diterbitkan,” kata Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto.

Bareskrim Polri bekerja sama dengan kepolisian luar negeri dan membuat daftar pencarian orang (DPO) terhadap Jozeph Paul Zhang. Agus menjelaskan, penyidik Bareskrim bisa menindak dengan membuat laporan temuan terkait dengan konten intoleran tersebut. Menurut Agus, konten intoleran yang menimbulkan konflik sosial dan keresahan masyarakat bisa merusak persatuan dan kesatuan.

“Kalau yang seperti itu kan bisa dibuat laporan temuan penyidik atas konten intoleran, menimbulkan konflik sosial dan keresahan masyarakat, merusak persatuan dan kesatuan, sesuai dengan SE Kapolri kan ditindak tegas,” kata Agus (detik.com).

Polri menyatakan tersangka kasus dugaan penistaan agama Jozeph Paul Zhang terancam dideportasi dari Jerman setelah red notice terhadap dirinya sudah diterbitkan oleh Interpol. Red notice merupakan sebuah mekanisme berupa notifikasi permintaan dari satu negara anggota Interpol ke anggota lainnya–terdiri atas ratusan negara–untuk ikut mencari hingga menangkap buronan.

“Jadi kemungkinannya, kuncinya setelah red notice dikeluarkan. Tentunya akan dikomunikasikan dengan pemerintah setempat,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Ahmad Ramadhan kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (20/4).

“Bisa dideportasi oleh KBRI Berlin di Jerman dan tentunya penyidik bisa menjemput ke sana,” tambahnya.

Ramadhan menerangkan bahwa pihaknya bakal mengomunikasikan proses tersebut melalui atase Polri yang berada di KBRI Berlin, Jerman. Proses tersebut, kata dia, akan melalui sekretariat NCB Interpol Indonesia sehingga nantinya Interpol pusat yang berada di Kota Lyon, Prancis dapat segera menerbitkan red notice.

“Indonesia dan Jerman tidak ada perjanjian ekstradisi. Tapi bukan berarti ada perbuatan pidana bangsa Indonesia di sana tidak bisa diproses, bukan begitu ya. Indonesia menganut asas teritorial dan nationality,” ucap Ramadhan.

Saat ini, kata Ramadhan, penerbitan red notice masih diproses oleh Interpol yang diprediksi memakan waktu sekitar satu minggu. Pihaknya sudah menerbitkan surat daftar pencarian orang (DPO) untuk Jozeph usai menjeratnya sebagai tersangka. Jozeph sendiri telah resmi menjadi tersangka sejak Selasa (20/4) kemarin. Dia dijerat penyidik menggunakan Pasal 28 ayat (2) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) serta Pasal 156a KUHP. Dalam video itu, Jozeph beberapa kali mengeluarkan kalimat yang dianggap mengolok-olok agama Islam (cnnindonesia.com).

Beragam Tanggapan

Sempat muncul beragam tanggapan dari sejumlah tokoh negeri atas pengakuan Joseph Paul Zhang yang menyebut diri sebagai nabi ke-26. Salah satunya datang dari Wakil Ketua Umum DPP PPP Arsul Sani. Dia meminta Polri agar berkoordinasi dengan Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM untuk mencabut paspor milik pelaku.

“Terduga pelaku berada di luar negeri sejak 2018. Langkah penarikan atau pencabutan paspor tersebut dapat dilakukan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Hukum Dan HAM RI No 8 Tahun 2014,” kata Arsul pada wartawan, Senin, 19 April 2021.

Sementara itu, Ketua Bidang Hukum dan HAM PBNU, Robikin Emhas meminta kepada seluruh umat Islam jangan terpancing dengan pernyataan yang dikatakan oleh Jozeph Paul Zhang. Menurutnya, patut diduga itu sebagai tindakan provokatif yang mungkin disengaja. “Oleh karena itu kita sebagai Muslim jangan menari diatas genderang orang lain,” kata Robikin dalam keterangannya, Senin, 19 April.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo atau akrab disapa Bamsoet juga meminta agar aparat kepolisian segera menindak secara tegas Jozeph Paul Zhang.

“Saya telah bertemu dengan sejumlah tokoh lintas agama. Saya sudah kontak Sekjen PGI Pendeta Gomar Gultom dan Romo Benny Susetyo. Kita sepakat meminta dan mendesak aparat berwajib bergerak cepat mengamankan Jozeph Paul Zhang agar segera diproses hukum,” kata Bambang Soesatyo atau Bamsoet yang dikutip dari Antara, Senin, 19 April 2021.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa selain memastikan pihak berwajib juga memastikan masyarakat tetap kondusif. Menurutnya, jangan sampai aksi Jozeph ini mengganggu ketenangan masyarakat serta kerukunan antar umat beragama.

Bamsoet berpendapat bahwa tindakan yang dilakukan oleh Jozeph Paul Zhang ini merupakan tindakan yang arogan dan sangat tidak terpuji.

“Entah apa motif yang bersangkutan membuat kehebohan yang sangat tidak mendidik di media sosial. Yang pasti, polisi harus segera menyambut tindakan arogan dari yang bersangkutan agar menjadi pelajaran bagi pihak lainnya agar tidak membuat tindakan serupa,” ujarnya.

Namun, meskipun seperti itu Bamsoet meminta masyarakat tetap tenang dan jangan terprovokasi untuk main hakim sendiri. Biarkan aparat kepolisian yang menjalankan tugasnya agar dapat membuat Jozeph bertanggung jawab atas perbuatannya (liputan6.com).

Semakin Menggila

Konten ujaran kebencian milik Jozeph Paul Zhang alias Shindy Paul Soerjomoelyono yang diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemkominfo) bertambah. “Per hari ini 20 April, telah dilakukan takedown atau pemutusan akses pada 20 konten di YouTube terkait ujaran kebencian tersebut,” ujar juru bicara Kementerian Kominfo, Dedy Permadi, dalam siaran langsung di Kemkominfo TV, Selasa (20/4/2021).

Tanggapan nyeleneh datang dari Direktur Riset SETARA Institut Halili, seperti dilansir cnnindonesia.com, ia mengatakan dalam masyarakat Indonesia, isu agama memang cenderung dengan mudah memantik emosi sosial. Padahal agama sejatinya mengajarkan keramahan.

“Kita begitu mendengar kata agama cenderung jadi sikap kita itu adalah perspektif kemarahan. Sebenarnya kan agama itu [dilahirkan ke dunia] agama [yang] ramah. Ini jadi agama marah. Ya sumbu pendek itu muncul dan jadi salah satu cermin ekspresi dari kemarahan yang berlebihan,” kata Halili kepada CNNIndonesia.com, Selasa (20/4).

Selain itu Halili juga menyoroti reaksi berlebihan penegak hukum saat sebuah kasus jadi perhatian publik. Seperti kasus penistaan agama ini. Ia menyebut hal ini tentu tak jadi contoh baik.

“Negara dalam hal ini tak bisa jadi contoh baik. Negara reaksioner,” katanya.

Reaksioner, jelasnya, negara seperti seolah menghadapi isu yang sangat besar karena ada keluhan publik. Halili secara tegas mengatakan sentimen agama yang masif berdampak pula pada sesuatu yang tak proporsional dalam kehidupan berbangsa.

“Sehingga perlu ditanggapi besar-besaran juga dan polisi memburu yang bersangkutan. Itu tindakan reaksioner,” kata dia. Halili menilai masih banyak kasus lain yang strategis dan perlu direspons cepat aparat penegak hukum. “Banyak isu yang lebih serius untuk ditanggapi kok. Kenapa menanggapi keisengan orang yang enggak ada kerjaan. Negara harus jadi contoh lebih dulu,” kata Halili. Ketua Bidang Advokasi YLBHI, Muhammad Isnur menilai aparat hukum buta konteks terkait aksi Jozeph Paul Zhang. Ia menilai tak seharusnya hal itu dianggap serius sampai dipidana.

“Ini orang sedang celoteh saja, ngapain dianggap serius sampai ke arah pidana. Harusnya ini orang ya dianggap ngaco aja,” kata Isnur (cnnindonesia).

Apa benar cukup dianggap ngaco saja? Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas, menduga yang dilakukan Jozeph Paul Zhang alias Shindy Paul Soerjomoelyono, dengan mengaku nabi ke-26 mengarah ke penistaan agama. Paul Zhang merespon pernyataan Menag tersebut.

“Pak Menteri Gus Yaqut, harusnya Pak Menteri ngomongnya nggak begitu, ‘Oke Paul, saya kerjakan GKI Yasmin dan gereja-gereja lain yang ditutup saya buka, tapi lu berhenti ya, jangan bicara gitu’. Oh ya pasti saya akan berhenti, artinya memang ada tindakan nyata,” ujar Paul dalam video YouTube seperti dilihat detikcom, Selasa (20/4/2021).

Paul juga sempat mengklaim dirinya lebih pancasilais dibanding Gus Yaqut. Hal itu dikatakannya saat dia mengaku sempat dituduh anti-Pancasila. Awalnya Paul bicara soal hoax bahwa dirinya buron. Lalu dia mengatakan hoax sebagai buah dari agama.

“Ternyata saya bisa dihubungin kan, saya nggak DPO kan, saya tidak sulit kok dihubungin. Ada masalah apa? Artinya Anda sedang didik rakyat Indonesia untuk percaya kepada hoax. Itulah buah dari agama, hoax. Agama memang dilahirkan dari hoax,” katanya.

“Beda dengan bertuhan. Coba sila pertama Pancasila bunyinya apa, bukan agama loh, bertuhan loh. Kita berapa kali kuliah Pancasila ada orang yang tuduh saya anti-Pancasila. Saya lebih pancasilais dari Anda yang salatnya gila-gilaan. Saya lebih pancasilais daripada Gus Yaqut. Haqul yakin saya lebih pancasilais dari Gus Yaqut,” tambahnya.

Dalam tayangan ini, Paul juga sempat menantang Gus Yaqut untuk berdebat soal agama. “Salah saya di mana ketika saya mengkritisi dan menganggap diri saya nabi dan saya meluruskan ajaran nabi sebelum saya. Nggak salah dong, itu kan tafsir saya. Kalau saya salah, Gus Yaqut ayo debat sama saya kalau bilang (Nabi) Muhammad nggak salah,” kata Paul.

Selain itu, dia juga mengomentari pernyataan Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Gomar Gultom yang meragukan gelar pendetanya. Paul menegaskan dirinya memiliki sertifikat sebagai pastor.

“Tapi tadi si orang PGI, Gultom lu dibacain ayat Alkitab udah kelepek-kelepek, kalau iman harus dengan perbuatan. Terus Pak Gomar Gultom ‘Paul itu bukan PGI’, ya memang gue pikirin, memang lu siapa? Saya mau jadi nabi, mau jadi pendeta, suka-suka saya, memang siapa yang melarang, makanya kalau saya kata pendeta, itu ada lagi sesuatu, di sertifikat saya tulisnya pastor,” ucapnya.

“Ya itu hak Pak Gultom, bilang nabi palsu, wong saya juga nggak kenal dia, ngapain juga saya tunjukkan keaslian saya, kamu nggak ada urusan juga,” imbuhnya (detik.com).

Terakhir, dia pun sempat membela PKI (Partai Komunis Indonesia) yang membuat kecaman publik semakin bertambah. Dan masih banyak lagi ujaran-ujaran -yang tidak bisa disebutkan satu persatu- menunjukkan bahwa yang bersangkutan perlu dicari dan diselidiki. Tidak ada yang berlebih-lebihan untuk mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah. Yang berlebih-lebihan itu adalah membiarkan penistaan terhadap agama sebagai hal yang biasa-biasa saja sehingga meresahkan masyarakat.

Terlepas ada masalah atau isu-isu lain yang lebih urgen (mendesak) untuk diselesaikan maka masyarakat memasrahkannya dan mendorong penuh kepada aparat yang berwenang untuk memeriksa. Kalau memang benar-benar gila (meskipun hal itu diragukan, karena sejak kapan orang gila bisa youtube-an?) maka perlu diobati, tidak bisa dibiarkan saja membuat keresahan. Negara wajib mengurusi setiap warga negaranya, termasuk orang gila.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *