Keluar Madzi dan Kentut Membatalkan Wudlu - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Keluar Madzi dan Kentut Membatalkan Wudlu

4 weeks ago
57
  1. عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ  قَالَ: كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ  فَسَأَلَهُ فَقَالَ: فِيهِ الْوُضُوءُ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

Dari ‘Ali ibn Abi Thalib ra, ia berkata: Aku seorang lelaki yang sering mengeluarkan madzi. Lalu aku memerintah al-Miqdad ibn al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi saw (tentang hal tersebut), dan ia pun menanyakannya kepada beliau. Lalu beliau menjawab: “Padanya wajib wudlu.” Disepakati shahihnya dan lafazhnya riwayat al-Bukhari.

 

Jamise Syar'i

Takhrij Hadits

Hadits di atas dengan lafazh hadits yang persis sama dengan yang di atas ada dalam Shahih al-Bukhari kitab al-‘ilm bab man-istahya fa amara ghairahu bis-su`al no. 132. Masih dalam Shahih al-Bukhari, dengan matan yang sedikit berbeda, tertulis dalam kitab al-wudlu bab man lam yaral-wudlu illa minal-makhrajain no. 178 dan bab ghaslil-madzyi wal-wudlu minhu no. 269. Sementara Imam Muslim menuliskan hadits di atas dalam Shahih Muslim kitab al-haidl bab al-madzyi no. 721-723.

Dalam riwayat al-Bukhari no. 178, 269, dan Muslim no. 721 disebutkan bahwa ‘Ali ra tidak berani bertanya langsung kepada Nabi saw karena merasa malu mengingat beliau ayahnya Fathimah/mertua. Namun demikian, malu ini tidak menyebabkannya meninggalkan bertanya; ia tetap bertanya tetapi dengan meminta orang lain untuk bertanya. Maka dari itu Imam al-Bukhari memberikan tarjamah/komentar dalam kitab al-‘ilm: man-istahya fa amara ghairahu bis-su`al; orang yang malu maka sebaiknya menyuruh orang lain untuk bertanya. Jangan sampai malu membuat seseorang urung untuk bertanya sama sekali.

 

Syarah Mufradat

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari menjelaskan madzi sebagai berikut:

اَلْمَذْيُ أَوِ الْمَذِيُّ وَهُوَ مَاءٌ أَبْيَضُ رَقِيقٌ لَزِجٌ يَخْرُجُ عِنْدَ الْمُلَاعَبَةِ أَوْ تَذَكُّرِ الْجِمَاع أَوْ إِرَادَته وَقَدْ لَا يُحِسُّ بِخُرُوجِهِ

Air putih yang kadarnya sedikit, lengket, yang keluar dari kelamin ketika bercumbu, mengingat atau ingin (terangsang) jima’. Sering keluar dengan sendirinya tanpa terkontrol (Fathul-Bari kitab al-ghusl bab ghaslil-madzyi wal-wudlu minhu).

 

Syarah Ijmali

Hadits di atas menjelaskan bahwa madzi atau cairan yang keluar dari kelamin ketika syahwat/birahi terangsang, membatalkan wudlu. Itu terlihat dari jawaban Nabi saw yang memerintahkan wudlu: fihil-wudlu, yang dalam riwayat lain, tawadldla`.

Di samping itu, madzinya itu sendiri najis dan harus dibersihkan. Ini berdasarkan sabda Nabi saw di riwayat lain:

تَوَضَّأْ وَاغْسِلْهُ

Berwudlulah dan cuci madzimu (Musnad Ahmad musnad ‘Ali ibn Abi Thalib no. 1026).

Dalam riwayat al-Bukhari  yang diperintahkan untuk dicuci itu adalah dzakar:

تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ

Berwudlulah dan cuci dzakarmu (Shahih al-Bukhari kitab al-ghusl bab ghaslil-madzyi wal-wudlu minhu no. 269)

Akan tetapi maksudnya menurut Ibn Hajar, berdasarkan hadits riwayat Ahmad ini, bukan semua dzakarnya, tetapi bagian dzakar yang terkena madzi. Artinya yang wajib dicuci itu adalah madzinya. Demikian juga jika madzi tersebut kena pada pakaian, maka pakaian itu harus dicuci, tidak perlu semuanya, tetapi yang terkena madzi saja.

 

  1. وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ  إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ: أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا؟ فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ اَلْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا. أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian merasakan sesuatu dalam perutnya yang membuatnya ragu apakah sudah keluar angin atau belum, maka janganlah ia keluar dari masjid sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” Muslim mengeluarkannya.

 

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim kitab al-haidl bab ad-dalil anna man tayaqqanat-thaharah tsumma syakka fil-hadats fa lahu an yushalliya bi thaharatihi tilka no. 831.

Al-Hafizh dalam Bulughul-Maram juga mencantumkan hadits lain yang semakna di bagian akhir bab Pembatal Wudlu ini, yakni hadits no. 89-92. Disebabkan ada keterkaitan tema, maka berikut ini disajikan langsung hadits-hadits yang dimaksud sesudah hadits ini secara bersamaan karena terdapat kesamaan pembahasan/syarah.

 

  1. وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ  قَالَ: يَأْتِي أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ فِي صَلَاتِهِ فَيَنْفُخُ فِي مَقْعَدَتِهِ فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ أَحْدَثَ وَلَمْ يُحْدِثْ, فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ فَلَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا. أَخْرَجَهُ الْبَزَّارُ.

Dari Ibn ‘Abbas ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Setan mendatangi salah seorang di antaramu dalam shalatnya, lalu setan meniup tempat duduknya, sehingga dikhayalkan kepada orang itu bahwasanya ia sudah hadats padahal belum hadats. Jika ia merasakan hal itu janganlah berpaling sampai mendengar suara atau mencium bau.” Al-Bazzar mengeluarkannya.

  1. وَأَصْلُهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ.

Asalnya ada dalam dua kitab Shahih dari hadits ‘Abdullah ibn Zaid.

  1. وَلِمُسْلِمٍ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ نَحْوُهُ.

Dalam riwayat Muslim ada juga yang sama dari Abu Hurairah.

  1. وَلِلْحَاكِمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعًا: إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ فَقَالَ: إِنَّكَ أَحْدَثْتَ, فَلْيَقُلْ: كَذَبْتَ. وَأَخْرَجَهُ ابْنُ حِبَّانَ بِلَفْظِ: فَلْيَقُلْ فِي نَفْسِهِ.

Dalam riwayat al-Hakim dari Abu Sa’id secara marfu’: “Apabila setan datang kepada salah seorang di antaramu lalu berkata: ‘Sungguh kamu telah hadats.’ Hendaklah ia berkata: ‘Kamu dusta.” Ibn Hibban mengeluarkannya dengan lafazh: “Hendaklah ia berkata dalam hatinya.”

 

Takhrij Hadits

Hadits no. 89 diriwayatkan dalam Musnad al-Bazzar bab musnad Ibn ‘Abbas no. 281. Sementara riwayat ‘Abdullah ibn Zaid dalam Shahihain (no. 90) matan lengkapnya sebagai berikut:

عَنْ عَبَّادٍ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ الرَّجُلُ الَّذِي يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ لَا يَنْفَتِلْ أَوْ لَا يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Dari ‘Abbad ibn Tamim, dari pamannya, ia menceritakan ada seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah saw bahwa ia tiba-tiba berkhayal (terbawa lamunan) merasakan sesuatu (kentut) ketika shalatnya, maka beliau menjawab: “Jangan berhenti sampai mendengar jelas suara (kentut) atau mencium baunya.” (Shahih al-Bukhari kitab al-wudlu bab man la yatawadldla`u minas-syakk hatta yastaiqina no. 137; Shahih Muslim kitab al-haidl ad-dalil anna man tayaqqanat-thaharah tsumma syakka fil-hadats fa lahu an yushalliya bi thaharatihi tilka no. 831 no. 830. Paman ‘Abbad ibn Tamim yang tidak disebutkan namanya dalam riwayat di atas, menurut Imam Muslim, dijelaskan oleh Zuhair dan Abu Bakar ibn Abi Syaibah bernama ‘Abdullah ibn Zaid)

Sementara riwayat Muslim dari Abu Hurairah (no. 91) adalah hadits no. 77 dalam Bulughul-Maram dan telah dicantumkan di atas.

Hadits no. 92 yang diriwayatkan al-Hakim dari Abu Sa’id al-Khudri, matan lengkapnya sebagai berikut:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ وَإِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ فَقَالَ: إِنَّكَ أَحْدَثْتَ فَلْيَقُلْ كَذَبْتَ إِلَّا مَا وَجَدَ رِيحًا بِأَنْفِهِ أَوْ سَمِعَ صَوْتًا بِأُذُنِهِ

Apabila seseorang di antaramu shalat lalu ia tidak tahu sudah berapa raka’at ia shalat, maka sujudlah dua kali sujud ketika ia duduk. Dan apabila setan datang kepada seseorang di antaramu lalu mengatakan: “Sungguh kamu telah berhadats.” Maka jawablah olehmu: “Kamu bohong.” Kecuali jika ia mencium bau (kentut) dengan hidungnya atau mendengar suaranya dengan telinganya (al-Mustadrak ‘alas-Shahihain kitab at-thaharah bab idza shallar-rajul fa lam yadri kam shalla no. 464)

Untuk riwayat Ibn Hibbannya, tidak jauh beda dengan riwayat al-Hakim di atas, hanya berbeda di lafazh yang Ibn Hajar sebutkan dalam Bulughul-Maram di atas:

إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ فَقَالَ: إِنَّكَ قَدْ أَحْدَثْتَ، فَلْيَقُلْ فِي نَفْسِهِ: كَذَبْتَ، حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا بِأُذُنِهِ، أَوْ يَجِدَ رِيحًا بِأَنْفِهِ

Apabila setan datang kepada seseorang di antaramu lalu mengatakan: “Sungguh kamu telah berhadats.” Maka jawablah olehmu dalam hati: “Kamu bohong.” Kecuali jika ia mencium bau (kentut) dengan hidungnya atau mendengar suaranya dengan telinganya (Shahih Ibn Hibban kitab as-shalat bab sujudis-sahwi no. 2666).

 

Syarah Ijmali

Hadits-hadits di atas menjelaskan bahwa kentut membatalkan wudlu. Akan tetapi jika kasusnya baru sebatas diragukan apakah sudah kentut atau belum; baik itu disebabkan masuk angin dan merasakan kurang enak di perut (hadits no. 77) atau tiba-tiba terlintas di pikiran sudah kentut atau belum (hadits no. 89-92) maka hukum yang berlaku belum kentut. Meski kemungkinannya ada dua; sudah kentut atau belum, tetapi hukum yang berlakunya satu; belum kentut. Sebab ia pada asalnya/yang paling awalnya sedang yakin belum kentut, lalu ragu kentut, maka yang meragukan itu tidak diambil, yang diambil yang meyakinkan. Dari hadits seperti ini lahirlah qa’idah fiqh:

اَلْيَقِيْنُ لاَ يُزَالُ بِالشَّكِّ

Yakin tidak hilang dengan ragu.

اَلْأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ

Yang pokok itu tetapnya sesuatu dalam keadaannya semula.

Maksudnya, sesuatu yang yakin tidak bisa gugur dengan sesuatu yang masih ragu. Dalam kasus hadits di atas, suci itu yang yakin karena sudah berwudlu. Inilah yang pokok karena baqa`u ma kana ‘ala ma kana; yang semulanya memang sudah wudlu dan belum batal. Perasaan “merasa batal” karena banyak angin di perut atau terlintas lamunan sudah kentut, itu masih meragukan. Maka shalat dan wudlu tidak batal selama belum yakin bahwa kentut sudah benar-benar keluar, ditandai dengan mendengar/merasakan suaranya atau mencium baunya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *